Membaca Misi Ekspedisi Militer China ke Laut China Selatan di Tengah Pandemi


“Menggiurkan !!!”. Ungkapan yang tepat untuk menggambarkan Laut China Selatan yang sangat strategis dan potensial, memiliki nilai ekonomis yang fantastis, sehingga selalu menjadi incaran negara-negara di sekitarnya maupun yang jauh sekalipun seperti Amerika. Negara-negara yang punya klaim atas sebagian Laut China Selatan adalah China, Indonesia, Malaysia, Vietnam, Taiwan, Filiphina, Brunei Darussalam. Namun, China mengklaim sebagian besarnya dari Laut China Selatan, yang selama ini klaim tersebut mengundang kecaman dari Amerika Serikat. 

Xi Jinping melakukan kunjungan ke komando militer sebagai bagian dari agenda empat hari perjalanannya ke Provinsi China Selatan. Kunjungannya kali ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan di tengah hambatan ekonomi dan meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Salah satu misi utama Komando Teater Selatan adalah mengawasi Laut China Selatan, sebuah wilayah di mana ketegangan dan aktivitas militer yang melibatkan China, AS, dan kekuatan lain. (www.cnnindonesia.com, Rabu, 27/05/20)

Tak khayal jika kawasan ini menjadi rebutan dan ajang unjuk gigi negara-negara besar, mengingat nilai ekonomis yang fantastis dimiliki Laut China Selatan. Pertama, kawasan ini menjadi jalur perdagangan lau besar hingga menghasilkan 5,3 triliun Dolar AS yang setara dengan sepertiga total perdagangan maritime global. Kedua, Laut China Selatan memiliki kandungan minyak yang diperkirakan sebesar 125 miliar barel dan gas alam yang diperkirakan sebesar 500 triliun kaki kubik yang belum eskplorasi. Ketiga, kekayaan biota lautnya mampu menghasilkan perikanan tangkap hingga 16,6 juta ton/tahun dengan keragaman ikan 3.365 spesies ikan. 

Kini negara-negara di dunia sedang sibuk untuk menghadapi pandemi Covid-19, China tengah mempersiapkan militernya yaitu Komando Teater Selatan untuk menjalankan misi mengawasi laut China Selatan. Pada akhirnya China menerjunkan armadanya melakukan eskpedisi militer ke Laut China Selatan, hingga aksi militer China ini membuat Amerika Serikat gusar. AS turut melakukan kontraksi otot militernya di kawasan ini dengan memobilisasi dukungan dari Australia dan sekutunya yang lain. 

Lantas, bagaimana harusnya kita membaca misi ekspedisi militer China ke Laut China Selatan ini? Apakah ada kaitannya dengan Indonesia?. Masih segar dalam ingatan kita bahwa sebelumnya kapal China pernah masuk ke perairan Natuna, dimana posisi Laut China Selatan ini berada di batas utara perairan Natuna. Reaksi Indonesia kala itu cool saja, meski para pengamat politik banyak yang menyatakan bahwa aksi kapal China tersebut sudah mengganggu kedaulatan Indonesia. Itu point pertama yang menandakan bahwa Indonesia pro China. 

Kini ekspedisi militer China ke Laut China Selatan juga ingin menjajaki bagaimana reaksi negara Amerika maupun negara-negara lainnya. Inilah yang dinamakan “Test the Water”. Amerika jelas-jelas menunjukkan kegeramannya, sudah barang tentu terbaca oleh China bahwa Amerika menjadi rival utamanya. Jika terjadi peperangan militer dalam dunia modern ini antara China versus AS, negara-negara lain di sekitar Laut China Selatan ini akan memihak yang mana, menentukan mana lawan dan mana kawan akan sangat mudah terbaca dari reaksi mereka dari aksi ekpedisi militer China ini dengan melihat arah kecenderungan. 

Dari aksi yang dilakukan China di Laut China Selatan ini, Indonesia terlihat tidak merespon dan stay cool. Beda halnya ketika nelayan Vietnam masuk ke perairan Indonesia, langsung ditangkap dan kapalnya ditenggelamkan. Padahal Vietnam adalah proxy Amerika. Dari hal ini dapat terlihat point kedua bahwa Indonesia ada kecenderungan dengan China dari pada Amerika. Dengan bukti juga ketika delegasi Amerika datang ke Indonesia pada tanggal 28 April 2020 meminta tempat pangkalan militer di Selat Malaka dan delegasi China datang pada tanggal 01 Mei 2020, jawaban Indonesia dengan diplomatis tidak mengijinkan Amerika untuk mangkal di Selat Malaka, sedangkan China diijinkan dan telah memiliki port kelang di Selat Malaka. 

Indonesia telah menggantungkan nasibnya pada China, meski tidak sepenuhnya bisa lepas dari Amerika. Indonesia tidak memiliki kemandirian, merelakan dengan terbuka menjadi negara jajahan dengan politik luar negeri bebas aktif. Sungguh disayangkan, Negeri Zamrud Khatulistiwa dengan segala potensi kekayaan alam di dalamnya harusnya mampu menjadi negara besar jika dikelola dengan politik yang benar. 

Politik yang benar sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW dan para khalifah selama kurang lebih 13 abad, politik di dalam negeri dengan penerapan islam secara sempurna dan politik luar negeri dengan dakwah dan jihad. Dengan demikian, di dalam negeri akan menjadi negara yang berintegritas tinggi dengan corak yang khas dengan segala kepengurusan umat sesuai standart islam. 

Begitu juga di kancah Internasional akan menjadi negara yang tegas dan lugas, tidak mudah terombang-ambing, karena jelas visinya adalah dakwah islam, menghilangkan setiap habatan fisik yang menghalangi dakwah, tidak akan pro asing maupun aseng.

Oleh: Sholihah, S.Pd 
(Institut Kajian Politik dan Perempuan)

Posting Komentar

0 Komentar