TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Mimpi Buruk Sistem Pendidikan Kapitalis di Masa Pandemi


Seperti yang diberitakan sebelumnya, sekolah akan dimulai pada 13 Juli 2020. Pemerintah pun meminta sekolah menyiapkan protokol covid 19 dalam pembukaan sekolah nantinya. Sebagian wilayah memang telah memberlakukan new normal dan menghentikan PSBB. Makanya wacana sekolah tatap muka pun akan di jalankan dibeberapa daerah.

Namun seiring dengan bertambahnya pasien positif covid-19 yang seolah tidak bisa turun jelang new normal life ini, pemerintah kembali meralat kebijakannya dan hanya mengijinkan sekolah yang boleh melakukan tatap muka hanya di wilayah zona hijau. Namun pemberlakuan sekolah di zona hijau ini masih tetap dalam pemberlakuan protokol covid-19 pada pembelajaran tatap mukanya.

Sayangnya akibat tidak jelasnya arah kebijakan pemerintah, yang berubah-ubah hampir setiap saat, beberapa daerah juga berbeda-beda dalam menerapkan awal masuk sekolah. Sebagian besar akan membuka sekolah tatap muka di awal januari 2020 dan melanjutkan sekolah di rumah di ajaran baru nanti. Sementara itu, sebagian yang lain tetap melaksanakan sekolah tatap muka pada awal ajaran baru Juli nanti. 

Dilema Tak Terjawab

Pendidikan memang hal terpenting dalam menentukan masa depan suatu bangsa. Apa kabar generasi saat ini di masa mendatang jika pemerintah abai dalam mengurusi masalah pendidikan generasinya? Siapa yang akan bertanggung jawab pada moralitas anak bangsa? Tentunya ini harus menjadi pertimbangan pemerintah jika menyerahkan daerah dan sekolah-sekolah menterjemahkan sendiri kebijakan pendidikan saat ini. 

Jikalau sekolah tatap muka diberlakukan di zona hijau, siapakah yang akan menjamin jika wilayah tersebut benar-benar aman dari paparan covid-19? Siapa yang bisa menjamin jika sekolah-sekolah tersebut mampu secara mendiri menyiapkan protokol covid-19 dengan sempurna? Sementara sarana dan prasarana yang dibutuhkan juga memerlukan anggaran yang tidak sedikit. Bagiamana dengan anak-anak, yang tentunya akan mengalami uforia berlebihan karena telah lama tidak bertemu teman-temannya. Yakinkah kita bahwa tidak ada kemungkinan penularan masuk di zona hijau? Kita sudah belajar dari pengalaman PSBB kemarin yang tidak berefek apa-apa pada kenaikan jumlah pasien posistif covid-19. Bahkan IDAI mencatat pada 18 Mei lalu ada 3324 anak berstatus PDP, 129 PDP meninggal dan 584 terkonfirmasi positif dan 14 anak meninggal dunia. (3/06/2020 tempo.co). Akankah kita menambah daftar panjangnya? Selama tidak ada lock down atau karantina wilayah yang benar, maka tidak ada yang bisa menjamin zona hijau pun aman dari covid-19. 

Di sisi lain, jika sekolah ini tetap dengan sistem daring dan belajar dari rumah, mampukah terpenuhi capaian materi pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang ada? Sudah pahamkah para guru dengan cara pembelajaran yang efektif dengan cara daring? Mampukah mereka melakukan pengajaran berbasis IT? Bagaimana dengan siswanya, terjangkaukah teknologi ini bagi mereka, dari sisi ketersediaan alatnya dan kuota internet? Bukankah tiap siswa mempunyai kondisi yang berbeda? Belum lagi kendala kekuatan sinyal provider yang tidak sama di tiap daerah? 

Ditambah lagi, kultur di negeri kita ini tidak pernah dibiasakan dengan belajar dari rumah, belajar menggunakan sistem daring dan berbasis teknologi. Pembelajaran dari rumah tidak ada bedanya seperti libur bagi anak-anak dan bertumpuknya tugas bagi pelajar di jenjang lebih tinggi. Gagap teknologi juga masih menjadi masalah saat ini. Karena ini tidak hanya terjadi pada sebagian besar siswa, namun juga guru-guru sebagai pengajarnya. Wacana pendidikan era 4.0 seolah hanya sekedar wacana saja dan menjangkau sebagian guru saja. 

Di lain hal, sisi buruk teknologi informasi masih menjadi momok tersendiri bagi orang tua. Paparan pengaruh negatif internet seperti pornografi, kekerasan  akan semakin tinggi di masa sekarang karna penggunaan internet ini sudah menjadi kebutuhan vital di masa sekarang.

Maka, banyaknya waktu luang akan memungkinkan mereka terpapar hal-hal tersebut jika tidak ada pembatasan dari orang tua, dan aturan yang tepat dari negara. Lihatlah bagaimana Netflix menghasilkan jutaan dolar sejak era pandemi. Serta aplikasi-aplikasi game yang meningkat penggunanya. Lalu generasi yang seperti apa pula yang ingin dihasilkan jika begini? Mampukah sekolah sebagai penyelenggara pendidikan bisa memperbaiki moral generasi?

Gambaran di atas seperti mimpi buruk yang menghantui para orang tua, kekhawatiran anak-anak terinfeksi  jika ke sekolah, Atau menurunnya kualitas pendidikan, serta ancaman kerusakan moral di tengah pandemi.

Mengurai Masalah

Semua permasalahan ini tak ubahnya benang kusut dari penerapan sistem yang salah yakni kapitalisme yang memandang kemanfaatan sebagai asas utamanya. Sistem ini tidak akan mampu menjawab permasalahan pendidikan, apalagi di era pandemic seperti saat ini. Karena sistem ini tidak memiliki solusi yang holistic, menyeluruh di semua aspek. 

Penguasa atau negara ibarat perisai bagi warganya. Maka dengan sistem yang benar negara akan berpandangan bahwa dialah yang bertanggung jawab menjamin kesehatan tiap-tiap warga negaranya. Maka setiap warga akan mendapatkan jaminan pengobatan, termasuk pencegahan terhadap penyakit.  Dalam setiap kebijakan yang di ambil oleh negara, maka keselamatan warga negaranya adalah hal utama. Bukan mengutamakan kepentingan para pebisnis dan pemilik modal yang sekarat secara ekonomi dan setuju menjalankan New Normal, termasuk di dalamnya membuka kembali sekolah dengan tatap muka.

Negara juga akan memandang bahwa pendidikan itu penting, dan setiap warga Negara memiliki kewajiban untuk belajar, maka ialah yang dari awal menjamin tersedianya sarana dan prasarananya. Menjamin tiap warga negaranya mampu mengakses pendidikan dalam kondisi apapun, baik miskin, kaya, di kota atau di pelosok, termasuk dalam kondisi adanya wabah. Negara juga seharusnya punya solusi ekonomi yang holistik menjamin terpenuhinya kebutuhan tiap-tiap warga negaranya disaat masa karantina karena wilayahnya terkena wabah. Sumber daya alamnya baik di darat, laut, atau di dalamn bumi yang melimpah ini seharusnya dikembalikan lagi kepemilikannya pada rakyat dan Negara hanya sebagi pengelola saja dan mengembalikan keuntungan pada rakyat. Bukan dijual, disewakan, atau dijadikan jaminan hutang. Apa yang akan kita katakana pada anak cucu kita nanti jika hanya hutang yang kita wariskan. 

Semua gambaran solusi diatas hanya akan terjadi jika sistem Islamlah yang diterapkan secara menyeluruh di bumi pertiwi ini. Maka negara tidak hanya menjamin keselamatan pelajar namun juga akan memastikan tujuan utama pendidikan yakni membentuk kepribadian Islam ini tercapai. Tentunya dengan kurikulum yang yang berbasis Islam. Bahkan Islam rahkamatan lil’alamin tidak akan menjadi slogan semata. Wallahu’alam.[]

Oleh: Citra Yanuary Anugrah Styowati, SS* 
*penulis adalah pengajar SMK Dharma Wanita Gresik, serta Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam

Posting Komentar

0 Komentar