TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Masuk Sekolah di Tengah Covid-19 Harus Dipikir Ulang



Wacana pembukaan sekolah untuk zona hijau di Indonesia yang disampaikan Pemerintah Pusat nampaknya harus dipertimbangkan kembali. Karena tak serta merta daerah akan siap melakukan hal tersebut. Merespon rencana new normal tersebut, Anggota Komisi VIII DPR-RI, Bukhori Yusuf, mengkritik langkah yang hendak dilakukan oleh pemerintah dengan membuka kembali sekolah di tengah situasi krisis. Menurutnya, rencana tersebut adalah tindakan gegabah. Ia mengimbau agar pemerintah perlu memastikan kondisi sudah terkendali lebih dahulu sebelum new normal diberlakukan. “Dalam menetapkan new normal harus dipastikan bahwa penyebaran virus telah tidak ada kenaikan lagi atau sekurang-kurangnya telah mengalami penurunan meskipun belum sampai titik semula sebelum terjadi corona outbreak,” tutur Bukhori melalui siaran pers di Jakarta (29/05/2020). Kompas.com

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang menelusuri dan menghitung secara mandiri data COVID-19 pada anak Indonesia mencatat ada setidaknya 3.324 anak yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) sampai 18 Mei yang lalu. Dari jumlah itu, IDAI juga menemukan sebanyak 129 anak yang berstatus PDP meninggal dunia, sementara jumlah anak yang sudah terkonfirmasi positif COVID-19 berjumlah 584 anak. 14 anak diantaranya meninggal dunia dengan status positif virus corona. Namun saat dihubungi ABC pada Selasa (02/06), Ketua Umum IDAI, dr Aman B Pulungan mengatakan, jumlah kematian anak pasien COVID-19 di Indonesia per 1 Juni 2020 menurut catatan IDAI telah naik menjadi 26 orang. (https://news.detik.com)

Melihat data diatas sungguh sangat miris sekali jika sekolah dibuka ditengah pandemi dengan kebijakan new normal ini. Beberapa netizen dengan akun guru, banyak yang mengkritik kebijakan masuk sekolah ditengah pandemi, pasalnya mereka khawatir jika nantinya anak-anak akan menjadi korban covid 19. Di wado sumedang, ada salah satu guru PAUD yang mengajar di RA Al- Jauhar ia mengatakan ‘jangan salahkan guru jika setelah ada wacana masuk sekolah ditengah pandemi covid 19, ternyata berdampak pada kesehatan anak, yang mesti disalahkan adalah pemerintah yang memberikan kebijakan”.

Bahkan dalam Islam, nyawa seseorang apalagi nyawa banyak orang benar-benar dimuliakan dan dijunjung tinggi. Menghilangkan satu nyawa manusia disamakan dengan membunuh seluruh manusia (Lihat: QS al-Maidah [5]: 32). Nabi saw. juga bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim (HR an-Nasai, at-Tirmidzi dan al-Baihaqi).

Belum lagi kritikan yang lain, pasalnya meski sekolah dibuka di era new normal, yang mana sekolah harus melakukan protokol kesehatan. Pihak sekolah harus menyediakan infrared digital thermometer, handsanitizer, tempat cuci tangan, dan upaya kesehatan lainnya seperti jaga jarak, menggunakan masker dan tidak boleh berkerumun. 

Pihak sekolah bingung dari mana dana yang harus dikeluarkan untuk menyediakan alat-alat penunjang dalam menjalankan protokol kesehatan di era new normal ini. Bagaimana pula menjelaskan dan melakukan prosedur protokol kesehatan. Yang mana anak usia PAUD dan SD akan sulit untuk memahami aturan ini, jangankan anak- anak yang masih kecil, orang yang sudah dewasa pun masih banyak yang melanggar prosedur ini, banyak yang tak pakai masker, tidak jaga jarak, dan masih berkerumun.

Tak hanya guru, para orang tua pun mengkritisi kebijakan ini, mereka tak mau menyekolahkan anak mereka jika pandemi belum usai, mereka tak mau anak yang menjadi korban, terlebih 3 bulan kebelakang kondisi ekonomi mereka sudah terdampak jangan sampai kesehatn pun terdampak pula. Ada juga dari orang tua yang merasa bingung, pasalnya ketika ada wacana masuk sekolah ditengah pandemi dengan kebijakan new normal menambah biaya pengeluaran, karena yang dipikirkan oleh anak-anak mereka adalah model masker, jumlah masker yang harus dimiliki, dll. ada yang memaksa orang tuanya untuk membelikan masker medis, padahal harga masker medis masih mahal dan ketersediannya terbatas, ada pula yang ingin punya jumlah banyak agar tiap hari bisa ganti masker dengan beberapa warna dan model. Menurut mereka para orang tua kebijakan ini, hanya menambah masalah jika sekolah dibuka ditengah pandemi yang kurvanya belum melandai.

Berbeda dengan respon dari para siswa, mereka sangat senang dan antusias dengan kebijakan ini, mereka sudah sangat merindukan kegiatan belajar di sekolah, ingin segera bertemu dengan teman-teman dan para guru, jajan dengan jajanan khas sekolah. Mereka tidak memikirkan betapa sangat ribet dan beresikonya sekolah dalam kebijakan new normal ini. 

Kebijakan new normal ini malah menimbulkan berbagai masalah lainnya, sungguh kebijakan di sistem kapitalisme tak akan pernah menjadi mashlahat untuk ummat. Sudah saatnya kita mengembalikan sistem ini pada aturan Allah. Pemimpin dalam sistem Islam akan semaksimal mungkin memenuhi kewajiban penyelenggaraan pendidikan di masa pandemi dengan menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan bagi para guru maupun siswa.

 Negara tidak akan membiarkan para guru kesulitan melaksanakan pembelajaran secara daring. Dengan sigap Negara akan menyiapkan kematangan para guru dalam menyelenggarakan aktivitas mendidik siswanya. Mulai dari menyiapkan materi pembelajaran yang tepat di saat pandemi, mengadakan semua fasilitas yang dibutuhkan secara optimal, tak lupa memberi penghargaan yang maksimal bagi para guru atas kerja kerasnya. 

Dengan demikian, para siswa pun tetap bisa fokus belajar dari rumah, bahkan semakin meningkat keimanan dan keterikatannya kepada syariat agama dalam menjalami masa pandemi, selain tetap fokus pada bidang pelajaran lainnya. Aktifitas belajar mengajar di masa pendemi bisa dijalani dengan penuh kenyamanan karena keoptimalan fasilitas yang disiapkan Negara dan landasan keimanan yang ditanamkan para guru.

Karena pada dasarnya misi pendidikan dalam islam adalah membentuk karakter kepemimpinan. Ketika bicara pendidikan, maka kita bicara tentang menyiapkan generasi. Allah SWT telah memperingatkan agar manusia hati-hati terhadap terwujudnya generasi yang lemah.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا

Artinya: “Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”. (An-Nisa’: 9)

Qaulan sadida yang dimaksud dalam ayat ini adalah konsep pendidikan secara detail yang terstruktur dan tepat sasaran, sesuai dengan konsep pendidikan dalam nilai-nilai islam.

Visi pendidikan generasi islam tidak pernah setengah-setengah, langsung pada tujuan utama yakni:

Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a’yun waj’alna lil muttaqiina imaama.

Misi pendidikan islam, untuk menjadi muttaqin, karena muttaqin adalah misi paling tinggi, orang muttaqin adalah sebaik-baiknya manusia. Yang diinginkan oleh Allah bukan sekadar bertakwa tetapi juga menjadi pemimpin yang bertakwa. Maka hanya dengan sistem islam semua bisa terwujud, yang mana tujuan pendidikannya adalah untuk memunculkan generasi pemimpin.[]

Oleh : Habibah, AM.Keb

Posting Komentar

0 Komentar