TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Minuman Beralkohol Induk dari Segala Kejahatan


Minuman beralkohol masih menjadi primadona di negara mayoritas muslim ini. Miris sekali, penduduk yang berjumlah 267,7 juta jiwa dan 80% adalah penduduk Muslim namum keberadaan minuman beralkohol masih menjadi favorit. Kabupaten Mojokerto salah satu Kabupaten di Jawa Timur memiliki pabrik miniman beralkohol yang cukup besar. 

Sebagaimana dilansir detiknew.com Sebuah pabrik minuman beralkohol yang akan beroperasi di Ngoro Industrial Park (NIP) Kabupaten Mojokerto mendapat penolakan dari MUI Kecamatan Ngoro. Ulama menilai, keberadaan pabrik itu berpotensi menambah jumlah pemabuk.

Pabrik minuman beralkohol (minol) itu bernama PT Hardcorindo Semesta Jaya. Pabrik tersebut akan beroperasi di Blok J Nomor 11, Desa/Kecamatan Ngoro. MUI Kecamatan Ngoro menolak rencana operasional pabrik tersebut.

Mereka melayangkan surat ke MUI Kabupaten Mojokerto. Yaitu surat Nomor 010/MUI.NGR/VI/2020 tertanggal 5 Juni 2020. Surat tersebut ditandatangani Ketua MUI Kecamatan Ngoro KH Ismail Arif dan sekretarisnya Nurul Huda.

"Sejak sekitar sebulan yang lalu kami menerima kabar akan ada pabrik minuman beralkohol di NIP. Kami MUI Ngoro menolak," kata Ketua MUI Kecamatan Ngoro KH Ismail Arif, saat dikonfirmasi wartawan di rumahnya, Desa Lolawang, Kecamatan Ngoro, Jumat (5/6/2020). (Detiknwes.com 5/6/2020).

Mimuman beralkohol adalah induk segala kejahatan. Masih ingatkah kita, kisah yang memilukan di negeri ini gara-gara mengenggak nimuman beralkohol??  Yah, kisah Yuyun seorang gadis yang diperkosa beberapa pemuda secara beramai-ramai setelah menggak minuman haram tersebut. Kisah Eno yang kemaluannya (maaf) dimasukkan gagang pacul. Hal ini tak lain pelakunya dibawah pengaruh minuman beralkohol. Tak sedikit kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi karena pelakunya menggak minuman haram ini. Mau berapa nyawa lagi yang melayang akibat minuman beralkohol ini? 

Namun minuman beralkohol kini masih banyak di produksi di negara kita. Hal ini menunjukkan bahwa minuman beralkohol ini dianggap barang ekonomi, yaitu barang yang menghasilkan uang. Sehingga para produsen akan terus memproduksinya. Selain itu keuntungan yang didapat dari penjualan minuman beralkohol ini sangat menggiurkan. Ditengah kondisi ekonomi bangsa yang carut marut seperti saat ini maka masyarakat akan berfikir untuk mendapatkan keuntungan untuk menyambung hidupnya. 

Para produsen tidak peduli dengan kondisi yang diakibatkan akibat menenggak minuman beralkohol ini. Hal yang terpenting mereka akan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Keselamatan nyawa manusia nomor dua demi menggenjot keuntungan semata. 

Data dari Menurut data penelitian Center for Indonesian Policy Studies atau CIPS(2018) total jumlah orang yang mati karena miras oplosan dari tahun 2008 sampai 2018 mencapai 840 orang. Sementara dari tahun ke tahun data orang tewas karena miras oplosan memang cenderung naik.

Pada 2015 saja tercatat korban tewas sebanyak 131 orang, lalu pada 2016 meningkat menjadi 160 orang. Pada 2017 angkanya memang sempat menurun menjadi 48 orang. Namun tahun berikutnya korban tewas kembali bertambah menjadi 97 orang.

Inilah sesungguhnya wajah negara yang menjamin mengemban ideologi kapitalisme. Untung rugi menjadi patokan bukan halal dan haram. Dalam negara kapitalisme jika suatu barang haram namun barang tersebut menghasilkan keuntungan, maka barang tersebut akan diproduksi. 

Selain itu di alam kapitalisme juga menyampingkan peran agama. Dalam agama Islam jelas minuman beralkohol  haram hukumnya. Namun di negara kita yang mayoritas beragama Islam, minuman beralkohol ini tetap diproduksi dan dipasarkan di masyarakat. 

Telah tampak nyata betapa cacat dan bobroknya ideologi buatan manusia ini (baca: kapitalisme). Dia tidak mampu bertahan untuk menyelamatkan keberlangsungan hidup manusia. Saat hari ini juga kita beralih kepada sistem yang akan menjamin keberlangsungan hidup manusia. Yaitu sistem islam yang bersumber dari Allah SWT. 

Dalam Islam salah satu minuman yang haram dikonsumsi bagi umat adalah minuman keras/khamr, yakni minuman yang dapat memabukkan. Adapun dalil keharamannya di dalam Al-Qur’an dan hadis adalah sebagai berikut. "Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. (QS. Maidah: 90)

Dalam sistem Islam barang haram tidak dianggap sebagai barang ekonomi (economic goods). Karena itu tidak boleh diproduksi, dikonsumsi dan didistribusikan tengah masyarakat. Maka memproduksi, mengkonsumsi dan mendistribusikannya ditengah masyarakat dianggap bentuk kejahatan (jarimah) yang harus ditindak oleh penguasa.

Oleh: Siti Masliha, S.Pd (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar