TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Me-Nusakambangan-kan Bandar Narkoba, Yakin Solutif?



41 napi bandar besar narkoba dipindahkan ke Nusakambangan oleh Ditjen PAS Kemenkum HAM kemarin pagi. Ketua Komisi III DPR RI Herman Hery yakin pemindahan bandar narkoba ini dapat memberikan efek jera terhadap tindak kejahatan narkoba. Hal itu sebagai komitmen pemerintah untuk memberantas peredaran narkoba di Indonesia.

Pemindahan bandar narkoba ke lapas Nusakambangan dengan kategori 'high maximum security", menurut Herman dapat memperkecil ruang gerak pengedar. Langkah ini pun dinilai tepat.(detiknews.com, 6/6/2020)

Benarkah demikian?. Sudah hampir 75 th Indonesia merdeka namun masalah narkoba yang telah menimbulkan berbagai kerusakan, kerusuhan, kejahatan bahkan pembunuhan belum juga tuntas diberantas.Peredaran narkoba kian merajalela. Tidak hanya di kota-kota, narkoba telah menyusup hingga ke desa-desa. Walaupun berkali kali bandar besarnya tertangkap.

Banyak kabar yang beredar, walaupun bandar besar ditangkap namun mereka masih bisa mengendalikan transaksi narkoba lewat telepon. Seperti contoh kasus peredaran narkoba jenis ganja sintetis atau tembakau gorila oleh penyidik Direktorat Reserse Narkoba(Ditresnarkoba) Polda Metro Jaya mengemukakan bahwa jaringan Jakarta-Surabaya dikendalikan oleh narapidana yang berada di balik jeruji besi yaitu napi dari dalam sel dan napi tersebut masuk pada tahun 2018 untuk kasus yang sama.(pikiranrakyat.com, 9/2/2020)

Ditambah lagi adanya Praktik jual-beli sel di Lembaga Pemasyarakatan. Sebagai contoh yang pernah terjadi didalam Lapas Sukamiskin yang akhirnya terungkap. Narapidana ternyata bisa memesan sel sebelum dieksekusi.

Hal itu dialami Fahmi Darmawansyah napi tipikor sekaligus terdakwa kasus suap izin keluar Lapas Sukamiskin. Suami dari aktris inneke Koesherawati ini mengaku membayar sel hingga Rp 700 juta kepada broker yang juga napi di Lapas Sukamiskin.

Praktik jual-beli sel mewah itu diungkapkan Fahmi saat menjadi saksi untuk terdakwa eks Kalapas Sukamiskin Wahid Husen dalam lanjutan persidangan di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung (detiknews.com, 6/2/2019).  

Tentu saja angka 700 juta tergolong kecil bagi bandar narkoba yang transaksi dari bisnis haramnya bisa mencapai Milyaran. Sebut saja Agus Sulo, Bandar Narkoba pemilik 10 kg narkoba jenis sabu. Agus memiliki aset bernilai Miliaran Rupiah dan Bermobil Ferrari saat 
berhasil ditangkap polisi pada 16 Mei 2019 lalu. Penyidik menyita aset Agus Sulo senilai Rp 16 miliar itu yang diantaranya dua unit mesin penggiling padi yang ditaksir mencapai nilai Rp 500 juta, 9 bidang tanah, satu pabrik rak telur, 7 unit mobil mewah, serta uang tunai sekitar Rp 2 miliar.(kompas.com, 20/7/2019). 

Sudah bisa di pastikan merekapun mampu membeli kamar mewah tersebut demi kehidupan yang nyaman selama dipenjara. Di Nusa Kambanganpun tak jauh berbeda, seperti yang dialami Bob Hasan di Lapas Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Sel pengusaha kroni Soeharto ini berpendingin udara dengan kamar mandi yang nyaman. Menurut sipir atau petugas penjara, fasilitas yang diberikan untuk Bob itu merupakan paket biasa.

Bob mendapatkan fasilitas helikopter untuk bepergian keluar Nusa Kambangan. Helikopter digunakan Bob untuk menemui keluarga dan rekan binisnya di Jakarta.(tempo.co.id, 23/7/2018)

Inilah sebab mengapa Persoalan narkoba tak kunjung berhasil diberantas. Hal ini bukan hanya sekadar persoalan perilaku individual. Jauh dari itu, narkoba adalah bagian dari sistem hidup tertentu. Adanya landasan sistem sekuler liberalis kapitalis adalah untung-rugi. Sistem kapitalis-liberal yang membolehkan segala jenis barang untuk diperjual-belikan tak peduli halal dan haram asalkan menguntungkan tak terkecuali praktik jual beli fasilitas kamar mewah didalam penjara. Dalam sistem ini, terlihat jelas bahwa hukumnya sangat lemah karena tidak bisa membuat jera pelakunya.

Penjara dalam Pandangan Islam

Islam memandang bahwa penjara adalah salah satu jenis dari ta’zir. Ta’zir adalah sanksi yang kadarnya ditetapkan oleh Khalifah. Syaikh Abdurrahman al-Maliki dalam buku Sistem Sanksi dalam Islam menjelaskan, bahwa pemenjaraan memiliki arti mencegah atau menghalangi seseorang untuk mengatur diri sendiri. Artinya, kebebasan atau kemerdekaan individu untuk benar-benar dibatasi sebatas apa yang dibutuhkannya sebagai seorang manusia. Sanksi dengan model pemenjaraan, telah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan Khulafaur Rasyidin.

Pada masa Rasulullah saw dan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, sanksi pemenjaraan itu kadang ditempatkan di dalam rumah, kadang di masjid. Artinya, belum dibuatkan ruang penjara secara khusus. Kemudian pada masa Khalifah Umar bin Khathab ra, beliau telah menjadikan rumah Shafyan bin Umayyah sebagai penjara setelah dibeli dari pemiliknya seharga 400 dirham. Kemudian Khalifah Ali bin Abu Thalib ra pernah membuat penjara yang diberi nama Nafi’an dan Makhisan.

Dalam buku Sistem Sanksi dalam Islam dijelaskan, bahwa penjara adalah tempat untuk menjatuhkan sanksi bagi orang yang melakukan kejahatan. Ini artinya, penjara adalah tempat dimana orang menjalani hukuman, yang dengan pemenjaraan itu seorang penjahat menjadi jera dan bisa mencegah orang lain melakukan kejahatan serupa.

Karena itu, penjara harus memberi rasa takut dan cemas bagi orang yang dipenjara. Tidak boleh ada lampu yang terang (harus remang-remang) dan segala jenis hiburan. Tidak boleh ada alat komunikasi dalam bentuk apapun. Hal itu karena ‘dia’ adalah penjara, tempat untuk menghukum para pelaku kejahatan. Tidak peduli, apakah dia miskin atau kaya; tokoh masyarakat atau rakyat biasa. Semua diperlakukan sama. Namun demikian seorang narpidana  tetap mendapatkan makan, minum yang layak dan kunjungan keluarga dengan aturan waktu dan jam yang dibatasi.

Didalam penjara para napi ini akan mendapatkan pembinaan rutin untuk menanamkan akidah islam kedalam pemikiran mereka. Dengan demikian mereka akan memahami bahwa diri mereka adalah seorang muslim bukan sekuler, komunis atau yang lainnya. Akidah islam inilah yang kemudian akan menjadi landasan dalam berfikir atau menilai segala sesuatu tentang hakikat benar dan salah sesuai syariat islam.

Karena itulah, Ma’iz bin Malik al-Aslami mengakui perzinaannya di hadapan Rasulullah dan meminta beliau untuk merajamnya. Ma’iz berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَزَنَيْتُ وَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ تُطَهِّرَنِي

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku, karena aku telah berzina, oleh karena itu aku ingin agar anda berkenan membersihkan diriku.”

Setelah Rasulullah memastikan bahwa pengakuannya benar, maka Rasulullah saw. pun membuatkan lubang eksekusi dan merajamnya hingga meninggal dunia.

Begitu juga dengan seorang wanita dari Bani Ghamidiyah. Dia datang kepada Rasulullah saw, meminta untuk dihukum rajam karena mengaku telah berzina sebagaimana Ma’iz bin Malik. 

Kemudian Rasulullah memintanya untuk melahirkan bayinya terlebih dahulu. Setelah bayi yang dikandungnya lahir dan selesai disapih, wanita itu datang lagi kepada Rasulullah saw. dan minta dihukum rajam. Kemudian Rasulullah saw. pun merajamnya. 

Bisa kita renungkan, apa yang menyebabkan seorang Ma’iz dan seorang wanita Ghamidiyah meminta untuk dirajam hingga tewas? Hal ini tidak lain karena mereka mengetahui bahwa kejahatan yang mereka lakukan, kelak akan dibalas oleh Allah di akhirat seandainya kejahatan tersebut tidak ditebus di dunia. Ini artinya, sanksi atau sistem hukum Islam tidak hanya berperan sebagai pencegah manusia melakukan kejahatan(zawajir), namun juga berfungsi sebagai penebus dosa atas kejahatan yang dilakukannya(jawabir)

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ubadah bin Shamit ra, bahwa Rasulullah saw bersabda,

بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ وَلَا تَعْصُوا فِي مَعْرُوفٍ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ

“Berbai’atlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak membuat kebohongan yang kalian ada-adakan antara tangan dan kaki kalian, tidak bermaksiat dalam perkara yang ma’ruf. Barangsiapa diantara kalian yang memenuhinya maka pahalanya ada pada Allah dan barangsiapa yang melanggar dari hal tersebut lalu Allah menghukumnya di dunia maka itu adalah kafarat (denda, penebus) baginya, dan barangsiapa yang melanggar dari hal-hal tersebut kemudian Allah menutupinya (tidak menghukumnya di dunia) maka urusannya kembali kepada Allah, jika Dia mau, dimaafkannya atau disiksanya“.

Dan kita lihat, betapa negara berhasil mendidik ketakwaan warga negaranya, sampai-sampai rasa takutnya kepada Allah jauh lebih tinggi daripada rasa takutnya akan kematian. Bahkan, kematian itu sama sekali tidak ditakutinya.

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar