TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menangkal Paham Radikal atau Menyuburkan Paham Liberal?


Isu deradikalisasi masih mengisi suasana politik negeri. Meski dalam hiruk pikuk rakyat masa pandemi.

Setelah ajaran Khilafah dialihkan dari pelajaran fiqih ke pelajaran sejarah (tarikh), kini muncul usulan Imam masjid Istiqlal Nasrudin Umar untuk  mengkajian ulang pelajaran fiqih di pondok pesantren untuk menangkal paham radikal (CNNIndonesia, 10/6/2020)

Alih-alih berhasil menangkal paham radikal, justru kian menampakkan pemikiran yang dangkal dan liberal. Terlebih pernyataan ini keluar dari tokoh imam masjid, yang tentu bukan orang awam dalam masalah fikih. Namun, tak bisa kita pungkiri upaya untuk mendiskreditkan ajaran Islam khususnya Islam politik terus santer tiga tahun terakhir ini. 

Islamophobia terhadap ajaran Islam khilafah kian kental. Tidak jarang ajaran Islam terkait pemerintahan dibenturkan denga anti NKRI, paham radikal dan sebagainya.

Nasrudin Umar menganggap konsep negara Islam sudah tidak relevan. Bahkan konsep darul Islam, darul harbi, dan darul sulhi. Dianggap sebagi produk fikih era perang salib. Jika pernyataannya benar kenapa baru sekarang dipermasalahkan. Sedangkan kitab fikih yang memuat sistem negara Islam sudah tertulis sejak dulu. 

Yang lebih memprihatinkan penolakan terhadap konsep negara Islam dengan dalih  menjadikan fakta buruk permasalahan beberapa negeri timur tengah seperti Irak, Afganistan dan Suria sebagai contoh babak belurnya negara Islam saat ini adalah dalih yang dangkal dan tidak berdasar. Terlebih jika dikaji lebih lanjut segala kekacauan politik di negeri tersebut bukan karena Islam. Tapi karena ulah penjajah besar AS, Rusia dan negara barat lainnya yang berusaha menguasai kekayaan negeri-negeri tersebut dengan alasan memerangi terorisme.

Tak dapat dipungkiri semakin hari geliat tanda-tanda kebangkitan Islam makin dekat. Opini penegakan Islam politik melalui daulah khilafah terus membumbung di belahan bumi. Meski segala cara penghadangan dilakukan melalui antek negeri penjajah semangat perjuangan ini sekan tak pernah padam.

Tidak heran jika kondisi di atas makin memperjelas begitu paniknya  peradaban kapitalis terhadap kebangkitan peradaban Islam melalui Khilafah. Posisi kapitalisme yang makin terpuruk di segala bidang. Terlebih efek goncangan covid-19 menjadikan mereka dengan segala cara untuk mempertahankan posisinya.  Diantaranya menggunakan kaki tangan generasi kaum baik yang berfikir liberal untuk berkalabirasi dengan rezim antin Islam.

Fakta ini tentu cukup menjadi pemantik bagi kaum muslimim untuk segera mengambil langkah strategis dan membangun konsolidasi kekuatan umat agar kebangkitan segara terwujut. Dan upaya orang-orang kafir munafik yang senantiasa memusuhi Islam baik langsung atau tidak segera disudahi. Tanpa sistem khilafah Islam yang tangguh upaya Deislamisasi vdan kriminalisasi ajaran Islam.akan terus terjadi. Allahu a'lam bi shawab.

Oleh: Yuyun Rumiwati

Posting Komentar

0 Komentar