TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Lubang Eks Tambang, Lagi-lagi Makan Korban


Negara Indonesia, sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, juga tidak hanya kaya dengan suku bangsa, namun juga memiliki kekayaan alam yang luar biasa melimpah. Termasuk salah satunya adalah hasil tambang. Ada sejumlah jenis hasil tambang yang telah banyak ditambang di negara Indonesia. Barang tambang ini tersebar di beberapa lokasi di Indonesia. 

Contohnya seperti tambang minyak bumi yang dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Maluku dan juga Papua. Sebut saja di seperti di daerah Riau, Blok Cepu di Cilacap, Muara Enim, Wonokromo, Tarakan, dan ada di beberapa wilayah lainnya. Kemudian tambang batu bara yang banyak kita temukan di beberapa wilayah Indonesia dari Timur ke Barat. Kemudian ada tambang timah dapat kita temui di Bangka Belitung, dan ada juga di beberapa wilayah lainnya. Dan ada tambang emas, di Indonesia ada beberapa lokasi tambang emas yang cukup terkenal, salah satunya adalah Papua.

Namun mirisnya, ternyata dengan kekayaan hasil tambang yang melimpah ini masih tidak bisa juga membuat sejahtera masyarakat Indonesia. Ini semua tidak lain tidak bukan adalah karena semua kekayaan alam tersebut tidak sepenuhnya di kelola oleh negara, melainkan di kelola oleh swasta. Tak hanya itu, ternyata tambang ini pun bisa membahayakan nyawa masyarakat seperti yang terjadi di provinsi Kalimantan Selatan, lubang eks tambang batu bara kembali memakan korban jiwa, kali ini adalah Kasyful Anwar. Pria 40 tahun tersebut tewas di sebuah lubang yang dibiarkan menganga begitu saja di Desa Pakutik, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar. (apahabar.com, 15 Juni 2020)

Lubang eks tambang tersebut ternyata berada di perbatasan dengan Desa Rantau Nangka, kabupaten tetangga. Berdasarkan dari catatan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, kejadian maut di lokasi eks tambang seperti ini ternyata tak hanya terjadi satu kali saja. Sehingga hal tersebut membuat Walhi geram dan akhirnya langsung melakukan penelusuran. Kemudian setelah dilakukan penelusuran pada peta izin tambang di wilayah Kalimantan Selatan, organisasi pemerhati lingkungan hidup ini menemukan fakta bahwa ternyata korban yang meninggal tersebut tenggelam berada di konsesi PD Baramarta. Baramarta merupakan Perusahaan Daerah Milik Kabupaten Banjar pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) berstatus Operasi Produksi. (jejakrekam.com, 15 Juni 2020)

Selain itu, Walhi juga melakukan penelusuran melalui peta citra satelit Google Earth tahun 2018. Hasilnya, Walhi menemukan genangan Air Asam Tambang (AAT) seluas 20 hektare dari lubang dengan Panjang 963 meter dan keliling 2.243 meter. Kemudian, kata Kisworo, Walhi menelisik peta citra satelit pada sepuluh tahun sebelumnya. Baramarta masih terlihat beroperasi di wilayah itu pada 2009 sampai beberapa tahun berikutnya. Saat itu, luas lahan terbuka milik Baramarta seluas 104 hektare dan genangan AAT seluah 5,25 hektare di lubang sepanjang 688 meter. “Di tahun 2012 terlihat sudah dilakukan reklamasi pada bukaan tambang, namun tidak pada lubang tambang . Lubang tambang masih saja menganga, lubang tambang diduga milik Baramarta berhimpitan dengan sungai bahkan menyatu di beberapa sisinya,” kata Kisworo. (jejakrekam.com, 15 Juni 2020)

Menurutnya, hal itu jelas sangat bertentangan dengan regulasi yang mengatur tentang perlindungan sempadan sungai. Itu terlihat di Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai. Kemudian menurutnya, dengan adanya kubangan AAT sepanjang hampir satu kilometer di konsesi Baramarta ini menunjukkan bahwa Tindakan reklamasi tidak dilakukan sepenuhnya sesuai PP 78/2010 tentang Reklamasi Pasca Tambang, sehingga memakan korban. (jejakrekam.com, 15 Juni 2020)

Beginilah ketika sebuah negara yang dijalankan berdasarkan sistem kapitalis-sekuler. Para elit mendapatkan keuntungan atas kekayaan negara, rakyat yang seharusnya sejahtera malah sebaliknya, mendapatkan kesengsaraan hingga sampai merenggut nyawa. Sungguh sangat miris hidup di negara kapitalis. Para pemimpinnya hanya memihak kepada para pemilik modal. Tambang, yang sepatutnya menjadi sumber kekayaan bagi rakyat, justru hanya dinikmati oleh segelintir orang yang punya modal saja. Dan hal ini bukan terjadi baru-baru saja, tetapi sudah terjadi sejak lama. Rakyat Indonesia masih ada yang menderita, sedangkan beberapa orang lainnya memiliki kekayaan yang sangat fantastis. Ini membuktikan bahwa ketika negara diatur dengan sistem kapitalisme, maka tidak akan pernah terwujud yang namanya keadilan bagi seluruh rakyat.

Abainya pengusaha tambang tersebut pun sangat wajar, sebab pemerintah pun juga seolah-olah acuh tak acuh. Hingga akhirnya lubang eks tambang itu merenggut beberapa nyawa rakyat yang tidak bersalah. Namun sebenarnya tak hanya kemungkinan tenggelam di dalamnya, tapi juga sangat memungkinkan rakyat terkontaminasi oleh zat-zat kimia berbahaya yang ditinggalkan galian tersebut. Inilah kebobrokan sistem kapitalisme dalam pengelolaan sumber daya alam negaranya. Benar-benar kacau!

Hal ini berbeda jika kita bandingkan saat Islam dijadikan sebagai sistem dalam sebuah negara khilafah. Islam jelas menjamin kesejahteraan seluruh masyarakatnya. Tidak boleh kepemilikan umum seperti tambang ini hanya dinikmati oleh segelintir orang, namun seluruh kekayaan alam ini dalam negara harus di kelola semaksimal mungkin oleh penguasa dan kemudian hasilnya harus bisa menyejahterakan seluruh masyarakat di negara khilafah tersebut. Ini sudah terbukti dengan berjayanya Islam selama lebih dari 1300 tahun. Disamping itu, tidak hanya memiliki pemimpin yang adil dan bijaksana serta taat pada syari’at Islam, negara khilafah juga akan menjamin Pendidikan bagi seluruh masyarakatnya, yang mana Pendidikan tersebut pun akan dilandaskan kepada syari’at Islam, tidak boleh masyarakat terpengaruh sedikitpun oleh pemikiran-pemikiran negatif dari Barat. Sehingga selain terciptanya negara yang adil dan Makmur, khilafah juga akan berhasil mewujudkan masyarakat yang memiliki kepribadian Islam.

Hanya Islamlah satu-satunya sistem yang haq, berasal dari Allah subhanahu wata’ala, yang dapat mengatur pengelolaan tambang dengan tepat. Seluruh kepemilikan sumber daya alam sepenuhnya akan diberikan kepada masyarakat, sedangkan negara hanya sebagai pengelolanya. Tidak dibolehkan dalam negara khilafah, individua tau sekelompok orang saja yang mengelola sumber daya alam tersebut. Sehingga hasilnya memang benar-benar dimanfaatkan untuk kebutuhan dan kemaslahatan rakyat.[]

Oleh : Widya Paramita 
Komunitas Pena Banua

Posting Komentar

0 Komentar