TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Memahami Makna Ulul Albab


Secara bahasa ulul albab berasal dari dua kata yaitu ulu dan al-albab. Ulu berarti ‘yang mempunyai’, sedang al albab sering diartikan dengan ‘akal’. Oleh sebab itu, ulul albab adalah ‘yang mempunyai akal’ atau ‘orang yang berakal’. 

Adapun ciri-ciri dari ulul albab, ada tiga yaitu :

1. Haus dalam Menuntut Ilmu Agama

Menuntut ilmu terutama ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap muslim. Sebagaimana Hadits riwayat Ibnu Majah, 

طَلَبُ اْلعِلْمْ فَرِثْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim."

Oleh sebab itu, mempelajari ilmu agama harus menjadi prioritas. Namun bukan berarti ilmu-ilmu lain harus diabaikan. Sebab dengan ilmulah, manusia dapat membangun kemajuan zaman dan memahami rahasia-rahasia yang Allah ciptakan. Dengan ilmu pula, manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Dan hanya ulul albab yang mampu mengambil pelajaran. 

Sebagaimana Allah SWT berfirman :

اَفَمَنْ يَّعْلَمُ  اَنَّمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَـقُّ كَمَنْ هُوَ اَعْمٰى ۗ  اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا  الْاَلْبَابِ 

"Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal yang dapat mengambil pelajaran,"
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 19)

Keutamaan dalam menuntut ilmu telah banyak dijelaskan dalam banyak hadits. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut :

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًايَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا,سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَىالجَنَّةِ . رَوَاهُ مُسْلِم

"Barang siapa menempuh satu jalan (cara) untuk mendapatkan ilmu, maka Allah pasti mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

Dalam riwayat yang lain dijelaskan,

مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبُ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ

Artinya : "Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang". (HR. Tirmidzi)

Rasulullah SAW juga menegaskan keutamaan dari ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat adalah salah satu dari tiga amal yang tidak terputus walaupun orang tersebut telah meninggal dunia. Seperti dijelaskan dalam hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : 

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍجَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Jika seorang manusia mati, maka terputuslah darinya semua amalnya kecuali dari tiga hal, dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim)

Itulah ciri pertama dari ulul albab yaitu orang yang tidak pernah berhenti dalam menuntut ilmu hingga akhir hayatnya. Dimana pun, kapan pun, di lembaga pendidikan formal maupun pendidikan informal. Ulul albab senantiasa memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh Allah dalam kehidupannya untuk selalu belajar dan terus belajar.

2. Mengambil Hikmah dari setiap Kejadian

Ciri kedua dari ulul albab adalah senantiasa mengambil hikmah dari setiap kejadian. Hikmah ini diberikan kepada Ulul Albab karena merekalah yang mampu mengambil pelajaran dari setiap kejadian. 

Sebagaimana Allah SWT berfirman:

يُؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَآءُ  ۚ  وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا  ۗ  وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الْاَلْبَابِ


"Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 269)

Luqman adalah salah satu manusia yang mendapatkan hikmah dari Allah SWT dan namanya tertulis abadi dalam kitab Alquran.

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗ  وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖ ۚ  وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ  حَمِيْدٌ

"Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji."
(QS. Luqman 31: Ayat 12)

Hikmah ini juga diberikan kepada para Rasul dan Nabi. Sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat Alquran. Antara lain:

1. Nabi Muhammad SAW

Allah SWT berfirman:

ذٰلِكَ نَـتْلُوْهُ عَلَيْكَ مِنَ الْاٰيٰتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

"Demikianlah Kami bacakan kepadamu (Muhammad) sebagian ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 58)

2. Nabi Isa AS

Allah SWT berfirman:

وَيُعَلِّمُهُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰٮةَ وَالْاِنْجِيْلَ 

"Dan Dia (Allah) mengajarkan kepadanya ('Isa) Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 48)

3. Nabi Ibrahim AS beserta Keluarganya

Allah SWT berfirman:

اَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّاسَ  عَلٰى مَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۚ  فَقَدْ اٰتَيْنَاۤ اٰلَ  اِبْرٰهِيْمَ الْـكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاٰتَيْنٰهُمْ مُّلْكًا عَظِيْمًا

"Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan (kekuasaan) yang besar."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 54)

4. Nabi Yusuf AS

Allah SWT berfirman:

وَلَمَّا بَلَغَ اَشُدَّهٗۤ اٰتَيْنٰهُ حُكْمًا وَّعِلْمًا   ۗ  وَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

"Dan ketika dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Yusuf 12: Ayat 22)

5. Nabi Yahya AS

Allah SWT berfirman:

يٰيَحْيٰى خُذِ الْكِتٰبَ بِقُوَّةٍ  ۗ  وَاٰتَيْنٰهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا  

"Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak,"
(QS. Maryam 19: Ayat 12)

6. Nabi Luth AS

Allah SWT berfirman:

وَلُوْطًا اٰتَيْنٰهُ حُكْمًا وَّعِلْمًا وَّنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِيْ  كَانَتْ تَّعْمَلُ الْخَبٰٓئِثَ ۗ  اِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمَ سَوْءٍ فٰسِقِيْنَ 

"Dan kepada Lut, Kami berikan hikmah dan ilmu dan Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang melakukan perbuatan keji. Sungguh, mereka orang-orang yang jahat lagi fasik,"
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 74)

7. Nabi Sulaiman AS

Allah SWT berfirman:

فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَ ۚ  وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًا ۖ  وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاوٗدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ   ۗ  وَكُنَّا فٰعِلِيْنَ

"Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat); dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya."
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 79)

8. Nabi Musa AS

Allah SWT berfirman:

وَلَمَّا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَاسْتَوٰۤى اٰتَيْنٰهُ حُكْمًا وَّعِلْمًا   ۗ  وَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

"Dan setelah dia (Musa) dewasa dan sempurna akalnya, Kami anugerahkan kepadanya Hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 14)

9. Nabi Dawud AS

Allah SWT berfirman:

فَهَزَمُوْهُمْ بِاِذْنِ اللّٰهِ  ۗ  وَقَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوْتَ وَاٰتٰٮهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ وَالْحِکْمَةَ وَعَلَّمَهٗ مِمَّا يَشَآءُ  ۗ  وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْاَرْضُ وَلٰـکِنَّ اللّٰهَ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ

"Maka mereka mengalahkannya dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut. Kemudian, Allah memberinya (Dawud) kerajaan, dan Hikmah, dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 251)

Hikmah tersebut hanya diberikan oleh Allah SWT kepada para Rasul, para Nabi dan Ulul Albab. Karena hanya merekalah yang mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi.

Peristiwa yang terjadi saat ini berupa pandemi virus corona yang belum juga terhenti, tentu banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Di antaranya adalah menunjukkan bahwa manusia begitu lemah dihadapan makhluk kecil tak kasat mata. Peristiwa ini juga menunjukkan kepada manusia tentang bagaimana rapuhnya sistem kapitalisme yang tak berdaya dalam menghalau corona.

3. Mengingat Allah dalam Keadaan Apapun

Ciri yang terakhir dari Ulul Albab adalah senantiasa mengingat Allah dalam keadaan apapun. 

Allah SWT berfirman:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ 
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,"
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 190)


الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ  وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۚ  رَبَّنَا مَا  خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا  ۚ  سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 191)

Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahihain dengan melalui Imran ibnu Husain, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

«صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبِكَ»


Shalatlah sambil berdiri. Jika kamu tidak mampu berdiri, maka shalatlah sambil duduk; dan jika kamu tidak mampu sambil duduk, maka shalatlah dengan berbaring pada lambungmu.
Mereka tidak pernah terputus dari berzikir mengingat-Nya dalam semua keadaan mereka. Lisan, hati, dan jiwa mereka semuanya selalu mengingat Allah SWT

{وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ}

dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (Ali Imran: 191) 

Mereka memahami semua hikmah yang terkandung di dalamnya yang menunjukkan kepada kebesaran Penciptanya, kekuasaan-Nya, pengetahuan-Nya, hikmah-Nya, pilihan-Nya, dan rahmat-Nya.

Syekh Abu Sulaiman Ad-Darani mengatakan, "Sesungguhnya bila aku keluar dari rumahku, tiada sesuatu pun yang terlihat oleh mataku melainkan aku melihat bahwa Allah telah memberikan suatu nikmat kepadaku padanya, dan bagiku di dalamnya terkandung pelajaran."  Demikianlah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abud Dunia di dalam Kitabut Tawakkul wal I'tibar. 

Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri bahwa ia pernah mengatakan, "Berpikir selama sesaat lebih baik daripada berdiri shalat semalam."

Al-Fudail mengatakan bahwa Al-Hasan pernah berkata, "Pikiran merupakan cermin yang memperlihatkan kepadamu kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukanmu."

Sufyan ibnu Uyaynah mengatakan bahwa pikiran merupakan cahaya yang memasuki hatimu. Adakalanya ia mengucapkan tamsil untuk pengertian tersebut melalui bait syair ini:

إِذَا الْمَرْءُ كَانَتْ لَهُ فِكْرَةٌ ... فِفِي كُلِّ شَيْءٍ لَهُ عِبْرَةٌ

Apabila seseorang menggunakan akal pikirannya, maka pada segala sesuatu terdapat pelajaran baginya.

Disebutkan dari Isa AS bahwa ia pernah mengatakan.”Beruntunglah bagi orang yang ucapannya adalah zikir, diamnya berpikir, dan pandangannya sebagai pelajaran."

Luqmanul Hakim mengatakan, 
"Sesungguhnya lama menyendiri mengilhamkan berpikir, dan lama berpikir merupakan jalan yang menunjukkan ke pintu surga."

Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa tidak sekali-kali seseorang lama menggunakan pemikirannya melainkan ia akan mengerti, dan tidak sekali-kali seseorang mengerti melainkan mengetahui, dan tidak sekali-kali pula seseorang mengetahui melainkan beramal.

Umar ibnu Abdul Aziz mengatakan, "Berbicara untuk berzikir kepada Allah SWT adalah baik, dan berpikir tentang nikmat-nikmat Allah lebih utama daripada ibadah."

Mugis Al-Aswad mengatakan, "Ziarahilah kubur setiap hari, niscaya menggugah pikiran kalian. Saksikanlah adegan hari kiamat dengan hati kalian, dan renungkanlah kedua golongan yang pergi ke dalam surga dan yang masuk ke dalam neraka. Gugahlah hati kalian dan tubuh kalian agar mengingat neraka dan beraneka ragam siksaan yang ada di dalamnya." Bila perkataannya sampai di situ, maka ia menangis, hingga tubuhnya diangkat oleh murid-muridnya karena pingsan.

Abdullah ibnul Mubarak mengatakan bahwa seorang lelaki bersua dengan seorang rahib di dekat sebuah kuburan dan tempat pembuangan sampah. Lalu ia memanggil rahib itu dan mengatakan kepadanya, "Hai rahib, sesungguhnya padamu terdapat dua perbendaharaan di antara perbendaharaan-perbendaharaan dunia. Keduanya mengandung pelajaran bagimu, yaitu perbendaharaan kaum lelaki dan perbendaharaan harta benda."

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bila ia ingin menyegarkan hatinya, maka ia datang ke tempat yang telah ditinggalkan oleh penghuninya (karena sudah rusak). Kemudian ia berdiri di depan pintunya, lalu berseru dengan suara yang lirih seraya mengatakan, "Ke manakah penghunimu?" Kemudian ia mengoreksi dirinya sendiri dan membacakan firman-Nya: 

{كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ}

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Zat Allah. (QS. Al-Qashash: 88)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah mengatakan, "Dua rakaat yang lamanya pertengahan dengan bertafakkur adalah lebih baik daripada berdiri salat sepanjang malam, sedangkan hatinya lupa."

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, "Hai anak Adam, makanlah (isilah) sepertiga perutmu dengan makanan, dan sepertiga lagi dengan minuman, dan kosongkanlah sepertiga lainnya untuk memberikan udara segar dalam bertafakkur."

Salah seorang yang bijak mengatakan, "Barang siapa memandang dunia tanpa dibarengi dengan pandangan mengambil pelajaran, maka akan padamlah sebagian dari pandangan mata hatinya sesuai dengan kelalaiannya."

Bisyr ibnul Haris Al-Hafi mengatakan, "Seandainya manusia bertafakkur merenungkan keagungan Allah Swt., niscaya mereka tidak berani berbuat durhaka kepada-Nya."

Al-Hasan meriwayatkan dari Amir ibnu Abdu Qais yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar bukan hanya dari seorang, dua orang, atau tiga orang dari kalangan sahabat Nabi Saw. Semuanya mengatakan, "Sesungguhnya sinar keimanan atau cahaya keimanan itu adalah tafakkur."

Diriwayatkan dari Isa AS, bahwa ia pernah mengatakan, "Hai anak Adam yang lemah, bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada. Jadilah kamu di dunia ini orang yang lemah, jadikanlah masjid-masjid sebagai tempat tinggal, ajarkanlah kepada kedua matamu menangis, juga kepada badanmu untuk bersabar, dan kepada hatimu untuk bertafakkur. Janganlah engkau pedulikan tentang rezeki keesokan hari."

Telah diriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar ibnu Abdul Aziz RA, bahwa ia pernah menangis di suatu hari di antara teman-temannya. Ketika ditanyakan kepadanya mengapa dia menangis, ia menjawab, "Aku sedang memikirkan perihal dunia dan kesenangan serta nafsu syahwatnya, maka aku dapat mengambil pelajaran dari-nya. Yaitu setiap kali nafsu syahwat belum terlampiaskan, maka terlebih dahulu dikeruhkan oleh kepahitannya. Sekiranya di dalam dunia tidak terdapat pelajaran bagi orang yang memikirkannya, sesungguhnya di dalam dunia terdapat peringatan bagi orang yang mengingat."

Begitulah ciri-ciri dari Ulul Albab. Maka, sebagai muslim selayaknya kita menuntut ilmu, mengambil hikmah dari setiap kejadian dan mengingat Allah dalam keadaan apapun sehingga kita tergolong sebagai ulul albab.

Dengan bekal ketakwaan kepada Allah SWT yaitu melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya, para ulul albab generasi pertama telah melahirkan ilmu-ilmu baru, dan membangun peradaban Islam yang berjaya selama 13 abad lebih.

Maka pada masa sekarang ini, semangat ulul albab generasi pertama itu sepantasnya direaktualisasikan kembali peranannya. Sehingga munculnya kembali peradaban gemilang yaitu Khilafah ala minhajin Nubuwwah akan segera terwujud.

Ulul albab generasi sekarang, hendaknya senantiasa haus akan ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu-ilmu yang lain, dalam rangka membangun peradaban Islam untuk menggantikan peradaban kapitalisme yang saat ini semakin rapuh dan sebentar lagi akan runtuh. Semangat ulul albab generasi sekarang jangan sampai padam karena sesungguhnya karakter sang ulul albab terletak pada tajamnya daya pikir dan yang lebih utama adalah kuatnya kemampuan dalam berzikir kepada Allah SWT.

Wallahu A'lam bish showab.

Oleh: Achmad Mu'it
Analis Politik Islam

Posting Komentar

0 Komentar