Negeri Perlombaan: Full Sensasi Minim Reaksi


Pandemi corona yang melanda negeri ini belumlah berakhir sampai di sini. Jumlah keganasan virus ini masih tinggi dan hampir seluruh daerah terjangkiti virus ini. Jawa Timur adalah salah satu Provinsi yang jumlah kasusnya cukup tinggi. Bahkan sampai hari ini Jawa Timur ditetapkan sebagai zona hitam. Artinya Jawa Timur darurat Corona.

Di tengah angka penyebaran virus corona yang masih meninggi. Kita mendapatkan kabar yang cukup mengagetkan dari provinsi yang beribukota Surabaya. Provinsi Jawa Timur (Jatim) menjadi salah satu pemenang lomba inovasi tatanan normal baru (new normal) yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Padahal, saat ini jumlah kasus positif Covid-19 di Jatim tertinggi nomor dua di Indonesia yaitu mencapai 9.542 kasus.

Jatim dinobatkan sebagai juara pertama dalam kategori tata normal baru sektor pasar modern. Kemudian juara dua di kategori sektor tempat wisata. Dengan raihan tersebut, Jatim diganjar dana insentif daerah sebesar Rp5 miliar.

“Soal penghargaan yang kita dapat sesungguhnya ini inisiasi baru pada saat kita harus melakukan operasi pasar,” kata Gubernur Jawa Timur Khofifah Indarparaswansa, Senin (22/6/2020).  (SindoNews.com, Senin 22/06/2020)

Jelas kondisi ini kontra produktif dengan keadaan. Ditengah kondisi pandemi yang masih tinggi Pemerintah Daerah Jawa Timur menerapkan kebijakan New Normal. Hal ini mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat dengan memenangkan lomba. Jika kita tarik benang merah maka perlombaan ini tidaklah efektif dikarenakan:

Pertama, tidak menyentuh akar masalah. Permasalahan utama masyarakat Jatim adalah upaya serius dari pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Pasalnya keadaan daerah di Jatim adalah sudah darurat corona. Banyak rakyat dan tenaga medis yang menjadi korban keganasan virus ini. Karantina wilayah adalah solusi jitu untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Bukan New Normal, pasalnya hal ini akan menambah pasien corona semakin bertambah. New Normal ditandai dengan dibukanya fasilitas umum hal ini akan menambah jumlah rakyat yang terpapar virus corona. 

Kedua,  kebijakan yang dipaksakan. New Normal adalah kebijakan Pemerintah Daerah yang dipaksakan. Pasalnya Jatim bulum memenuhi kreteria wilayah yang bisa diberlakukan New Normal. Menurut WHO ada 6 kreteria suatu daerah bisa di terapkan New Normal. 

Menurut WHO ada enam kriteria suatu daerah bisa diterapkan New Normal. Keenam kreteria tersebut antara lain: 1) negara yang akan menerapkan konsep new normal harus memiliki bukti bahwa penularan Covid-19 di wilayahnya telah bisa dikendalikan. 2) sistem kesehatan yang ada sudah mampu melakukan identifikasi, isolasi, pengujian, pelacakan kontak, hingga melakukan karantina orang yang terinfeksi. Sistem kesehatan ini mencakup rumah sakit hingga peralatan medis. 3) risiko wabah virus corona harus ditekan untuk wilayah atau tempat dengan kerentanan yang tinggi. 4) penetapan langkah-langkah pencegahan di lingkungan kerja. 5) resiko terhadap kasus dari pembawa virus yang masuk ke suatu wilayah harus bisa dikendalikan. 6) masyarakat harus diberikan kesempatan untuk memberi masukan, berpendapat dan dilibatkan dalam proses masa transisi menuju new normal. (Republika.co sabtu 30/05/2020)

Dari sini jelas Jatim belum memenuhi satu kreteria pun dari yang ditentukan oleh WHO. New Normal ini kebijakan yang mengikuti titah penguasa tanpa memperhatikan kondisi wilayah dan masyarakat. Akibat penerapan New Normal ini lonjakan korban corona semakin bertambah dan banyak dokter yang tumbang. 

Ketiga, menyakiti hati masyarakat Jatim.
Di tengah dokter dan NaKes yang berjuang melawan ganasnya virus corona Pemerintah Daerah Jatim sedang getol-getolnya mempersiapkan New Normal. Padahal dokter dan NaKes membutuhkan pemerintah untuk turun tangan melihat kondisi mereka. Mereka membutuhkan dana dan perhatian dari pemerintah. Mereka membutuhkan fasilitas rumah sakit (RS) yang memadahi sehingga pasien corona bisa segera disembuhkan. Bukan mempersiapkan lomba yang tidak tau untuk apa?

Jumlah dokter dan NaKes yang meninggal di Jatim angkanya cukup tinggi. Sampai tanggal 15 Juni 2020, tercatat ada 175 tenaga kesehatan di Jawa Timur yang terpapar COVID-19. "Yang meninggal dunia ada tiga persen. Dari jumlah tersebut yang paling banyak terpapar virus adalah dokter dan perawat, tapi paling banyak masih perawat," kata Ketua Rumpun Tracing Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jatim, Kohar Hari Santoso, pekan lalu (15/06). (Tempo.co rabu, 24/06/2020)

Bahkan kita mendengar dari JaTim ada satu keluarga yang meninggal karena terpapar virus corona. Salah satu dari anggota keluarga itu adalah seorang dokter. Dugaan kuat bagian dari penyebaran mata rantai Corona Virus Disease 2019 (Covid 19) dengan adanya korban meninggal secara beruntun satu keluarga di wilayah Kecamatan Kedungdung Sampang Madura. (suarajatim.id senin, 15/06/2020). Ini adalah keadaan yang darurat. Nyawa masyarakat melayang sia-sia. 

Keempat, perlombaan full sensasi minim reaksi. Jelas perlombaan ini full sensasi tapi minim reaksi. Masyarakat butuh pemimpin untuk terjun menyelesaikan masalahnya. Masyarakat Jatim banyak yang menjerit karena kehilangan pekerjaan dan tak sedikit dari rakyat yang menderita kelaparan. Yang dibutuhkan rakyat adalah reaksi nyata dari pemerintah. Bukan membuat perlombaan yang hanya berbuah sensasi. Pertanyaannya apakah dengan Jatim memenangkan lomba akan merubah kondisi lebih baik? Atau merubah nasib rakyat?

Hari ini rakyat butuh pemimpin yang amanah dan punya kebijakan yang tegas untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Nyawa rakyat jangan dikorbankan demi sensasi. Dalam pandangan Islam satu nyawa manusia sangatlah berharga. Oleh karena itu ketika ada wabah penyakit maka dalam Islam yang diutamakan adalah menyelamatkan nyawa manusia. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah "Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Sangat disayangkan, nyawa seorang muslim harus hilang untuk sesuatu yang sangat tidak jelas.

Selain itu Rasulullah juga memberikan tuntutan terkait menghadapi wabah penyakit. Seperti diriwayatkan dalam hadits: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari)

Rasulullah SAW juga memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar.

Hal yang terpenting dalam Islam adalah menjamin kebutuhan pokok warganya. Kebutuhan pokok tersebut antara lain sandang, pangan, papan dan pekerjaan. Dalam Islam laki-laki wajib berkerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, keluarga serta anak dan istrinya. Jika laki-laki tersebut tidak mampu berkerja karena alasan tertentu maka kebutuhannya ditanggung oleh sanak kerabatnya.

Jika sanak kerabatnya juga tidak mampu maka negara yang akan menanggungnya. Negara dengan Baitul Maalnya akan menanggung nafkah bagi orang-orang yang tidak mampu bekerja dan berusaha. Jika negara tidak mampu maka seluruh kaum muslimin wajib menanggungnya. Ini direfleksikan dengan penarikan pajak oleh negara kepada orang-orang yang mampu. Setelah itu didistribusikan kepada orang-orang yang membutuhkan. 

Kebijakan yang tegas dan jelas diambil oleh penguasa Islam. Rakyat membutuhkan reaksi nyata dari penguasa bukan sensasi belaka.[]

Oleh Siti Masliha, S.Pd 
Aktifis Muslimah Peduli Generasi

Posting Komentar

0 Komentar