TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

New Normal, Akankah Bawa Perbaikan?


Pemerintah akan segera melonggarkan aktivitas sosial serta ekonomi dan bersiap kembali beraktivitas dengan skenario new normal. Rencananya, akan diterapkan pada lingkungan kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Dwi Wahyu Atmaji mengatakan skenario ini merupakan pedoman yang disiapkan agar PNS dapat bekerja optimal selama vaksin Corona belum ditemukan. Dia mengatakan waktu penerapan skenario kerja 'new normal' ini akan bergantung pada arahan dari Gugus Tugas covid -19.

Ajakan untuk menjalankan kehidupan new normal semestinya direspons dengan panduan program yang jelas. Jika tidak, Indonesia akan berpotensi mengalami kegagalan sosial.

Bagi umat muslim di dunia, tahun ini adalah istimewa dan menjadi batu uji yang sangat besar. Wabah ini, mengharuskan siapa pun membatasi pergaulan sosial, perekonomian yang carut marut hingga harus melewati tahun ini di tengah berbagai kesulitan hidup.

Parahnya, gaungan berdamai dengan corona terus dikumandangkan. Para pejabatnya terus mengajak rakyat agar terus bersiap menerima fakta, bahwa kehidupan tak mungkin kembali seperti semula. Mereka meminta rakyat menjalani hidup “normal” di tengah ancaman wabah corona.

Dari sini nampak bahwa penguasa memilih opsi angkat tangan dalam menyikapi pandemi,  karena melawan wabah ternyata butuh usaha yang besar dan waktu yang berkepanjangan. Mereka tidak mau direpotkan untuk menyelesaikan wabah, dengan alasan daya keuangan negara yang semakin surut.

Maka tak heran, jika bagi para penguasa, “berdamai dengan corona” menjadi pilihan “terbaik” di tengah rasa putus asa atas ketidakmampuan memberi jalan keluar. Maka apa boleh buat, kita harus berdamai bahkan bersahabat dengan corona.

Dimuat dalam lamannya melalui artikel tertanggal 27 April 2020 bertajuk “A New Normal: UN lays out roadmap to lift economies and save jobs after Covid-19” (New Normal: Peta jalan yang diletakkan PBB bagi peningkatan ekonomi dan penyelamatan lapangan pekerjaan setelah Covid-19. Dinyatakan, “Kondisi ‘normal yang dulu’ tidak akan pernah kembali, sehingga pemerintah harus bertindak menciptakan ekonomi baru dan lapangan pekerjaan yang lebih banyak.

Bahkan “new normal” telah ditetapkan PBB sebagai kerangka kerja dunia, dan dipromosikan untuk suatu kehidupan baru yang lebih baik. Mirisnya, sebagai negara pengekor, Indonesia dengan mudah ikut termakan propaganda. Narasi berdamai dengan corona seolah-olah menjadi satu-satunya jalan penyelesaian masalah

Wabah corona memang telah memberi kita banyak pelajaran. Salah satunya bahwa kekuasaan yang tak berbasis pada akidah Islam hanya akan melahirkan kerusakan. Berbeda jauh dengan kekuasaan yang tegak di atas landasan iman. Kekuasaan Islam telah terbukti membawa kebaikan dan keberkahan bagi seluruh alam. Karena sistem hidup yang diterapkannya berasal dari Sang Maha Pencipta Kehidupan.

Kekuasaan Islam yang disebut sebagai Khilafah, senantiasa menempatkan urusan umat sebagai urusan utama. Harta, kehormatan, akal, dan nyawa rakyatnya dipandang begitu berharga. Pencederaan terhadap salah satu di antaranya, dipandang sebagai pencederaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Karena semuanya adalah jaminan dari penegakan hukum syara’.

Sudah saatnya umat kembali ke pangkuan sistem Islam. Negara dan penguasanya siap menjalankan amanah sebagai pengurus dan perisai umat dengan akidah dan syariat. Hingga kehidupan akan kembali dilingkupi keberkahan dan kemuliaan. Sebagaimana Allah SWT telah memberi mereka predikat bergengsi, yaitu sebagai sebaik-baiknya umat.


Oleh Ani Susilowati

Aliansi Penulis Rindu Islam


Posting Komentar

0 Komentar