Meninjau Kembali Kebijakan The New Normal


Sudah lebih dari 3 bulan pandemic covid-19 melanda Negara kita tercinta, Pemerintah sudah melonggarkan PSBB sejak awal bulan Juni lalu. Namun mengapa keputusan ini diambil disaat kurva kasus terus meninggi ? Tercatat hingga saat ini sebanyak 54.010 kasus terjadi yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia, jumlah sembuh meningkat dan jumlah meninggalpun meningkat. Sampai kapan kah kondisi ini terus terjadi ? 

Langkah berani pemerintah ini mungkin disambut hangat sebagian masyarakat terutama pengusaha yang mengharapkan roda ekonomi membaik setelah sakit melesu sejak pandemic ini ada. Tidak hanya pengusaha, para pekerjanya pun seakan sudah bosan terus dirumah dengan segala keterbatasan, terutama keterbatasan ekonomi, banyak mereka yang sudah rindu bekerja untuk tetap mencari nafkah demi melangsungkan hidup.

Kita ketahui bahwa Indonesia memiliki 269 juta jiwa yang terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda, baik usia maupun pendidikan, hal ini sangat perpengaruh terhadap pola pikir dan pemahaman setiap jiwa. Apakah pemerintah bisa menjamin mereka yang menyambut hangat kelonggaran PSBB ini juga bisa menerapkan protokol kesehatan yang baik ? Apakah pemerintah sudah memberikan pemahaman kepada semua penduduknya dengan baik ?

Nyatanya saat ini banyak terjadi cluster cluster baru penyebaran virus ini. Tercatat Hingga saat ini, ada 529 pedagang pasar seluruh Indonesia terpapar corona. Dengan 29 di antaranya meninggal. (okezone, 13/6/2020)

Kasus Positif Covid-19 Riau Bertambah 8 Orang, 7 dari Cluster BRI Pekanbaru (halloriau.com, 19/6/2020) dan masih banyak kasus-kasus lain yang terjadi di Indonesia, puncaknya saat ini Jawa Timur menduduki peringkat pertama untuk peningkatan kasus penyebaran covid-19 disusul oleh Sulawesi Selatan (tribunnews.com , 28/6/2020)

Para ahli berpandangan bahwa tingginya angka kasus baru corona di berbagai daerah karena pelonggaran PSBB di tengah kondisi ketidaksiapan masyarakat. masyarakat menganggap langkah ini menunjukkan kondisi yang sudah kembali normal seperti sebelum adanya pandemi Covid-19, padahal ini adalah pemahaman yang salah, sehingga pakar menduga ini lah penyebab kenaikan kasus Covid-19 di atas seribu per hari pada sepekan terakhir.(kabar24.bisnis.com, 21-06-2020)

Sementara pihak pemerintah beralasan peningkatan kasus covid 19 terjadi karena faktor tes masif dan pelacakan agresif yg dilakukan oleh pemerintah bukan karena kebijakan PSBB yang telah dilonggarkan atau saat ini disebut new-normal. 
Pemerintah seakan tidak mau disalahkan terhadap kebijakan yang telah diambil. Beginikah seharusnya sikap pemerintah sebagai pengurus rakyat ?

Pemerintahengurus rakyat sudah seharusnya bertanggung jawab atas segala urusan rakyatnya. Terlebih ditengah pandemic yang melanda, sudah seharusnya tanggung jawab negara untuk melakukan tes dan pelacakan agar memastikan individu terinfeksi tidak menularkan ke yg sehat. Dan meninjau ulang kebijakan  the new normal.

Juga sudah seharusnya pengurus rakyat berkewajiban mencari jalan keluar jitu bagi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak pembatasan selama masa karantina. Semestinya kelesuan ekonomi yg dialami pelaku ekonomi raksasa/kapitalis tidak menjadi pendorong kuat pemerintah memberlakukan new normal dengan risiko mengorbankan keselamatan jiwa masyarakat luas.

Sangat berbeda jauh dengan sistem pemerintahan atau kepemimpinan Islam, sistem yang berlandaskan keyakinan bahwa manusia diciptakan sebagai pengemban amanat pengelola kehidupan dan termanifestasi dalam syariat Islam, telah terbukti mampu mewujudkan kesejahteraan atas rakyat baik muslim maupun non muslim.

Rakyat dalam kepemimpinan Islam benar-benar akan mendapatkan pelayanan dan penjagaan maksimal dari penguasa. Pemimpin Islam memiliki kesadaran ruhiyah untuk memenuhi hak-hak rakyat tanpa diminta baik dalam sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem politik dan juga layanan kesehatan termasuk penanganan wabah dan kerumahsakitan. 

Pemimpinan takut jika tidak bisa melaksanakan tanggung jawabnya. 
“Siapa pun yang mengepalai salah satu urusan kaum muslimin dan tetap menjauhkan diri dari mereka dan tidak membayar dengan perhatian pada kebutuhan dan kemiskinan mereka, Allah akan tetap jauh dari dirinya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim).[]

Oleh Astri Ireka
Pendidik Generasi

Posting Komentar

0 Komentar