TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menguji Kebenaran Ideologi: Sesuaikah dengan Fitrah Manusia dan Pertimbangan Akal Sehat?


Sudah yakinkah kita dengan kebenaran ideologi yang kita miliki? Itu pertanyaan mendasar yang perlu diajukan untuk meyakinkan kepada pemeluk ideologi agar hilang rasa ragu atas kebenaran ideologi tersebut? Keyakinan atas kebenaran suatu ideologi yang dianut itu penting oleh karena akan menentukan bagaimana spirit pendukungnya untuk mematuhi kredo ideologi itu dalam menjalankan tugas dan kewajiban di berbagai bidang kehidupannya. Apabila pendukung ideologi ini kurang yakin atas kebenaran ideologi yang dianut, maka mereka tidak akan memiliki daya juang yang kuat untuk mewujudkan keyakinan-keyakinan ideologi tersebut, bahkan para pendukung tersebut akan meninggalkannya.

Ada yang berpendapat bahwa tidak semua negara di dunia ini mengagungkan ideologi karena mereka beranggapan bahwa keyakinan itu tidak perlu diwujudkan dalam bentuk ideologi formal kenegaraan. Ideologi itu persoalan keyakinan individu dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Ini menyangkut dapur rumah tangga tiap individu. Jadi negara tidak perlu berideologi. Namun, ada juga yang bersikeras bahwa suatu negara mesti memiliki ideologi agar negara juga mempunyai landasan ideologis untuk mengatur tata kehidupan bernegara. Negara-negara fasis dan sosialis serta kapitalis adalah contoh negara yang memerlukan adanya sebuah ideologi dalam mengatur tata kehidupan bernegaranya.

Di Indonesia, perbincangan mengenai ideologi menjadi hangat dan selalu up to date, apalagi ketika ada suatu lembaga yang bersikukuh hendak menyusun Haluan Ideologi, yang di negara demokrasi lain tidak perlu secara khusus ditentukan secara indoktrinatif. BPIP menjadi satu-satunya lembaga negara yang ditugasi oleh Presiden untuk menyusun Haluan Ideologi Pancasila (HIP). Santer pula sudah dibicarakan adanya Naskah Akademis (NA) dan RUU HIP di tengah masyarakat. Terdapat pro kan kontra ketika disinyalir adanya cacat bawaan atas penyusunan RUU HIP karena dinilai telah mendown grade kedudukan Pancasila sebagai Grundnorm dan juga Filsafat Dasar menjadi norma biasa (UU) yang berpotensi akan menjadi alat gebuk penguasa atau rezim terhadap orang yang dinilai berseberangan dengan rezim. Masih teddapat banyak problem mulai dari politik hukumnya hingga aspek teknis dan substantif ditemui dalam RUU HIP. 


A. Pancasila dalam Percaturan Tiga Ideologi Besar Dunia.

Terminilogi kata Ideologi pertama kali diperkenalkan oleh seorang filsuf Prancis Destutt de Tracy pada tahun 1796. Kata ini berasal dari bahasa Prancis idéologie, merupakan gabungan 2 kata yaitu, idéo yang mengacu kepada gagasan dan logie yang mengacu kepada logos. Kata ideologi dalam bahasa Yunani dipakai untuk menjelaskan logika dan rasio. Destutt de Tracy menggunakan kata ini dalam pengertian etimologinya, sebagai "ilmu yang meliputi kajian tentang asal usul dan hakikat ide atau gagasan". Jadi, oleh Destutt de Tracy ideologi didefinisikan sebagai "the science of idea". 

Ada juga definisi yang lebih komprehensif tentang ideologi yang dirumuskan oleh Taqiyudin An Nabani dengan istilah Arab Mabda. Mabda atau ideologi adalah aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud akidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup; serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan. Sedangkan peraturan yang lahir dari akidah tidak lain berfungsi untuk memecahkan dan mengatasi berbagai problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pelaksanaan pemecahannya, memelihara akidah serta untuk mengemban mabda.

Ada 3 ideologi dunia yg telah eksis sebelum Pancasila lahir:

1. Liberalisme dengan anak kandung kapitalisme
2. Sosialisme dengan anak kandung komunisme
3. Islam

Adonan Pancasila atau disebut sebagai causa materialis Pancasila orang menyebut puncak-puncak sosio kultural bangsa Indonesia sendiri? Benarkah? Berdasarkan sejarah perumusannya, diyakini material Pancasila merupakan hasil tawar menawar dari 3 ideologi yang telah ada karena tidak ada yang dimenangkan salah satunya. Ideologi kompromis. 

Setelah lahir maka pertumbuhan ideologi ini juga tergantung dari SIAPA PENGEMBAN dan SIAPA YANG MENYUSUI alias DI PANGKUAN SIAPA PANCASILA itu dipelihara, dipahami, dikembangkan dan ditaati. Jadi Pancasila bisa diterjemahkan secara liberal kapitalistik, sosialisme komunis atau diwarnai secara Islami. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena semuanya tergantung pada keras lembutan ayunan jarum pendulum lonceng masing-masing ideologi yang saling berebut pengaruh. 

Ideologi mana yang akan bertahan dalam memenangkan perebutan pengaruh dan mengasuh Pancasila ini? Hanya ideologi yang mampu menjaga kelangsungan hidupnya yang akan bertahan lestari. Kelestarian sebuah ideologi sangat ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor objektif dan faktor subjektif. Faktor objektif itu menyangkut persoalan kebenarannya dan faktor subjektifnya tergantung pada pendukungnya khususnya ketaatan pendukungnya dan kemampuan pendukungnya untuk beradaptasi dengan perubahan dunia yang sedang berlangsung. 

B. Menguji Kebenaran Ideologi Liberal Kapitalisme, Sosial Komunisme dan Islam Melalui Kesesuaian dengan Fitrah dan Akal Manusia.

Soal kebenaran ideologi sebenarnya sangat subjektif, tergantung dari sudut pandang para pemilik ideologi tersebut. Namun demikian kami akan menggunakan dua tolok ukur (bench mark) untuk menentukan aspek kebenaran ideologi itu.
Suatu ideologi dikatakan benar apabila qaidah fikriyah (landasan berpikir)-nya memenuhi 2 (dua) ketentuan:

(1) Sesuai dengan fitrah manusia.
(2) Dibangun berlandaskan pertimbangan akal sehat.

Yang dimaksud dengan qaidah fikriyah itu sesuai dengan fitrah manusia, adalah pengakuannya terhadap apa yang ada dalam fitrah manusia, berupa kelemahan dan kebutuhan diri manusia pada Yang Maha Pencipta, Pengatur segalanya. Dengan kata lain, qaidah fikriyah itu sesuai dengan naluri beragama (gharizah tadayyun). Sedangkan yang dimaksud dengan qaidah fikriyah itu dibangun berdasarkan akal adalah bahwa kaedah ini tidak berlandaskan materi atau mengambil sikap jalan tengah. 

Berdasarkan dua tolok ukur di muka, mari kita uji kekeliruan dan kebenaran ketiga ideologi liberal-kapitalisme, sosial komunisme dan Islam (Langgeng, Webblog:2009).

1. Uji Kebenaran Ideologi Liberal Kapitalisme

a. Apakah ideologi liberal kapitalisme sesuai dengan fitrah manusia?

Mengingat manusia mempunyai kelemahan dan kekurangan, maka secara fitrah manusia memerlukan Zat Yang Maha Agung, yakni Tuhan. Keperluan manusia kepada Tuhan tidak terbatas pada waktu ibadah saja, namun juga pada saat manusia menjalani kehidupan dengan sesama manusia lainnya. Karena aqidah Kapitalisme berasaskan pada pemisahan antara agama dan kehidupan (fashlu ad-din ‘an al-hayat) atau “Sekularisme“, dimana mengakui eksistensi agama di satu sisi (dalam hal ibadah) namun disisi lain menolak apabila agama juga mengatur kehidupan manusia. Maka, hal ini jelas sangat bertentangan dengan fitrah beragama pada diri manusia, di mana agama harusnya bisa menyelesaikan seluruh permasalahan manusia baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan manusia. Bukan malah kemudian dilakukan pemisahan dalam urusan agama dan kehidupan. Jika pemahaman aqidah ini dibiarkan maka akan terjadi kekacauan dalam pengaturan kehidupan manusia.

Sebagai contoh adalah Adam Smith. Ia dikenal sebagai Bapak Ilmu Ekonomi yang menggagas ekonomi klasik yang kemudian menjadi sumber ajaran ekonomi Kapitalisme. Namun, di sisi lain ia adalah seorang paderi Kristen yang sangat memahami ajaran Kristen yang mengagung-agungkan cinta kasih, belas kasih dan persaudaraan. Ternyata gagasan ekonominya yang mengutamakan kebendaan (materi) bertentangan 180° dengan ajaran agamanya, sehingga aliran ekonominya dikritik karena terlalu rakus dan tidak mengenal perikemanusiaan, yang kemudian ditinggalkan. Dan akhirnya muncul aliran baru yaitu Sosialisme.

b. Apakah ideologi liberal kapitalisme dibangun berlandaskan akal?

Kapitalisme adalah ideologi yang dibangun melalui jalan tengah (al-hallu al-wasath) atau kompromi antara tokoh gereja dengan filosof. Bukan karena pertimbangan rasional menurut akal. Artinya mereka menetapkan jalan damai untuk mendamaikan konflik antara pihak gereja dengan kaum intelektual. Sehingga dalam berbagai perkara jelas mengkompromikan antara yang haq dengan yang batil; antara Islam dengan kafir; dan antara petunjuk dengan kesesatan. Dengan kata lain, Kapitalisme membangun konsep pemisahan agama dengan kehidupan tersebut bukan karena pertimbangan rasional, melainkan karena usaha untuk mendamaikan konflik yang ada.

2. Uji Kebenaran Ideologi Sosial Komunisme

Sosial Komunisme, dari segi aqidahnya berasaskan materi (benda). Dalam pandangan Sosialisme, alam, manusia, dan kehidupan berasal dari materi. Semua yang ada merupakan materi. Perubahan dari satu bentuk benda kepada bentuk benda yang juga merupakan proses perubahan materi (dialektika materialisme).

a. Apakah Ideologi Sosialisme Komunis sesuai dengan fitrah manusia?

Fitrah manusia yang memerlukan agama dan lemah itu telah dinafikan oleh Sosialisme. Sebab, agama telah dianggap sebagai candu bagi masyarakat. Dengan begitu, naluri beragama manusia telah dibunuh dan dikubur hidup-hidup. Ini jelas bertentangan dengan fitrah manusia.

b. Apakah Idelogi Sosialisme Komunis dibangun berlandaskan akal?

Ideologi sosialisme komunis dibangun atas dasar dialektika material Karl Marx. Ini bermakna bahwa materi, dalam pandangan Sosialisme, adalah azali. Dan tentu ini sangat bertentangan dengan akal. Sebab, zat yang azali mestilah tidak memerlukan kepada yang lain dan terbatas. Sebaliknya, materi jelas memerlukan kepada yang lain dan terbatas.

Sebagai contoh, materi diklaim sebagai sumber kehidupan, sedangkan materi itu tidak dapat melahirkan dirinya sendiri. Di samping itu, materi mempunyai kelemahan dan keterbatasan. Matahari, misalnya, apabila terbit dari timur ke barat dan berkelanjutan, tentu memerlukan garis orbit yang sekaligus merupakan system bagi terbit dan tenggelamnya matahari. Pertanyaannya adalah, benarkah matahari mengikuti garis orbitnya tanpa ada yang mengatur? Adalah mustahil. Maka, benarkah matahari yang memerlukan garis orbit itu disebut sebagai tidak memerlukan kepada apapun atau kepada siapapun? Tentu tdak masuk akal. Dengan demikian, Sosialisme telah gagal menjelaskan, bahwa materi itu bersifat azali.

Terkait dengan ideologi sosialisme komunis, pada artikel ini hendak diuraikan tentang sifat latent ideologi ini. Benarkah sifat latent ini dikehandaki oleh pendukungnya? Ternyata tidak! Disebutkan oleh Andrew Taylor (2011) dalam buku 'Buku-buku Yang Mengubah Dunia', bahwa dalam The Communist Manifesto di bagian penutup Karl Marx menyerukan untuk persatuan internasional dan pernyataan keinginan yang tegas: "Kaum komunis merasa terhina untuk menyembunyikan pandangan dan tujuannya. Mereka secara terbuka mendeklarasikan bahwa tujuan akhir mereka dapat dicapai hanya dengan penggulingan paksa semua kondisi sosial yang ada".

Rencana Sepuluh Pasal Manifesto

Dalam The Communist Manifesto, Karl Marx memberikan sepuluh kebutuhan dasar untuk membangun komunisme di negara maju, yaitu:
(1) Penghapusan kepemilikan dan penetapan sewa untuk semua keperluan publik
(2) Pajak penghasian yang sangat progresif dan bergradasi.
(3) Penghapusan semua hak waris
(4) Pengambilalihan harta benda semua emigran dan pemberontak.
(5) Pemusatan kredit di tangan negara melalui sebuah bank nasional dengan modal negara dan monopoli eksklisif.
(6) Pemusatan sarana komunikasi dan transportasi di tangan negara.
(7) Perpanjangan pabrik dan perangkat produksi milik negara, pemanfaatan lahan kosong hingga memberikan hasil dan perbaikan tanah secara umum sejalan dengan rencana umum.
(8) Kesetaraan kewajiban bagi semua orang untuk bekerja. Pembentukan angkatan perang industrial khususnya pada bidang agrikultur.
(9) Kombinasi antara agrikultur dan industri manufaktur, penghapusan bertahap terhadap perbedaan antara perdesaan dan kota dengan pendistribusian penduduk yang lebih setara di seluruh negara.
(10) Pendidikan gratis di sekolah negeri bagi anak-anak. Penghapusan buruh anak dalam bentuknya saat ini. Kombinasi pendidikan dengan produksi industri.

The communist manifesto ini dapat dikatakan sebagai akte kelahiran bagi komunisme internasional. Pemikiran Marx yang dituangkan dalam Manifesto adalah salah satu kekuatan pendorong di belakang Revolusi Rusia 1917. Dengan cara yang berbeda para pemimpin seperti Vladimir Ilyich Lenin (1870-1924), Josef Stalin (1878-1953), dan di Cina Mao Zedong (1893-1976) menyatakan mengembangkan pemikiran Marx, sehingga penderitaan mendalam umat manusia yang terjadi di bawah Rencana Lima Tahun Stalin pada akhir 1920-an dan 1930-an, serta loncatan Besar ke Depan Mao 20 tahun kemudian dapat ditelusuri balik ke The Communist Manifesto tersebut. 

3. Uji Kebenaran Ideologi Islam

Islam memandang bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu sekaligus pengatur kehidupan. Dialah yang mengutus para Nabi dan Rasul dengan membawa agama-Nya untuk seluruh umat manusia. Dan bahwa kelak manusia akan di-hisab atas segala perbuatannya di hari Kiamat. Karena itu, akidah Islam mencakup Iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan hari Kiamat, serta qadla-qadar, baik buruknya dari Allah SWT.

a. Apakah Ideologi Islam Sesuai dengan fitrah manusia?

Sebab ia mempercayai adanya agama dan adanya kewajiban merealisir agama dalam kehidupan ini, serta menjalankan kehidupan sesuai dengan perintah dan larangan atau aturan Allah SWT. Beragama itu sesuai dengan fitrah. Dan salah satu penampakan naluri ini adalah taqdis (mengkultuskan sesuatu). Taqdis berlawanan dengan reaksi naluri-naluri lainnya. Penampakkan itu merupakan hal yang wajar bagi naluri (beragama). Jadi, beriman kepada agama dan wajib menyesuaikan amal perbuatan manusia di dalam kehidupan sesuai dengan perintah dan larangan Allah, merupakan sesuatu yang naluriah. Karena ia sesuai dengan fitrah manusia, maka mudah diterima oleh manusia.

b. Apakah Ideologi Islam dibangun berlandaskan akal sehat?

Qiyadah fikriyah Islam adalah qiyadah fikriyah yang positif. Karena menjadikan akal sebagai dasar untuk beriman kepada wujud Allah. Qiyadah ini mengarahkan perhatian manusia terhadap alam semesta, manusia, dan hidup, sehingga membuat manusia yakin terhadap adanya Allah yang telah menciptakan makhluk-makhluk-Nya. Di samping itu qiyadah ini menunjukkan kesempurnaan mutlak yang selalu dicari oleh manusia karena dorongan fitrahnya. Kesempurnaan itu tidak terdapat pada manusia, alam semesta, dan hidup. Qiyadah fikriyah ini memberi petunjuk pada akal agar dapat sampai pada tingkat keyakinan terhadap Al-Khaliq supaya ia mudah menjangkau keberadaan-Nya dan mengimani-Nya.

C. Kualifikasi Pancasila Sebagai Ideologi dan Kebenarannya berdasar kesesuaiannya dengan sifat fitrah dan akal sehat manusia.

Banyak pertanyaan yang berkelindan untuk menguji kualifikasi dan kebenaran Pancasila sebagai ideologi.

1. Apakah Pancasila dapat dinyatakan sebagai sebuah ideologi?

Untuk membuktikan apakah Pancasila dapat dinyatakan sebagai sebuah ideologi atau bukan, maka kita harus kembali menarik arti atau apa definisi dari ideologi itu. Pertama, kami akan mencoba menelaahnya dari sisi ideologi diartikan sebagai mabda. Mabda atau ideologi adalah aqidah aqliyah (keyakinan dasar) yang bersifat rasional yang melahirkan peraturan. Mabda terdiri dari dua unsur pokok; yaitu Fiqrah (hal pokok) dan Thariqah (metode). Fiqrah terdiri dari Akidah dan solusi, sedangkan thariqah terdiri dari; cara melaksanakan solusi, cara menjaga ideologi dan cara menyebarkan ideologi tersebut.

Yang dimaksud akidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup; serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan. Sedangkan peraturan yang lahir dari akidah tidak lain berfungsi untuk memecahkan dan mengatasi berbagai problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pelaksanaan pemecahannya, memelihara akidah serta untuk mengemban mabda. Lalu apakah Pancasila selaras dengan sebagaimana definisi sebuah ideologi yaitu aqidah aqliyah yang melahirkan sebuah aturan-aturan dan memiliki dua unsur pokok dalam sebuah ideologi yakni fiqrah dan thariqah tersebut? 

Untuk itu kita bisa bertanya apakah Pancasila merupakan pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup; serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan? Selanjutnya kita bisa bertanya, apakah ada peraturan yang lahir dari akidah tersebut yang berfungsi untuk memecahkan dan mengatasi berbagai problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pelaksanaan pemecahannya, memelihara akidah serta untuk mengemban mabda?

Pada kenyataannya dapat dikatakan ternyata tidak memenuhi persyaratan tersebut. 

(1) Pancasila bukan merupakan pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup; serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan. Dilihat dari kedudukannya, Pancasila hanya menjadi nilai dasar untuk mengatur kehidupan duniawi khususnya dalam kehidupan menegara, sesuai dengan ketentuan Pembukaan UUD NRI 1945 aline ke-4 dan Tap MPR No. XVIII/MPR/1998. Pancasila tidak memiliki karakter pemikiran yang tegas tentang alam semesta, manusia dan hidup; serta tentang apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan tanpa diisi oleh substansi ideologi lain yang sudah ada yaitu kapitalisme, komunisme dan Islam. 

(2) Idealnya setiap ideologi akan ada aturan tentang tata kehidupan di berbagai hidang dilahirkan darinya, dan setiap aturan ada rujukan sumbernya. Misal, apakah betul Indonesia sudah mempunyai konsep aturan ekonomi Pancasila yang telah mapan? Dan apa yang menjadi sumber aturan tertulisnya? Apakah sudah tersedia secara khusus konsep yang berisi aturan tentang demokrasi Pancasila yang telah mapan? Namun ternyata hingga kini kesemuanya tampak rancu dan tak mampu dijelaskan karena model ekonomi, politik demokrasinya lebih terisi oleh berbagai ideologi dunia yang tengah bersaing.

Yang kita dapat fahami adalah Pancasila hanyalah sebuah dasar falsafah negara (Philosophische Grondslag) yang mencakup nilai-nilai luhur yang ingin dicapai oleh para pencetusnya dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara. 

"Philosophische Grondslag" (Filosofi dasar) atau dalam bahasa Jerman "Weltanschauung" (view to the world atau pandangan dunia) adalah penjelasan tentang sebuah alasan atas sebuah eksistensi. Pancasila disebutkan filosofis dasar, kala dulu, karena menjelaskan alasan "adanya" sebuah negara baru, yakni negara Indonesia.
Namun, dapat dinyatakan bahwa falsafah dasar itu bukan bersumber dari akidah aqliyah yang dapat terealisasi ke dalam fiqrah dan thariqahnya untuk dapat mewujudkan nilai-nilai luhur tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa Pancasila tidaklah bisa dinyatakan sebagai sebuah ideologi jika diukur dari pengertian mabda.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah mungkin Pancasila menjadi ideologi dalam perspektif lain, yakni hanya sekedar pemikiran dasar yang menggerakkan para pendukungnya dalam mencapai cita-cita hidup suatu bangsa. Ketika Pancasila dimaknai sebagai ideologi negara, maka Pancasila dimaknai bukan sekedar filosofi dasar ataupun "living spirit", melainkan sebuah ajaran baku yang menggerakkan bangsa kita. Yang pertama lebih statis, sebaliknya yang terakhir lebih dinamis.

Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Pancasila dapat bergeser dari filsafat dasar menjadi sebagai ideologi. Pergeseran ini, menurut Buyung Nasution (Disertasi: Utrech, 1992), dimulai ketika Sukarno berpidato di Amuntai, Kalimantan, 1953, tentang Pancasila vs Islam. Sukarno, yang sebelumnya melihat Pancasila sebagai konsensus/filosofi dasar untuk mengakomodasi berbagai ideologi dan faham yang berkembang di Indonesia, mulai mengkristalkan Pancasila sebagai sebuah ajaran khusus menjadi sebuah ideologi. 

Atas dasar pemikiran ini, Sukarno sebenarnya telah meninggalkan Pancasila dari "filosofi dasar" (yang dalam istilah Jean Paul Sartre sebagai "major system of thought"), kepada ideologi, (Sartre: "minor system of ideas living on the margin of the genuine philosophy and exploiting the domain of greater system). Agar Pancasila bisa menjadi ideologi, Sukarno mengintegrasikan Komunisme sebagai kekuatan inti dan pandangan-pandangan anti Islam sebagai penguat, pada ajaran Sosialisme Sukarno tersebut. Melalui Komunisme, Sukarno mampu menemukan kembali semangat perlawanan dan ambisinya untuk menantang Kapitalisme global. Komunisme mengajarkan bagaimana menemukan "false consciousness" untuk merekonstruksi eksistensi "kaum Marhaen" sebagai sebuah "Class Consciousness".

Setelah 15 tahun Pancasila dengan inti Komunisme dijalankan Sukarno, dan berakhir lumpuh tahun 1968, ketika era Bung Karno berakhir. Selanjutnya, Pancasila kembali bergeser dari ideologi menjadi "philosophische Grondslag" atau "Weltanschauung" di masa Orde Baru (Syahganda Nainggolan, Republika: 8 Des 2019).

Berdasar analisis di muka, sebenarnya dapat dinyatakan bahwa Pancasila juga sebagai sebuah ideologi yang bersifat pragmatis dalam pengertian bahwa Pancasila itu berkarakter "in beetwen" atau ideologi netral seperti kertas yang bersih (tabula rasa). Menjadi bermakna pergerakan ketika diisi oleh intisari ideologi lain, bisa komunisme, kapitalisme atau campuran keduanya atau pula diisi dengan ideologi Islam. 

2. Bagaimana kebenaran ideologi Pancasil jika ditinjau dari kesesuaian dengan fitrah dan pertimbangan akal sehat?

Lebih mendalam lagi jika Pancasila masih bersikeras untuk dinyatakan sebagai sebuah ideologi, maka mari kita bersama mencoba untuk kembali menguji kebenarannya melalui dua hal pertanyaan yang serupa yang diajukan untuk ketiga ideologi lain terdahulu.

a. Apakah ideologi Pancasila sesuai dengan fitrah manusia?

Adapun secara fitrah, sebuah ideologi seharusnya bersumber dari aqidah yang berada dalam jiwa pemiliknya yaitu dari naluri beragama (religiusitas), yang mendorongnya untuk cenderung untuk melakukan pengagungan/pemujaan kepada Zat yang lebih tinggi dari dirinya yang menjadi landasan dalam aturan kehidupannya. Jadi, sebuah ideologi hidup yang benar mestinya ada di dalamnya tiga hal fitranya manusia yaitu: (1) ketundukan kepada sang khaliq (tauhid); (2) perwujudan perbuatan penyembahan kepada sang khaliq ( ibadah); (3) kemauannya untuk menegakkan hukum sang khaliq (syariah). 

Ketika Pancasila lebih berorientasi pada kehidupan keduniawian (materialsme komunis dan kapitalis) maka akan berakhir pada gaya hidup yang sekuler, dan gaya ini tidak sesuai fitrah hidup manusia. Keadaan ini diperparah dengan terjadi pada pengemban ideologi Pancasila dewasa ini adalah tidak disertakan aturan-aturan agama atau sang pencipta pada setiap pelaksanaan butir-butir atau isi-isinya. Karena peraturan yang dibuat juga sering berubah-ubah sesuai dengan kecenderungan, hawa nafsu dan kepentingan yang mengembannya. Oleh karena itu, yang terjadi adalah justru melahirkan banyaknya perbedaan, pertentangan, konflik, ekses negatif bahkan kekacauan di dalam pelaksanaannya tersebab tidak sesuai dengan fitrah manusia. 

b. Apakah Idelogi Pancasila dibangun berlandaskan akal sehat?

Dalam tinjauan akal, tentu saja Pancasila dibangun berlandaskan akal dari para pencetusnya, namun tidak semua yang dibangun oleh akal itu termasuk kategori Mabda yang berdasarkan aqidah aqliyah. Ini terlihat dalam pengakuan terhadap eksistensi Tuhan pada sila pertama dalam Pancasila kontradiktif dengan tidak adanya otoritas Tuhan untuk mengatur kehidupan dalam pelaksanaannya menunjukkan suatu ketidakrasionalan. Pancasila dibangun oleh akal yang dituntun berdasarkan nafsu bukan berdasarkan akidah atau Wahyu.

Secara akal sebuah ideologi seharusnya memiliki Fikrah (Ide pokok) dan metode (Thariqah) di dalam mengembannya. Maka jika Pancasila adalah ideologi maka seharusnya Pancasila mampu dilaksanakan dalam tiga hal sebagai berikut:

Pertama, bagaimana cara melaksanakan solusi atau nilai-nilai luhur sebagaimana yang terdapat dalam isi atau butir-butir Pancasila yang menjadi dasar dan landasan bernegara di negara ini.

Kedua, bagaimana cara menjaga ideologi itu sendiri. Pancasila yang diakui sebagai ideologi bangsa seharusnya mampu melahirkan solusi-solusi terhadap berbagai persoalan yang melanda negara ini dalam setiap aspeknya. Agar selalu terjaga kebenarannya.

Dan ketiga, bagaimana cara dalam menyebarkan ideologi tersebut. Karena idealnya sebuah ideologi seharusnya bisa disebarkan ke seluruh dunia seperti halnya Ideologi Liberal Kapitalisme, Sosial Komunisme maupun Islam.

Berdasarkan dari sejumlah uraian di atas, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Berdasarkan sejarah perumusannya, diyakini material Pancasila merupakan hasil tawar menawar dari 3 ideologi yang telah ada karena tidak ada yang dimenangkan salah satunya. Boleh disebut Ideologi kompromis. 

Setelah lahir maka pertumbuhan ideologi ini juga tergantung dari SIAPA PENGEMBAN dan SIAPA YANG MENYUSUI alias DI PANGKUAN SIAPA PANCASILA itu dipelihara, dipahami, dikembangkan dan ditaati. Jadi Pancasila bisa diterjemahkan secara liberal kapitalistik, sosialisme komunis atau diwarnai secara Islami. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena semuanya tergantung pada keras lembutan ayunan jarum pendulum lonceng masing-masing ideologi yang saling berebut pengaruh. Padahal sejatinya sebuah ideologi haruslah bersifat ajeg atau independen.

2. Kebenaran sebuah ideologi dapat diukur dengan tolok ukur dalam qaidah fikriyah (landasan berpikir)-nya yang memenuhi 2 (dua) ketentuan, yaitu: kesesuaian dengan fitrah manusia dan dibangun berlandaskan pertimbangan akal sehat manusia. Bedasarkan analisis yang dilakukan, terbukti hanya ideologi Islam yang memenuhi kualifikasi ideologi dengan tolok ukur tersebut.

Ideologi Islam, yang terlahir dari aqidah yang mempercayai adanya agama dan adanya kewajiban merealisir aturan agama dalam kehidupan, sesuai dengan perintah dan larangan atau aturan Allah SWT, dan hal itu merupakan sesuatu yang naluriah sesuai dengan fitrahnya manusia. Qiyadah fikriyah Islam adalah qiyadah fikriyah yang positif yang menunjukkan kesempurnaan mutlak yang selalu dicari oleh manusia karena dorongan fitrahnya. Kesempurnaan itu tidak terdapat pada manusia, alam semesta, dan hidup. Qiyadah fikriyah ini memberi petunjuk pada akal agar dapat sampai pada tingkat keyakinan terhadap Al-Khaliq, Allah SWT supaya ia mudah menjangkau keberadaan-Nya dan mengimani-Nya sepenuhnya.

3. Untuk membuktikan apakah Pancasila dapat dinyatakan sebagai sebuah ideologi atau bukan, maka Pancasila haruslah memiliki dua unsur pokok pada suatu ideologi atau Mabda yang terdiri dari Fiqrah (hal pokok) dan Thariqah (metode). Fiqrah terdiri dari Akidah dan solusi, sedangkan thariqah terdiri dari cara melaksanakan solusi, cara menjaga ideologi dan cara menyebarkan ideologi tersebut.

Yang kita dapat fahami adalah Pancasila hanyalah sebuah dasar falsafah negara (Philosophische Grondslag) yang mencakup nilai-nilai luhur yang ingin dicapai oleh para pencetusnya dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Terkait dengan kebenaran ideologi Pancasila, Pancasila itu sendiri bukanlah ideologi yang bersumber dari akidah aqliyah yang dapat terealisasi ke dalam fiqrah dan thariqahnya untuk dapat mewujudkan nilai-nilai luhur tersebut. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Pancasila tidaklah bisa dinyatakan sebagai sebuah ideologi jika diukur dari pengertian mabda dan tidak sejalan dengan fitrahnya manusia karena Pancasila dibangun oleh akal yang dituntun hanya berdasarkan nafsu kompromi manusia bukan berdasarkan akidah atau Wahyu Sang Pencipta. 

Oleh karenanya, Pancasila tetap lebih tepat ditempatkan sebagai Philosophische Grondslag (Falsafah Dasar) NKRI yang berfungsi sebagai Grundnorm dalam sistem peraturan perundang-undangan di Indonesia. Penormatifan keluhuran nilai falsafah Pancasila hanyalah upaya men-down grade-nya sehingga justru merupakan sebuah kemunduran karena justru cenderung menjadikan Pancasila sebagai alat gebuk oleh rezim terhadap lawan politiknya.[]

Oleh: Prof. Dr. Suteki S.H. M. Hum. dan Liza Burhan



Posting Komentar

0 Komentar