New Normal atau New Disaster?



Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menyatakan new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Pemerintah menetapkan Provinsi Bali, Yogyakarta dan Kepulauan Riau menjadi proyek percontohan pertama penerapan protokol tatanan hidup normal baru alias new normal dalam rangka pemulihan ekonomi di sektor pariwisata yang terpuruk akibat pandemi virus corona.

New Normal dan Potensi Bahayanya Bagi Masyarakat

Rencana menghadapi new normal ini sangat berbahaya dan dapat menjadi new disaster, bencana baru, karena berpotensi meningkatkan risiko penularan Covid-19 di masyarakat. Berdasarkan penelitian, sekitar 80% kasus Covid-19 adalah kasus infeksi tanpa gejala.

Peneliti epidemiologi dari Eijkman -Oxford Clinical Research Unit Henry Surendra mengatakan jika yang dituju pemerintah dengan melakukan pengurangan pembatasan sosial adalah menciptakan herd immunity , maka rencana itu sangat berbahaya

Dibutuhkan sekitar 70% populasi yang berarti sekitar 190 juta orang Indonesia untuk terinfeksi baru herd imunity tercapai. Ini berpotensi menimbulkan banyak korban jiwa

Spesialis Kesehatan Masyarakat, Prof dr Hasbullah Thabrany menyatakan banyak penyakit yang disebabkan oleh virus dapat menghasilkan kekebalan.
Namun, untuk mendapatkan kekebalan untuk seluruh masyarakat tanpa vaksinasi, mengingat vaksin untuk virus corona ini belum ditemukan, maka sekitar 80-85 persen masyarakat harus terkena infeksi terlebih dahulu. Apa artinya? misalnya 80 persen dari 260 juta masyarakat, maka minimal 200 juta orang yang harus terinfeksi. Dari 200 juta minimal 6 persennya mati, maka herd immunity bahaya sekali.

Membiarkan kekebalan alamiah muncul sendiri di masyarakat dalam kondisi pandemi tanpa adanya vaksinasi massal sama dengan membiarkan setiap orang menghadapi ancaman kematian massal.

Herd immunity dengan cara seperti ini menjadikannya berkonotasi negatif, karena proses timbulnya herd immunity setelah terjadi infeksi secara alami dan menyebar secara cepat dan menimbulkan kematian yang tidak sedikit.

Konsekuensi menciptakan herd immunity tanpa vaksin bisa memakan banyak kematian akibat terinfeksi Covid-19 dan membutuhkan waktu panjang

Perhatian Islam Terhadap Wabah

Dalam Islam, Setidaknya ada empat hal yang harus kita perhatikan dengan saksama, sehingga kita tidak salah dalam mengambil keputusan. Keempat hal ini adalah kaidah “as-sababiyah” (kausalitas = sebab akibat), memperhatikan pendapat ahli, memperhatikan ahkam dharar, dan yakin qadha Allah dan bertawakal pada Allah SWT. Dan jika kita peras, sesungguhnya semua bermuara pada kaidah as-sababiyah

1. Kaidah “as-sababiyah” (kausalitas = sebab akibat) : 
Syekh Abdul Karim as-Saamiy dalam kitabnya As-Sababiyah, Qoidatu Injazi al’Amali wa Tahqiqi al Ahdafi menyatakan bahwa as–sababiyah adalah upaya mengaitkan sebab-sebab fisik dengan akibat-akibatnya yang juga bersifat fisik dalam rangka mencapai target dan tujuan tertentu

2. Memperhatikan pendapat ahli
Rasulullah SAW sebagai pemimpin, telah mencontohkan kepada kita agar memperhatikan pendapat orang-orang ahli atau ahlil khubroh jika itu berkaitan dengan pemikiran, strategi, atau pada hal-hal yang diperlukan adanya pendapat ahli.

Salah satu contohnya adalah berkaitan dengan penentuan markas kaum muslimin ketika perang Badar, maka Rasulullah merujuk pada pendapat sahabat Khubab. (Syakhshiyah Islamiyyah jilid 1, karya Syekh Taqiyyuddin An-Nabhaniy).

Dan ketika pun seorang penguasa merujuk kepada pendapat ahli, tidak berarti citra atau prestisenya turun, justru terpuji karena ia merujuk pada yang benar dan tentunya akan menyelamatkan rakyatnya

3. Memperhatikan ahkam dharar
Dalam kitabnya Taysir Al-Wushul Ilaa Al- Ushul, Syaikh Atha’ bin Khalil Abu Rusytah mengungkapkan bahwa kaidah dharar mencakup dua hal: Pertama, Asy-Syâri’ telah mengharamkan sesuatu yang membahayakan (dharar). Artinya, setiap perkara yang mengandung dharar wajib ditinggalkan. Sebab, adanya dharar tersebut merupakan dalil atas keharamannya

# أَبيِ سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ سِنَانِ اْلخُدْرِي رَضِيَ الله ُعَنْهُ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ”

Dari Abu S’aid, Sa’d bin Sinan al-Khudry RA, bahwasanya Rasulullah (Saw.) bersabda, “Tidak boleh (ada) bahaya dan menimbulkan bahaya.” (HR Ibnu Majah)

مَنْ ضَارَّ مُسْلِمًا ضَارَّهُ اللهُ، وَمَنْ شَاقَّ مُسْلِمًا شَقَّ اللهُ عَلَيْهِ.

“Barang siapa membahayakan seorang muslim, maka Allah pasti membahayakan dirinya; dan barangsiapa menyengsarakan seorang muslim maka Allah pasti menyengsarakannya.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi)

4. Yakin Qadha Allah dan bertawakal pada Allah SWT
Keimanan terhadap qadha akan berpengaruh positif terhadap aktivitas manusia dalam keadaaan apa pun. Keyakinan tersebut akan mendorongnya untuk melakukan aktivitas, bukan malah menjadikannya sebagai fatalis. Karena selama sebab-sebab yang menghantarkan terhadap tujuan itu masih berada dalam lingkaran yang dikuasainya, dia masih bisa untuk mengupayakannya

Sebagaimana firman Allah SWT: “Apabila kamu ditolong oleh Allah, maka tidak akan ada yang sanggup mengalahkan kamu dan menghinakan kamu. Maka siapakah yang dapat menolong kamu setelah (pertolongan) Allah? Dan kepada Allah-lah orang-orang beriman hendaknya bertawakkal.” (QS Ali-Imran: 160).

Namun bukan berarti dengan bertawakal kepada Allah berarti meninggalkan hukum sebab-akibat. Sebab mesti dibedakan antara akidah dan hukum syara’

Tawakal termasuk wilayah akidah, sedangkan kewajiban mengusahakan as–sababiyah adalah masalah hukum syara’.

Dengan mafhum (pemahaman) tawakal seperti ini, maka pengemban dakwah akan memiliki semangat dan kekuatan luar biasa untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, terutama mewujudkan tujuan untuk mengembalikan kehidupan Islam

Demikianlah tuntunan Islam untuk kita semua –siapa pun kita– mengharuskan kita tunduk dan patuh terhadap syariat. Islam dengan rinci menuntun kita untuk merujuk kepada setidaknya empat poin ini ketika kita hendak bersikap berkaitan dengan rencana new normal life ini

Terlebih kepada penguasa atau kepala negara, ketika hendak mengambil kebijakan ini, sudah seharusnya ia memperhatikan bahkan bertanya kepada ahlil hubrah ‘orang-orang ahli/pakar’ terkait masalah ini, dalam hal ini tenaga medis, ahli epidemiologi, dan sebagainya, seharusnya mempertimbangkan dengan saksama apakah akan memberikan kemudharatan pada rakyatnya atau tidak

Satu nyawa kaum muslimin saja yang hilang, maka ia harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Apakah saat ini, di tengah pandemi yang kurvanya justru masih tinggi bahkan masih terus meningkat, atau sudah ke titik nol, sehingga bisa memastikan tepatkah kebijakan ini diterapkan

Padahal WHO dan beberapa pakar kesehatan yang ada di Indonesia pun telah menyampaikan syarat-syarat dan pendapatnya terkait dengan new normal ini.

Di sisi lain, penguasa seharusnya mengupayakan upaya maksimal, menempuh sebab-sebab yang bisa mempercepat proses penyelesaian masalah ini, tidak membiarkan rakyat sendiri menyelesaikan permasalahan ini, kemudian menempuh jalan new normal untuk menyelesaikan masalah ekonomi tanpa memperhatikan nasib nyawa rakyatnya

Sudahkah menyisir seluruh aset-aset negara, mengelola sumber daya alam yang ada untuk membiayai kebutuhan negara dan rakyatnya demi menyelesaikan permasalahan ini? Atau bahkan mendorong pengorbanan para penguasa dan aparatnya serta “petinggi-petinggi” negara untuk membantu rakyatnya?

Sesungguhnya kesungguhan penguasa dan upaya maksimal penguasa dalam meriayah rakyatnya akan membantu meringankan beban rakyat

Demikian halnya umat Islam, sungguh pun jika penguasa tetap menurunkan kebijakan new normal, dengan alasan untuk memulihkan ekonomi tanpa memperhatikan bagaimana nasib nyawa rakyatnya, maka terkait dengan aktivitas individu sesungguhnya kita pun sudah bisa bersikap dengan merujuk kepada pendapat ahli. Karena mereka lebih berkompeten dalam hal ini, bagaimana pun kita harus menjaga diri dari kebinasaan dan kemudaratan

Kita pahami dengan benar, bahwa kejadian ini adalah ketetapan Allah, hanya saja kita tidak bersikap pasrah atau fatalis, tetapi sudah seharusnya kita mempertimbangkan segala sesuatunya.

Menyiapkan segala sesuatunya dengan maksimal dan seksama, memperhatikan pendapat orang-orang yang ahli di bidang kesehatan dan sebagainya yang berkaitan dengan pandemi ini. Menimbang baik buruknya, apakah justru menimbulkan kemudaratan bagi kita atau keluarga kita

Di samping itu, setiap muslim harus menyadari bahwa terjadinya pandemi dalam waktu yang lama sudah seharusnya kita yakini bahwa ini semua adalah dengan izin Allah, sebagai musibah, ujian, dan teguran sayangnya Allah untuk kita semua.

Yakin bahwa ini adalah ketetapan Allah yang akan menjadikan kita bersabar menghadapi pandemi ini, sambil terus berupaya keras dan maksimal menjalani semua aktivitas-aktivitas kita, melaksanakan peran-peran kita dengan baik sebagai ibu, istri, anak, ataupun bagian dari masyarakat, walaupun saat ini sebagian besar aktivitas kita lakukan di rumah dengan tetap memperhatikan kesehatan diri dan keluarga kita. Kita yakin, bahwa banyak sekali hikmah yang Allah berikan bagi kita atas kejadian ini.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

#Firman Allah (SWT): “Wa man yu’min billaahi yahdi qalbahu”, dalam tafsir Jalalain dijelaskan bahwa Allah akan memberikan kesabaran kepada orang-orang mukmin dalam menghadapinya, sedangkan Ibnu Katsir menyatakan bahwa Allah akan menganugerahkan hidayah (petunjuk Allah kepadanya), akan menggantikan perkara dunia yang hilang darinya bahkan menggantinya dengan yang lebih baik, dan Allah akan menggantinya dengan petunjuk di dalam hati dan keyakinan yang benar

Kesimpulan : 

Rencana menghadapi new normal ini sangat berbahaya dan dapat menjadi new disaster, bencana baru, karena berpotensi meningkatkan risiko penularan Covid-19 di masyarakat. Berdasarkan penelitian, sekitar 80% kasus Covid-19 adalah kasus infeksi tanpa gejala.

Bukti-buktinya sudah sangat jelas, berdasarkan data-data yang ada, kasus Covid-19 di Indonesia masih cenderung meningkat. Jangan sampai kebijakan new normal life justru memunculkan datangnya gelombang kedua yang semakin besar bahayanya bagi umat. Naudzu billahi min dzalik

Seharusnya bertanya kepada ahlil hubrah ‘orang-orang ahli/pakar’ terkait masalah ini, dalam hal ini tenaga medis, ahli epidemiologi, dan juga seharusnya mempertimbangkan dengan saksama apakah akan memberikan kemudharatan pada rakyatnya atau tidak.

Protokol new normal adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada para kapitalis, tanpa mempertimbangkan sisi kesehatan masyarakat

Kebijakan ini sebenarnya hanya bentuk berlepas dirinya pemerintah dari tanggung jawab mengurus rakyat hingga rela mengorbankan nyawa rakyat dengan alasan ingin menggerakkan kembali sektor ekonomi yang lumpuh akibat pandemi. Ketika new normal dijalankan belum tentu ekonomi bisa pulih, akibatnya bisa jadi ekonomi semakin terpuruk, karena tambahan beban dalam penanganan kasus infeksi baru Covid 19.

Mari dakwah untuk menyelamatkan keluarga kita, dan bahkan menyelamatkan umat dengan terus mengopinikan ke tengah-tengah umat dan melakukan kritik terhadap penguasa, bahwa kebijakan yang dilakukan akan memberikan dampak berbahaya bagi umat

 Wallahu a’lam bishshawwab.

Oleh : Imanda Amalia, SKM, MPH 
Strategist Helps Sharia, Founder Rumah Syariah Institute

Posting Komentar

0 Komentar