TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Minim Proteksi, Kesejahteraan Tenaga Medis Diabaikan



Bak mendapat angin segar ditengah panas yang menyengat. Itulah yang mungkin dirasakan oleh tenaga medis Indonesia. Mereka seolah mendapat kebahagiaan ditengah beratnya perjuangan menjadi pasukan terdepan melawan Virus Covid-19. Kebahagiaan itu datang dari Presiden RI Bapak Joko Widodo (Jokowi) yang mengatakan bahwa pemerintah akan memberikan insentif bulanan kepada tenaga medis yang terlibat dalam penanganan Covid-19. Besaran insentif berkisar Rp 5-15 juta setiap bulan. Rinciannya, Rp 15 juta untuk dokter specialis, Rp 10 juta untuk dokter umum dan dokter gizi, Rp 7,5 juta untuk bidan dan perawat, dan Rp 5 juta untuk tenaga medis lainnya. Hal ini disampaikan Bapak Jokowi sejak 23 Maret lalu. (Nasional.tempo.co, 25 Mei 2020)

Salah seorang perawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Anitha Supriono mengaku hingga kini belum menerima insentif sebesar Rp 7,5 juta yang dijanjikan pemerintah. Anitha juga tak mengetahui apa alasan belum cairnya intensif. Dan menurutnya, para perawat sangat memerlukan insentif tersebut, terlebih mereka yang mendapat pemotongan tunjangan hari raya (THR) Idul Fitri. (Nasional.tempo.co, 25 Mei 2020)

Sejumlah tenaga medis di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran pun mengeluh karena belum mendapatkan insentif yang dijanjikan pemerintah. Sekitar 900 tenaga medis dan relawan medis yang belum mendapatkan haknya. Meski ada yang sudah dapat, tapi belum merata sebagaimana yang dijanjikan. (Merdeka.com, 25 Mei 2020)

Tak hanya belum mendapat insentif sesuai janji pemerintah, pemecatan tenaga medis pun terjadi. Ratusan tenaga medis dipecat saat wabah Covid-19 terjadi di RSUD Ogan Ilir. Direktur RSUD Ogan Ilir, dr. Rorette Arta Guna Riama membenarkan hal tersebut. Pemecatan itu terjadi karena sebanyak 109 tenaga medis melakukan mogor kerja sejak Jumat, 15 Mei 2020. Aksi mogok kerja ini merupakan bentuk kekecewaan tenaga medis atas penanganan Covid-19. (Tribunnews.com, 21 Mei 2020)

Tidak berhenti sampai di situ dilema yang dialami oleh tenaga medis. Karena tugas yang berat, berjuang merawat korban-korban Covid-19, mereka mengalami kesepian, terutama di perayaan Idul Fitri tahun ini. Sekitar 24 tenaga medis di RSUD M Yunus Bengkulu, menjalani perayaan Idul Fitri 1441 Hijriyah tanpa bertemu keluarga. Mereka secara keseluruhan sedang menjalani karantina di Gedung Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Bengkulu. Salah seorang perawat di RSUD M Yunus Bengkulu, Desmi Lindawati menyampaikan curahan hatinya: “Sudah menjadi tugas kami, tanggungjawab sesuai sumpah. Kali ini lebaran Cuma bisa melalui video call”. (Okezone.com, 25 Mei 2020)

Tenaga Medis Minim Proteksi Dari Pemerintah

Bertambahnya jumlah pasien positif Covid-19 membuat kemungkinan tenaga medis terpapar virus pun besar, sebab mereka langsung bersentuhan dengan para korban-korban Covid-19. Kelangkaan peralatan medis pun menjadi salah satu penyebab tenaga medis mudah terjangkit. Dokter Spesialis paru di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Agus Dwi Sutanto membenarkan hal itu. (BBC.news.com, 18 Maret 2020). Seharusnya pemerintah menyediakan peralatan medis yang memadai agar tenaga medis dapat dihindarkan dari penularan Covid-19.

Ditengah beratnya perjuangan tenaga medis, mereka seharusnya mendapat perhatian besar dari pemerintah. Terlebih Covid-19 juga telah mengakibatkan banyak tenaga medis yang gugur. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat 55 tenaga medis meninggal dunia selama pandemi Covid-19 berlangsung di Indonesia. Jumlah itu terdiri dari 38 dokter dan 17 perawat. (Kompas.com, 6 Mei 2020)

Pemerintah tak hanya harus memberikan perlindungan kepada para tenaga medis dalam menjalankan tugas mereka, lebih dari itu, demi mencegah semakin banyaknya tenaga medis yang gugur, pemerintah wajib melakukan upaya mencegah lonjakan pertambahan pasien Covid-19. Pemerintah harus bersungguh-sungguh membuat kebijakan untuk memutus rantai penulran Covid-19. Namun faktanya, alih-alih menurunkan jumlah kasus Covid-19, pemerintah justru dengan sejumlah kebijakan penanganannya yang tumpang tindih mengakibatkan korban Covid-19 semakin bertambah drastis.

Akibatnya, bertambah beratlah tugas tenaga medis. Namun, dibalik beratnya perjuangan mereka, pemerintah malah abai memberikan proteksi finansial. Mulai dari tidak memberikan insentif sesuai yang dijanjikan pemerintah, pemotongan THR, hingga tenaga medis yang dirumahkan karena rumah sakit daerah kesulitan dana.

Sungguh ironi kondisi tenaga medis akibat abainya pemerintah memberikan kesejahteraan bagi mereka. Yang tak kalah penting adalah kerugian yang dialami oleh dunia Kesehatan akibat gugurnya banyak tenaga medis akibat Covid-19. Negeri ini pun harus kehilangan generasi-generasi terbaiknya. Semakin banyak yang tenaga medis yang gugur semakin sedikit tenaga medis yang tersedia, yang berakibat pelayan terhadap pasien Covid-19 pun menurun. Tentu ini akan berdampak pula pada kemungkinan jumlah pasien yang semakin parah bahkan meninggal pun besar.

Tenaga medis butuh dukungan dari pemerintah, butuh kerja serius dari pemerintah untuk menangani Covid-19 agar korban tak bertambah banyak tiap saat, demikian pula pemerintah wajib memenuhi segala kebutuhan para medis dalam menjalankan tugas mereka, dan menberikan penghargaan terbesar atas jerih payah para medis yang masih mau bekerja tanpa kenal Lelah dan berputus asa meski telah banyak rekan-rekan mereka yang terpapar Covid-19 bahkan gugur sebagai pejuang kemanusiaan. 

Perhatian Tinggi Islam di Sektor Kesehatan

Islam sebagai sebuah ideologi yang darinya terpancar aturan-aturan kehidupan, memiliki konsep yang komprehensif di bidang layanan Kesehatan. Islam memandang, layanan kesehatan termasuk hajat hidup manusia. Yang berkewajiban menyediakan layanan Kesehatan bagi rakyat adalah negara. Negara harus berperan penuh di sektor ini, dan tidak memberikan pemenuhan hajat hidup masyarakat kepada swasta apalagi negara-negara kapitalis.

Dalam sistem Khilafah, pelayanan kesehatannya adalah yang terbaik sepanjang sejarah. Layanan Kesehatan Islam diselimuti atmosfir kemanusiaan yang sangat sempurna. Dengan pelayanan terbaik, mudah dan gratis. Semua kebutuhan di sektor Kesehatan berikut anggaran kesehatan mutlak harus disediakan oleh khilafah, demi menjamin pelayanan Kesehatan terbaik bagi seluruh masyarakat. Termasuk mmberikan perhatian terhadap rumah sakit berikut segala fasilitasnya, kuantitas dan kualitas dokter, para medis serta ketersediaan perlengkapan dan peralatan medis yang terbaik. Khalifah akan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan oleh para dokter, tenaga medis dan para ilmuan dalam mengembangkan pengetahuan mereka di bidang Kesehatan. Demikian menjamin pula ketersediaan obat-obatan serta segala hal yang dibutuhkan di bidang farmasi.

Tak seperti dalam Ideologi Kapitalisme yang melakukan eksploitasi pada layanan kesehatan. Kesehatan dikomersialkan, dan pemenuhan terhadap Kesehatan diserahkan kepada para pemilik modal yang memperjualbelikan jasa Kesehatan. Alhasil masyarakat harus mengeluarkan uang demi mendapat layanan kesehatan. Kondisi ini mengakibatkan pelayanan kesehatan tidak rata didapatkan oleh seluruh masyarakat. Punya uang bisa berobat, jika tak punya uang tinggal tunggu ajal datang. Begitulah buruknya kapitalisme dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Berbeda dengan Islam, peran utuh negara ada dalam sektor Kesehatan. Khilafah takkan menjadikan layanan kesehatan sebagai proyek untuk meraih keuntungan, sementara mengabaikan hak rakyat atas pemenuhan hajat mereka. Hal itu merupakan bentuk kedzaliman yang nyata.
Khilafah juga mendorong perkembangan dan kemajuan segenap potensi yang dimiliki oleh kaum muslimin agar mereka mampu mengimplementasikan keilmuan dan keahliannya semata-mata untuk mewujudkan kemaslahatan umat dan membesarkan haibah (wibawah) Islam dan kaum muslimin di mata dunia.

Yang utama pula adalah perhatian khilafah dalam memenuhi gaji para dokter dan tenaga medis, serta besarnya beban kerja yang diberikan kepada mereka secara manusiawi. Khilafah akan memenuhi hak-hak para dokter dan tenaga medis, memberi perhatian kepada mereka serta memberi penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat di layanan kesehatan. Khilafah tidak akan mendzalimi mereka, sebab mereka termasuk pilar penjamin keberlangsungan masyarakat, sementara masyarakat adalah pilar penjamin keberlangsungan kehidupan Islam.

Wallahu A'lam

Oleh: Yani Ummu Farras Abiyyu, S.Pd.I

Posting Komentar

0 Komentar