TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Miris, New Normal tanpa Dukungan Sains dan Kesiapan Masyarakat


Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti  mengatakan “belum waktunya berdamai dengan Corona dan tagar lawan corona masih harus diberlakukan karena menurut laporan Tim MCCC (Muhammadiyah Covid-19 Command Center) belum menunjukkan penurunan kasus”. (Tirto,29/5/2020)

Epidemiolog FKM Universitas Hasanuddin, Ridwan Amiruddin menilai rencana penerapan New Normal Life yang dipilih pemerintah terkesan prematur. Pasalnya, penerapan new normal dilakukan ketika kasus corona covid-19 di Tanah Air masih tinggi.
(Kanalkalimantan.com, 28/5/2020)

Dua pernyataan diatas merupakan bukti bahwa masyarakat belum siap untuk berdamai dengan Covid-19 di kondisi kurva yang belum melandai,  salah satu indikator diperbolehkan nya pelonggaran PSSB (Pembatasan Sosial Bersala Besar) oleh WHO. Pada 10 Juni 2020, WHO mencatat total kasus terkonfirmasi covid-19 di seluruh dunia ada 7.241.079 dan 404.396 kasus kematian. Sedangkan di Indonesia ada 34.316 kasus terkonfirmasi dan 1.959 kasus meninggal.

Pemerintah juga terkesan terburu-buru dalam menerapkan kebijakan New Normal, tanpa mempertimbangkan epidemiolog, sains dan kesiapan masyarakat, yang akan mengakibatkan terjadinya gelombang kedua kasus covid-19,secara besar-besaran. “Sehingga jika masyarakat mulai beraktivitas normal, maka puncak infeksi covid-19 terjadi di pekan pertama bulan oktober dengan jumlah besar, mencapai 1.283.600 jiwa dan prediksi kematian akibat covid-19 ini mencapai 16.491 jiwa”.(kanalkalimantan.com, 28/6/2020),

Rezim ini telah gagal dalam menjamin kesehatan rakyatnya dan lebih memilih menstabilkan ekonomi. Hal ini bukan hanya berdampak kepada kesehatan masyarakat, ketidaksiapan pemerintah dalam memberikan fasilitas kesehatan, sarana dan prasarana. Misalnya, Alat Pelindung Diri untuk tenaga kesehatan juga belum sesuai standar baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Terbukti dari hari ke hari semakin banyak tumbangnya para tenaga kesehatan. Bagaimana mungkin tenaga kesehatan yang semakin berkurang, mampu merawat pasien-pasien covid-19 yang di prediksi semakin meningkat.

Belum lagi dengan sistem rujukan pasien covid-19 yang rumit, karna tidak semua Rumah Sakit memiliki ruang isolasi khusus. Sehingga sering terjadi keterlambatan dalam mendapatkan pengobatan sesuai standar. Harusnya, hal ini menjadi pertimbangan penting bagi penguasa terhadap kebijakan yang akan diterapkan. 

Penerapan syariat Islam secara kaffah mampu memecahkan seluruh problematika kehidupan termasuk pandemi covid-19 ini. Lantas bagaimana solusi nya dalam Islam, yang melibatkan peran sains teknologi dan ilmuwan dalam pengambilan kebijakan yang tepat. 

Pertama, Islam memberikan porsi bagi para pakar yang disebut khubaro’ dalam mengambil kebijakan negara untuk menyelesaikan masalah masyarakat yang rumit dan membutuhkan analisis mendalam. 

Kedua, Fokus ilmuwan dan sains digunakan untuk menyelesaikan masalah masyarakat, bukan sekadar memenuhi target keuntungan dunia industri semata.

Ketiga, support penuh negara Islam dalam pengembangan sains dan teknologi.
Negara juga menjamin kesiapan masyarakat dalam setiap kebijakan yang akan diterapkan, dengan mempersiapkan kemungkinan terburuk. Misal, jika terjadi skenario contaiment, penyebaran virus secara masif lokal. Ketersediaan fasilitas Rumah Sakit yang memadai, ruang isolasi khusus, pengobatan yang baik dan manajemen yang teratur. Negara juga benar-bernar mengontrol kesehatan masyarakat mulai dari preventif, kuratif dan rehabilitatif yang terpadu. Sehingga akan meminimalisir angka kejadian kasus covid-19.

Islam adalah agama paripurna. Setiap rincian didalamnya memang ditujukan untuk memberi kontribusi terhadap peradaban dunia. Akan tiba masanya sains dan teknologi kembali berjaya dan diberikan porsi dalam pengambilan kebijakan. Wallahu’alam bishawab.[]

Oleh Reda Hayati 
Dokter Internship

Posting Komentar

0 Komentar