TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Mendulang Berkah di Balik Sampah

sumber foto: hariansederhana.com

   Tak ada satupun manusia yang tak berhubungan dengan sampah, bahkan menjadi penghasil sampah setiap hari. Bahkan manusia setiap hari bisa menghasilkan sampah sebanyak 3 kg. Sampah yang dihasilkan tiap hari inilah yang menjadi masalah jika penanganannya salah.

  Tumpukan sampah menjadi yang menjadi masalah tidak hanya di perkotaan besar, bahkan di desa-desa sudah mulai nampak tumpukan-tumpukan sampah di pinggir-pinggir jalan, di kebun-kebun yang tidak diurus, bahkan banyak juga sampah yang ikut aliran di sungai kecil di pedesaan.

  Itu baru sampah yang dihasilkan rumah tangga, ada pula sampah yang dihasilkan pabrik-pabrik besar yang berupa limbah. Dan yang mengerikan banyak limbah pabrik dibuang ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu. Sehingga mencemari sungai dan merusak ekosistemnya. Belum ada ketegasan dari penguasa untuk mereka tak lain tak bukan tentu karena pengusaha-pengusaha ini pemilik modal yang besar.

  Masalah sampah di dalam negeri belum usai, malah ditambah impor sampah. Seperti dilansir VIVAnews. 17/02/2020). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama komisi IV DPR RI menemukan 1078 kontainer bermuatan scrap plastik di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Ribuan kontainer ini akan dikembalikan akan dikembalikan ke negara asalnya karena bercampur sampah.

  Bukan hanya itu sebelumnya juga ditemukan lebih dari 2641 kontainer di Pelabuhan Tanjung Perak, Batam dan Pelabuhan Tanjung Priok dan  Tangerang bahkan banyak diantaranya yang memiliki kandungan bahan bahaya(B3). Tentu ini menambah masalah bagi dunia persampahan negara ini.

   Walaupun tidak sedikit yang mulai tergerak dari pribadi ataupun komunitas untuk mengelola sampah bahkan ada yang menjadikan urusan dengan sampah ini sebagai mata pencaharian dari pemulung yang hasilnya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari sampai pengepul barang bekas yang hasilnya mencengangkan.

   Ada pula yang mendaur ulang sampah-sampah menjadi barang kerajinan yang lebih bernilai guna atau bernilai seni. Ada pula yang mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos.

   Tapi ternyata hal itu belumlah cukup, karena seharusnya pengelolaan sampah ini melibatkan peran negara sehingga lebih efektif. Seperti dicontohkan dalam Islam. Sejak masa pemimpin negeri Muslim di abad 9-10 M yaitu pada masa Bani Umayyah jalan-jalan kota Cordoba telah bersih dari sampah. Karena ada mekanisme menyingkirkan sampah dari perkotaan, idenya dibangun oleh ilmuwan Muslim Qusta Ibnu Luqo,ar Razi Ibn al-Jazzar dan Al-Masihi.

   Banyak juga hadits Nabi yang menyebutkan tentang pentingnya kebersihan, diantara"Sesungguhnya Allah Ta'ala itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan, mulia dan menyukai kemuliaan, bagus dan menyukai kebagusan. Oleh sebab itu bersihkanlah lingkunganmu".(H.R AtTirmidzi)

    Islam juga memiliki tahapan dalam menjaga kebersihan dan mengelola sampah sebagai berikut:

1.Individual
   Islam mendorong kesadaran individu terhadap kebersihan hingga level asasi dan prinsipal yaitu keimanan terhadap syurga dan neraka. Sebagaimana dalam hadits Nabi Muhammad Saw "Islam itu bersih maka jadilah kalian orang yang bersih. Sesungguhnya tidak masuk syurga kecuali orang yang bersih"(H.R Baihaqi). Dengan hadits ini menumbuhkan kesadaran individu untuk memilah sampah rumah tangga.


2. Komunal
     Karena kondisi individu sangat terbatas dalam pengelolaan sampah. Maka    pengelolaan sampah komunal dilakukan dengan prinsip ta'awun, kerja sama.  Masyarakat  bisa dibebani memilah, membakar atau mengelola sampa h secara bergantian. Para aghniya bisa mewakafkan tanahnya untuk mengelola sampah.


3. Peran Pemerintah
    Pemerintah sebagai pemelihara urusan rakyat bertanggung jawab memberikan lingkungan sehat bagi rakyatnya. Tak dipungkiri pula pengelolaan sampah memerlukan biaya besar dan inovasi teknologi tinggi, maka pemerintah bisa bekerja sama dengan ilmuwan demi mengapresiasi dan mengadopsi inovasi teknologi tepat  dan ramah lingkungan. Hal ini dilakukan atas dasar mengurus rakyat bukan hanya mementingkan kepentingan pemilik modal.

  Pemerintah juga bisa menetapkan aturan yang jelas bagi perusak lingkungan hidup, seperti pengusaha yang membuang limbah sembarangan bisa segera diberi sanksi setelah cukup bukti. Demikian pula tak mungkin negara ini impor sampah karena mengutamakan kesejahteraan rakyat.

   Dengan kesadaran tinggi antara rakyat dan penguasa negeri yang berdasarkan syariat Islam maka pengelolaan sampah lebih terarah. Dan tentu karena dijalankan demi mentaati syariat Islam untuk menjaga kebersihan maka keberkahan akan didapat selain juga pasti mendapatkan kesehatan.[]

Oleh: Wijiati Lestari
Owner Taqiyya Hijab syar'i

Posting Komentar

0 Komentar