TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Muhasabah di Balik Gagalnya Keberangkatan Haji


Ada kesedihan mendalam yang dirasakan umat muslim di seluruh dunia. Selain karena pandemi virus Corona yang merubah seluruh tatanan kehidupan manusia, juga dikarenakan tahun ini umat muslim khususnya para calon jemaah haji terancam gagal untuk melaksanakan ibadah haji. Walaupun sebagian pihak menilai pemerintah kita terburu-buru dalam menetapkan Pembatalan ibadah haji tahun ini, pemerintah melalui Menteri Agama Fachrul Razi mengumumkan untuk membatalkan Keberangkatan jemaah haji tahun ini, sebagaimana dilansir pada media harian online Bisnis.com pada tanggal 02 Juni 2020.

"Kementerian Agama memutuskan tidak memberangkatkan jemaah haji 2020 tahun hijriyah 1441, berdasarkan Keputusan Menteri Agama nomor 494 tahun 2020 tentang pembatalan pemberangkatan jemaah haji".Ujarnya ketika 
Fachrul Razi dalam live streaming pengumuman pembatalan pemberangkatan jemaah haji 2020.

Fachruk Razi menegaskan keputusan pembatalan melalui kaijan yang sangat mendalam karena pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan Araba Saudi dapat mengancam keselamatan jemaah. "Ini yang menjadi menjadi dasar pertimbangan," lanjut Menag.

Bila memang pemerintah kita telah final untuk tidak memberangkatkan para jemaah ke tanah suci, maka hendaknya kita bersabar sembari merenungi dan memikirkan apa yang tengah terjadi saat ini. Tentu saja Alloh tidak semata-mata mentakdirkan peristiwa ini terjadi tanpa adanya hikmah bagi kita selaku makhluknya.Bukankah setiap tahun negara kita selalu mengirimkan para jemaah haji yang jumlahnya tidaklah sedikit. Tahun ini yang seharusnya berangkat  berjumlah 221.000. Jumlah ini terdiri dari 203.320 kuota haji reguler dan 17.680 kuota haji khusus. Belum lagi tahun-tahun sebelumnya, ada lebih dari puluhan ribu jemaah yang berangkat.

Namun sayang, spirit spiritual yang seharusnya di dapat ketika melaksanakan ibadah haji tak lantas berpengaruh pada tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Semangat ketaatan dan pengorbanan, penegasan pengesaan Alloh SWT yang harus ada ketika berhaji hendaknya dibawa juga ke tanah air dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, Begitu juga dengan pengajaran menahan emosi dan permusuhan saat harus berhadapan dengan orang-orang yang berbeda negara dan wilayah ketika di tanah suci, hendaknya juga tercermin dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat.

Alloh SWT mungkin hendak menegur kita, melalui peristiwa pandemi ini yang mengakibatkan Gagalnya puluhan ribu jemaah untuk dapat berangkat haji tahun ini. Bahwa kita belumlah sungguh-sungguh dalam mengaplikasikan ketaatan kepadaNya. Karena sesungguhnya ketaatan kepada Alloh haruslah ketaatan totalitas tanpa kecuali. Baik untuk individu muslim, masyarakatnya maupun bernegara.

Ketaatan ini tercermin dalam kepatuhan kita terhadap apapun yang Alloh SWT kabarkan baik itu yang tertulis dalam Al Qur'an ataupun melalui lisan Nabi Muhammad Saw.

Begitupun dengan kepedulian kita terhadap sesama muslim. Jika saat berhaji jemaah saling menghormati dan saling menjaga antara satu sama lain, berusaha untuk menahan Diri dari perbuatan tidak menyenangkan kepada sesama jemaah walaupun berbeda suku,bangsa dan negara, maka hendaknya sikap seperti itu tercermin pula ketika sampai di tanah air. Kita hendaknya peduli terhadap saudara kita di Rohingya, Kashmir, Palestina ,Uighur juga di negara-negara lainnya yang dimana terjadi diskriminasi dan penindasan kepada saudara-saudara kita. Dan berusaha untuk mencarikan solusi agar diskriminasi dan penindasan ini segera berakhir. Itulah bentuk persatuan hakiki yang seharusnya ada sebagaiman saat para jemaah melaksanakan ibadah haji di tanah suci.

Untuk itu marilah kita memahami dengan sebenarnya tentang setiap ibadah yang kita laksanakan. Karena ibadah bukan hanya melaksanakan ritual keagamaan semata melainkan yang lebih penting adalah esensi dari peribadahan tersebut, yaitu ketaatan kepada sang maha pencipta secara totalitas dan penafikan sekutu baginya. Yang harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Wallahu a'lam.

Oleh Lilis Suryani

Posting Komentar

0 Komentar