Masa Transisi Tetap Mawas Diri


Hingga 22 Juni 2020, kasus positif corona di Indonesia mencapai 46.845 kasus. Dari jumlah tersebut, 18.735 dinyatakan sembuh dan 2.500 meninggal. (CNNIndonesia, 22/6/2020)

Dengan melihat data di atas kondisi masyarakat terpapar covid-19 tergolong masih tinggi. Namun, upaya transisi menuju new normal terus dilakukan di beberapa daerah. 
Setelah pembukaan mall,  maka disusul dengan pembukaan pariwisata. Hal ini ada beberapa catatan yang butuh senantiasa diwaspadai:

Pertama: Benarkah new normal usaha untuk meningkatkan ekonomi rakyat atau justru sarana untuk membuka peluang bisnis para konglomerat?

Tentu pertanyaan ini wajar muncul. Karena arus ekonomi rakyat bawah masih belum terasa dampak peningkatan pada masa transisi. Belum mereka merasa lega untuk membuka usaha dan bekerja.  Justru yang terjadi adalah rasa was was, karena dengan dibukanya masa transisi justru angka reaktif rapid test meninggi.

Belum lagi efek transisi yang mengharuskan Rapid test untuk mencegah pemutusan laju virus pun berdampak pada keluhan biaya maupun antrian panjang uang berpotensi untuk penularan.

Kedua: Angka terpapar covid-19 yang menimpa pihak Nakes pun masih tinggi, di Jatim saja angka perawat terpapar covid-19 110 orang. Hal itu dikarenakan jam kerja yang padat dan daya imun yang menurun.  Bayangkan jika angka terpapar di masyarakat kian banyak. Sedang tenaga medis terbatas. 

Kondisi ini pun harus diperhatikan. Mengingat masa transisi berefek pada semakin longgarnya rakyat terhadap pelaksanaan protokol. Karena masyarakat merasa virus sudah berkurang karena sudah masuk masa transisi menuju new normal. 

Tak heran, jika kondisi di atas muncul. Mengingat langkah efektif yang diambil untuk menghadapi wabah, sejak awal tidak dilakukan secara maksimal sesuai aturan Allah dan tidak  sesuai anjuran pakar. Anjuran karantina wilayah atau lockdouwn pun tetap diabaikan dengan alasan ekonomi. Sehingga langkah PSBB belum menunjukkan hasil signifikan. Berlanjut dengan masa transisi menuju new normal yang  memunculkan berbagai kebingungan. 

Rakyat pun butuh terus waspada atas segala solusi yang lahir dari pandangan kapitalis termasuk new normal. Apapun solusi yang lahir dari cara pandang kapitalis. Maka ujung-ujungnya adalah untuk memenuhi kepuasan bersifat pragmatis dan materi belaka.

Terlebih solusi new normal yang sedari awal berangkat karena lesunya dunia usaha para kapital. Ditandai dengan semakin sepinya mall maupun tempat wisata dengan segala perniknya termasuk hotel dan lainnya. 

Kewaspadaan ini akan mendorong semua kalangan untuk tidak mudah larut dengan solusi pragmatis.  Umat harus punya pandangan solusi khas untuk menuntaskan ujian Pandemi. Terlebih Indonesia dengan mayoritas penduduk Islam yakin bahwa wabah ini tak luput dari takdir-Nya. Maka solusi tuntasnya pun harus kembali pada aturan terbaik-Nys.

/Islam solusi Menentramkan/

Islam sebagai sistem sempurna dan paripurna sentiasa menghadirkan solusi yang Menuntaskan. Solusi yang mengembalikan hak dan kewajiban penguasa dan rakyat terjalin secara sinergis. Bukan, berdampak membingungkan di antara keduanya.

Islam memberikan tanggung jawab negara untuk memastikan hak umum rakyat baik kesehatan, pendidikan dan keamanan terpenuhi. Pengaturan ekonomi yang berbasis pada pendistribusian kepemilikan yang tepat, meniscayakan tak ada monopoli kekayaan oleh kelompok tertentu. 

Islam menetapkan ada kepemilikan individu, kepemilikan umum dan negara. Hal ini meniscayakan negara mampu memberikan hak rakyat sebagaimana seharusnya. Karena kekayaan milik umum bisa terfungsikan maksimal untuk hak rakyat. Sehingga  masalah ekonomi tidak terjadi seperti saat ini. Yang menimbulkan dilema antara kesehatan dan ekonomi. 

Di tengah ujian Pandemi yang belum berujung ini, senantiasa kita renungkan ayat berikut,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ 

 Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta" (QS. Thoha: 124).

Semoga Allah beri kekuatan pada umat untuk mampu mengambil pelajaran dari ujian pandemi. Sehingga muncul kesadaran dan konsolidasi untuk menyatukan potensi menuju pada solusi hakiki yaitu mengambil Islam dalam segala lini kehidupan. Allahu a'lam bi shawab.[]

Oleh Yuyun Rumiwati

Posting Komentar

0 Komentar