TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Makar- makar yang Tertukar


Istilah makar, semakin mekar.  Apalagi sejak adanya seminar atau diskusi online bertema “Persoalan Pemecatan Presiden Di Tengah Pandemi Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan” yang diselenggarakan mahasiswa UGM menjadi  gonjang ganjing. 

Reaksi mulai dari pendapat yang menyatakan bahwa kegiatan tersebut makar hingga teror yang terjadi pada panitia maupun narasumber Prof. DR. Ni’matul Huda, SH M. Hum dari Universitas Islam Indonesia (UII). (rmol.network. 31/5/2020)

Menilik dari asal usul kata makar berasal dari bahasa arab, yaitu makron, masdor, yang berarti menipu, memerdaya, membujuk, menghianati, mengelabui, perbuatan makar.

Adapun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istilah makar memiliki arti, yaitu akal busuk, tipu muslihat. Kedua perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang dan ketiga perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintahan yang sah.

Namun dalam istilah hukum, makar tidak didefinisikan secara tegas dalam KUHP. Penjelasan makar merupakan istilah yang dipakai akademisi hukum untuk menerjemahkan aanslag (bahasa Belanda). Kata aanslag diartikan sebagai serangan yang bersifat kuat.

Makar KUHP Peninggalan Penjajah

Tidak salah kiranya jika kemudian pengertian makar  dalam KUHP di nilai multitafsir dan subjektif. Selain itu istilah makar ini pun berpeluang menjadi pasal karet jika tidak mampu didudukan pada definisi yang  jelas.

Sebab ketika orang bicara sedikit saja menyinggung pemerintah bisa dibilang makar, mengkritik pemerintah juga dibilang makar. Lalu, mengapa KUHP  sebagai produk warisan penjajah Belanda ini tetap saja dipertahankan?

Untuk menjawab hal tersebut perlu kita lihat apa saja yang termasuk delik makar, yaitu:

Pertama, Makar terhadap Presiden dan Wapres.  Dalam delik ini, makar ditujukan untuk membunuh Presiden atau Wapres. Termasuk juga untuk membuat Presiden/Wapres agar tidak mampu menjalankan pemerintahan.  Hukumannya maksimal pidana mati. Berikut bunyi Pasal 191:

Setiap Orang yang melakukan Makar dengan maksud membunuh atau merampas kemerdekaan Presiden atau Wakil Presiden atau menjadikan Presiden atau Wakil Presiden tidak mampu menjalankan pemerintahan dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun.

Kedua, Makar terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam delik ini, pelaku melakukan serangkaian perbuatan agar Indonesia jatuh ke tangan asing. Tidak hanya itu, separtisme juga termasuk dalam definisi delik ini.

"Setiap Orang yang melakukan Makar dengan maksud supaya sebagian atau seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia jatuh kepada kekuasaan asing atau untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun," demikian bunyi Pasal 192.

Ketiga, Makar terhadap Pemerintah yang Sah. Dalam delik ini, targetnya bukan membunuh Presiden/Wapres, tetapi menggulingkan pemerintahan yang sah. Ancamannya berjenjang, maksimal 15 tahun penjara.

Jika dikaitkan dengan soal pemecatan presiden tersebut, seharusnya kegiatan tersebut bukanlah hal yang terlarang. Sebab  konstitusi sudah mengatur dengan jelas prosedur pemecatan presiden.

Yang tidak boleh adalah menghentikan presiden dengan paksa oleh kelompok orang. Jika disalurkan melalui DPR misalnya, maka desakan agar presiden dipecat itu sah-sah saja. Konstitusi melindungi.

Pasal 7A UUD 1945 juga mengatur  dengan tegas syarat maupun prosedur pemecatan Presiden. Karenanya sangat konstitusional.

Namun bagi mereka yang melakukan simplifikasi dengan bahasa makar apalagi melakukan teror jelas merupakan perilaku menyimpang yang dapat dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum.

Maka  kajian akademik yang diselenggarakan UGM tersebut legal. Kemudian hal itu pun juga merupakan bagian dari “enlightenment”(pencerahan)  dalam dunia akademik.

Apalagi disaat  ini korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, perongrongan ideologi, hingga penunggangan pandemi semakin tak terkendali. Kehadiran gerakan moral  kampus sebagai “guidance” dalam menghadapi iklim politik saat ini tentu sangat dibutuhkan.

Maka tak pantas rasanya jika pemerintah membiarkan pelaku teror tersebut. Seolah-olah pemerintah mencoba  berlindung  dibawah KUHP ini dan  mengadopsi  mental penjajah yang   ingin selalu mengontrol  juga memata-matai rakyat. Ini juga sama halnya  ketika kompeni Belanda ingin mengontrol rakyat kolonial. 

Fakta saat ini kian menunjukkan hakikat rezim penguasa sesungguhnya. Benarkah mereka adalah pemimpin yang bisa diharapkan dan berada bersama rakyat, mengurus kepentingan-kepentingan rakyat dan melindunginya dari bahaya sebagaimana seharusnya?

Apa yang sudah terjadi menunjukkan bahwa penguasa sudah mulai ketakutan sendiri. Rakyat seakan diposisikan sebagai musuh yang hendak meruntuhkan kekuasaannya. 

Konsekuensi dari sikap penguasa yang sedemikian represif, menunjukkan seolah penguasa lebih sibuk dengan menyelamatkan kekuasaanya dibanding menjalankan kewajibanya meri’ayah rakyat.

Makar dalam Pandangan Islam

Istilah makar ini perlu dipahami kembali oleh umat Islam. Hal itu penting agar umat tidak terjebak dalam upaya manipulasi istilah. Istilah makar ini didalam Al-Qur’an  dijelaskan  dalam surat Al Imran, ayat 54  Allah SWT berfirman yang artinya;

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” 

Istilah makar dalam surah tersebut diartikan sebagai tipu daya. Maksudnya tipu daya yang dilakukan oleh orang-orang kafir atau suatu kelompok untuk menghancurkan Islam. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperlancar niat buruknya. 

Diantaranya dengan cara menyebarkan fitnah, politik adu domba, dan politik menebar kebencian, mengadu domba, melakukan kekacauan.

Definisi makar dalam perspektif Al-Qur'an  juga di kaji dalam  ilmu tafsir . Namun hal ini lebih kepada sebuah telisik mendalam terhadap makar yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap umat islam.  

Jadi pada ayat di atas makar lebih diidentikkan bagaimana cara-cara orang kafir untuk memperdaya Islam, dengan berbagai cara, misal dengan adu domba dan konspirasi lainya.

Selain itu Istilah makar juga sering di samakan dengan istilah bughot.  Ada beberapa definisi yang telah di sebutkan oleh para ulama terkait istilah bughot  

Misalnya, menurut ulama Hanafiyah al-Baghy[u] adalah keluar dari ketaatan kepada imam (khalifah) yang haq (sah) dengan tanpa [alasan] haq. Dan al-bâghi adalah orang yang keluar dari ketaatan kepada imam yang haq dengan tanpa haq (Ibn ‘Abidin, Hasyiyah Ibnu Abidin, III/426; Muhammad bin Abdul Wahid as-Siyuwasi, Syarhu Fathul Qadir, IV/48).

Sedangkan menurut Syaikh Abdurrahman Al-Maliki mendefinisikan bughât sebagai orang-orang yang memberontak kepada Daulah Islamiyah (Khilafah), yang mempunyai kekuatan (syaukah) dan senjata (man’ah). 

Artinya, mereka adalah orang-orang yang tidak menaati negara, mengangkat senjata untuk menentang negara, serta mengumumkan perang terhadap negara (Abdurrahman al-Maliki, Nizhâm al-‘Uqûbât fî al-Islâm, 1990, hal  79).

Jika dilihat dari fakta istilah makar  sering digunakan oleh penguasa yang zalim untuk menyudutkan kelompok tertentu yang dianggap mengancam kekuasaanya.

 Lalu dengan definisi bughat menurut kaidah syariat  yang telah disampaikan oleh para ulama memiliki  istilah  sangat berbeda dan tidak bisa disamakan dengan makar . Jadi definisi makar masih abu-abu sebab sering di jadikan alat politik.

Kalau makar didefinisikan sebagai sesuatu yang mengancam dan membahayakan negara, tentu kita harus memahami siapa yang sebenarnya yang dengan jelas dan nyata  mengancam dan membahayakan negara ini. 


Siapakah  Makar Sesungguhnya?

Penting bagi kita untuk memahami siapa sebenarnya musuh sejati negeri ini.  Yakni mereka yang sudah melakukan tindakan-tindakan yang  sangat merugikan dan membahayakan negara. Seperti,  merampas dan mengobral kekayaan   SDA negeri ini kepada asing.   

Kemudian,  membuka pintu bagi  masuknya ideologi  yang bertentangan dengan agama serta menyebarluaskan ide-ide sesat yang menjerumuskan umat  ke dalam kehinaan.  Yang merusak generasi dengan ide-ide hedonisme, pragmatisme dan sekularisme  sehingga membuat nilai sosial generasi ini rusak. Itulah sejatinya musuh negara.

Disini tampak bahwa Kapitalisme Liberalisme adalah musuh sebenarnya di negeri ini. Ideologi yang berasal dari penjajah  inilah yang sangat nyata membuat berbagai kerusakan bagi negeri ini.

Maka sebagai umat Islam kita harus cerdas memahami akan ancaman sesungguhnya bagi negeri ini dan menjadikan mereka musuh bersama.

Sekaligus  waspada terhadap segala bentuk makar yang  mereka lancarkan. Sebab Kapitalisme dan Liberalisme  adalah ideologi rusak dan merusak. 

Ideologi tersebut akan terus  dipertahankan di negeri ini dan semakin  kokoh jika selalu mengadopsi aturan-aturan penjajah. Melalui perantaraan  para komprador yang hanya berpikir demi kepentingan diri dan kelompoknya.

Umat juga harus paham bahwa menumbangkan kapitalisme tak hanya bisa dengan kekuatan orang atau organisasi biasa, tapi harus dengan kekuatan negara ideologis yang bersifat global pula. 

Dan kekuatan tersebut tak lain adalah daulah Islam yang mengemban ideologi Islam. Daulah  inilah yang ditakuti musuh-musuh Islam namun justru sangat dirindukan oleh umat Islam yang paham konstelasi politik sebenarnya. 

Wallahu a’alam.

Oleh: Sri Nova Sagita
(Institut Kajian Politik dan Perempuan)

Posting Komentar

0 Komentar