TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Lonceng Kematian Ideologi: Mungkinkah Kembali Pada Religi Sebagai Solusi?


Terminilogi kata Ideologi pertama kali diperkenalkan oleh seorang filsuf Prancis 
Destutt de Tracy pada tahun 1796. Kata ini berasal dari bahasa Prancis idéologie, merupakan gabungan 2 kata yaitu, idéo yang mengacu kepada gagasan dan logie yang mengacu kepada logos. Kata ideologi dalam bahasa Yunani dipakai untuk menjelaskan logika dan rasio. 

Destutt de Tracy menggunakan kata ini dalam pengertian etimologinya, sebagai "ilmu yang meliputi kajian tentang asal usul dan hakikat ide atau gagasan". Jadi, oleh Destutt de Tracy ideologi didefinisikan sebagai "the science of idea". 

Dalam bahasa Arab, Ideologi disamakan dengan kata Mabda. Mabda secara etimologi adalah mashdar mimi dari kata badaayabdau badan wa mabdaan yang berarti permulaan. Secara terminologis berarti pemikiran mendasar yang dibangun di atas pemikiran-pemikiran (cabang). Al-Mabda (ideologi): pemikiran mendasar (fikrah raisiyah) dan patokan asasi (al-qaidah al-asasiyah) tingkah laku. Dari segi logika al-mabda adalah pemahaman mendasar dan asas (dasar lahirnya) setiap peraturan.

Banyak definisi tentang ideologi, ada Napoleon, Rene Des Cartes, Karl Marx, Macheavelli, Francis Bacon dll. Dari banyak definisi itu yang lebih mendekatai pemikiran mendasar dan menyeluruh adalah definisi yang diajukan oleh Taqiyuddin An-Nabhani:

“Mabda adalah suatu aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia ini. Atau Mabda adalah suatu ide dasar yang menyeluruh mengenai alam semesta, manusia, dan hidup. Mencakup dua bagian yaitu, fikrah dan thariqah.”

Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa Ideologi (mabda) adalah pemikiran yang mencakup konsepsi mendasar tentang kehidupan dan memiliki metode untuk merasionalisasikan pemikiran tersebut berupa fakta, metode menjaga pemikiran tersebut agar tidak menjadi absurd dari pemikiran-pemikiran yang lain dan metode untuk menyebarkannya.
Dalam ilmu sosial, ideologi politik adalah sebuah himpunan ide dan prinsip yang menjelaskan bagaimana seharusnya masyarakat bekerja, dan menawarkan ringkasan order masyarakat tertentu. Ideologi politik biasanya mengenai dirinya dengan bagaimana mengatur kekuasaan dan bagaimana seharusnya dilaksanakan.

Teori komunis Karl Marx, Friedrich Engels dan pengikut mereka, sering dikenal dengan 
marxisme, dianggap sebagai ideologi politik paling berpengaruh dan dijelaskan lengkap pada abad 20. Beberapa contoh ideologi yang dikenal sepanjang sejarah manusia adalah termasuk: anarkisme, kapitalisme, komunisme, 
komunitarianisme, konservatisme, neoliberalisme, fasisme, monarkisme, nasionalisme, nazisme,  liberalisme, utilitarianis-me, sosialisme, dan 
demokrat sosial. 

Bagaimana dengan ideologi Pancasila? Apakah benar bahwa Pancasila itu sebuah ideologi sebagaimana definisi yang telah disebutkan di muka? Bagaimana dengan nasib Pancasila? Nasibnya boleh jadi sama dengan ideologi apa pun yang sudah disebutkan ini, ketika kebenarannya yang objektif dipertanyakan serta pendukungnya tidak patuh dan justru menjauhkannya dalam praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan kehidupan mondial. Yang kemudian bisa dipertanyakan adalah: apa solusinya bila semua ideologi ciptaan manusia itu ambruk? Bagaimana jalan keluarnya? Mengapa ideologi dapat berakhir?

A. Kapan Ideologi Menemui Senjakala (Lonceng Kematian)?

Senjakala ideologi buatan manusia dijelaskan secara apik oleh John T. Jost (New York University) dalam The American Psychological Association 0003-066X/06; Oktober 2006.

Saya mencoba mengelaborasi penyebab collaps-nya sebuah ideologi dengan menyitir pendapat John T. Jost tentang "There were four related claims that led to the end-of ideology conclusion, and in conjunction they have cast along shadow over political psychology". Empat klaim dan inkonsistensinya tersebut terkait terkait dengan Pancasila adalah sebagai berikut

1. The first claim has arguably had the greatest impact within psychology, and it grew out of Converses (1964) famous argument that ordinary citizens political attitudes lack the kind of logical consistency and internal coherence that would be expected if they were neatly organized according to ideological schemata. 

Contoh: Ketuhanan Yang Maha Esa bisa dimaknai esa dalam pluralitas; ketuhanan berkebudayaan, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab: HAM diredam; Persatuan Indonesia: bercerai berai, pseudo unity, mudah terbakar laksana daun kering: sulit diikat mudah dibakar; Kedaulatan rakyat: kedaulatan partai, demokrasi tak langsung: demokrasi langsung; Keadilan sosial: keadilan individual dan sebagainya. Yang ada: LOGICAL INCONSISTENCY.

2. A second and related claim is that most people are unmoved by ideological appeals and that abstract credos associated with liberalism and conservatism lack motivational potency and behavioral significance. 

Contoh: #2019GantiPresiden itu kebebasan HAM ternyata tetap persekusi, pelarangan tak mendasar padahal sudah dijelaskan secara hukum itu bukan makar melainkan hak kebebasan berbicara. Dengan Perppu Ormas No. 2 Tahun 2017 sudah diingatkan bahwa negara akan terjun bebas menjadi negar kekuasaan (bukan kedaulatan rakyat dan hukum). Masih berlanjut pula pada pembubaran Ormas tanpa due process of law yang berarti bertentangan dengan sila 2 HAM berserikat berkumpul dan lain-lain. Yang kekinian tentang Perppu Corona No. 1 Tahun 2020, yang juga banyak kontroversi motivasi namun justru tetap disetujui oleh DPR menjadi UU No. 2 Tahun 2020. Yang ada: WEAK MOTIVATION

3. The third claim is that there are really no substantive differences in terms of philosophical or ideological content between liberaland conservative points of view. 

Contoh: tidak ada perbedaan substantif antara: ideologi Pancasila, sosialis dan liberal dalam hal berpolitik, berekonomi, berbudaya. Semua dalam area abu-abu. Kita mengaku berdemokrasi ekonomi Pancasila tetapi semua lini ekonomi kita dasarkan pada liberalisme kapitalisme. Lalu adakah perbedaan substantifnya? Yang ada ialah PRAGMATISM IDEOLOGY.

4. A fourth claim, which first emerged as a criticism of Adorno, Frenkel-Brunswik,Levinson, and Sanfords (1950) The Authoritarian Personality,is that there are no fundamental psychological differences between proponents of left-wing and right-wing ideologies.

Contoh: Tidak ada perbedaan psikilogis yang fundamental PARA PENDUKUNGNYA, antara sayap kanan dan sayap kiri. Perangainya, karakternya, gayanya sama saja dalam meraih dan memperebutkan kekuasaan. Tanpa visi ke depan yang panjang apalagi kehidupan setelah mati. Yang ada yaitu OPPORTUNIST PROPONENTS.

B. Mencari Solusi: Mungkinkah Kembali kepada Religi?

Mungkin pembaca heran, mengapa keambrukan ideologi itu mesti disambut dengan proposal baru yang bersumber pada religi atau relegi itu sendiri? Hal ini disebabkan, menurut keyakinan saya, relegi itu diibaratkan buku manual prosedur yang disediakan oleh Tuhan Pencipta alam semesta untuk segala ciptaannya, termasuk manusia. Manual itu dibawa oleh manusia utama yang dipercaya Tuhan Alloh untuk menyampaikan risalah, dia adalah seorang Rasul. Pertanyaan saya, apakah iya ketika manual prosedur telah ditetapkan oleh Alloh, manusia masih tetap tidak yakin terhadap hukum-hukum Alloh sehingga menciptakan hukum sendiri (human law) yang sama sekali tidak bersumber kepada hukum Alloh (devine law)?

Kita masih akan bertanya, hukum Alloh yang mana yang menjadi rujukan umat manusia dalam berhukum? Sejarah membuktikan bahwa wahyu Alloh Alquran adalah kitab terakhir manual prosedur hidup manusia yang diturunkan oleh Alloh untuk umat manusia, universal bukan untuk rasa, bani, atau kabilah, bangsa tertentu. Jadi, secara teoretik dan praksis sebenarnya Islam adalah solusi keambrukan ideologi-ideologi ciptaan manusia. Mengapa mesti Islam? Ada 4 keunggulan Islam dalam memandu kehidupan umat manusia, sebagaimana diterangkan berikut ini.

EMPAT KEUNGGULAN TRANSFORMASI DALAM ISLAM

Di dalam Kitab Al Fikrul Islam karyaTaqiyudin An-Nabhani dijelaskan bahwa Islam datang dengan serangkaian pemahaman tentang kehidupan yang membentuk pandangan hidup tertentu. Islam hadir dalam bentuk garis-garis hukum yang global (khuthuuth 'ariidlah), yakni makna-makna tekstual yang umum, yang mampu memecahkan seluruh problematika kehidupan manusia. Dengan demikian akan dapat digali (diistinbath) berbagai cara pemecahan setiap masalah yang muncul dalam kehidupan manusia. 

Islam menjadikan cara-cara pemecahan problema kehidupan tersebut bersandar pada suatu landasan fikriyah (dasar pemikiran) yang dapat memancarkan seluruh pemikiran tentang kehidupan. Kaidah itu pun telah ditetapkan pula sebagai suatu standar pemikiran, yang dibangun di atasnya setiap pemikiran cabang (setiap pikiran baru yang muncul).

Islam datang dengan melakukan berbagai macam transformasi. Setidaknya ada 4 (empat) transformasi dalam Islam. Keempat macam transformasi itu dapat dijelaskan melalui uraian sebagai berikut:

1. PERTAMA, Islam mengubah pemikiran manusia: dari pemikiran yang dangkal ke pemikiran yang mendalam. Hal ini tercermin dalam aqidah Islam yaitu: pemikiran yang menyeluruh tentang alam dari sebelum dan sesudah kehidupan. Dari mana ia diciptakan, untuk apa ia diciptakan dan akan ke mana setelah penciptaannya. Dalam falsafah Jawa dikenal: "sangkan paraning dumadi". Prinsip asal dan tujuan akhir hidup manusia.

Semula orang hanya tahu hidup itu hanya sekedar: kerja, cari duit, cari makan dan lain-lain. Islam datang dengan mengubah pemahaman tentang kehidupan. Hidup ini hanya jembatan kehidupan yang setelahnya ada pertangggung-jawaban. Dunia sementara, sebentar tapi sangat menentukan. Maka, orang yang telah tercelup oleh Islam akan membuat hidupnya betul-betul bermanfaat bagi dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan hidupnya. 

Sebelum paham, orang yang dikasih rezeki ia akan bangga tetapi ketika diuji kemiskinan ia penuh dengan keluh kesah. Setelah diberi pengertian tentang Islam, dia berubah total dalam menyikapi hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Kaya tidak menyombongkan diri, miskin tidak merasa terhina. Islam datang membawa pemahaman yang lebih baik dalam menjalani kehidupan.

Apa yang kita miliki ini tak lain dan tak bukan hanyalah anugerah dari Alloh untuk menguji kita apakah kita bersyukur atau ingkar (kufur). Siapa yg syukur ia sesungguhnya ia bersyukur kepada dirinya sendiri, dan berakibat untuk dirinya sendiri. Syukur itu berarti kita melaksanakan sesuatu perbuatan untuk menyenangkan pemberi nikmat.

Ada 2 level syukur, yaitu:
Level 1: ucapan terima kasih, "alhamdulillah".
Level 2: nikmat dipakai untuk memenuhi kewajiban taat, semakin tawadhu', tambah sholeh maka pemberi nikmat akan gembira dan sangat mungkin akan ditambah nikmatnya. Alloh berfirman dalam QS Ibrahim ayat 7:

وَإِذْتَأَذَّنَرَبُّكُمْلَئِنشَكَرْتُمْلَأَزِيدَنَّكُمْۖوَلَئِنكَفَرْتُمْإِنَّعَذَابِىلَشَدِيدٌ

(Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih").

Bila nikmat yang diberikan tapi tidak bersyukur, sesungguhnya Alloh tidak sedikitpun rugi. Justru manusialah yang merugi. Alloh bisa mencabut atau "ngelulu"/istidjrat hingga akhirnya menghancurkan kita. Di sinilah Islam mengubah pandangan hidup manusia tentang nikmat yang diperoleh manusia.

2. KEDUA, Islam mengubah standar manusia dalam perbuatan, yang semula hanya untuk kenikmatan diri sendiri menjadi berstandar halal atau haram.

Semula makan hanya sekedar untuk kenikmatan, lalu berubah menjadi standar halal atau haram. Tidak sekedar nafsu tetapi ada pertimbangan halal atau haram. Dalam perkara makan muslimin pun punya visi akherat. Jadi orang Islam itu orang yang CERDAS, tidak dungu (A-VIDYA) karena mampu mengendalikan dirinya. Perbuatannya atau nafsunya dikendalikan dan visinya jangka panjang (memiliki moderasi), setelah kematian.

Kalau manusia paham dan ia mempunyai visi jangka panjang, seseorang tidak akan korupsi. Ingatlah, Bangsa Arab semula tidqk dipandang dunia tapi ketika memiliki standar hidup, bahkan baru 10 tahun saja, bangsa ini bisa berhadapan tegak dengan bangsa Persia dan Romawi.

3. KETIGA: Mengubah pemahaman tentang bahagia. Apa itu bahagia? 
Definisinya berbeda. Anak kecil dan orang tua berbeda. Anak bahagianya makan permen, ia tahu kalau makan permen bisa sebabkan gigi keropos. Pemikiran anak akan berlanjut, hingga pertanyaan: apakah di syurga bisa makan permen tetapi tidak bisa menyebabkan gigi keropos?

Bahagia sebelum Islam dimaknai sebagai pemuasan nafsu dan keinginan terpenuhi. Setelah Islam datang: bahagia itu adalah ketika mendapat ridho Alloh swt. Salman Al Farizi itu seorang yang miskin tetapi ia merasa bahagia. Abdurrahman bin Auf dengan uangnya diinfaqkan di jalan Alloh. Itu bahagia. Umar bin Khatab: yang semula gagah berani dan bangga patriotis, ia jadi pembela Islam yang tangguh karena untuk mecapai kebahagiaan sebagai umat yang satu tidak tersekat dinding nasionalisme atau pun chauvinisme.

Nasionalisme dan chauvinisme seringkali membuat kita abai terhadap PENDERITAAN sesama saudara muslim di negara atau belahan benua lainnya. Seberapa besar kita peduli dengan saudara kita di Palestina, Myanmar, Uyghur, Somalia, India dan lain sebagainya?

4. KEEMPAT, Mengubah interaksi manusia dari yang semula hanya mengejar manfaat dan diikat hanya sukuisme, nasionalisme dan atau negeri menjadi ikatan aqidah. Orang Islam itu merasa bersaudara dengan tidak peduli dari bangsa mana ia berasal.

Umatan wahidah. Negeri Madinah itu sejak awal terdiri dari dua suku bangsa yakni: Aus dan Khazraj kinflik lebih dari 200 tahun. Dengan datangnya Islam mereka bersatu dalam aqidah. Suku Aus dan Khazraj bersatu di bawah pimpinan Muhammad bin Abdullah. Tahun 621, sebanyak 10 orang suku Khazraj dan dua orang suku Aus menemui Nabi di Makkah dan menyatakan diri masuk Islam. 

Setelah Nabi hijrah ke Yatsrib tahun 622, kota itu diubah namanya menjadi al-Madinah al-Munawwarah. Tidak ada konflik karena sektarian, kesukuan, cari uang dan lain-lain. Itulah Islam yang mampu mengubah peradaban manusia. Oleh karena itu dapat ditegaskan di sini bahwa: "Ketika sudah ada aqidah carilah kampung akherat tetapi jangan sampai lupa dunia karena dunia itu tempat menanam yang hasilnya akan dipetik di akherat".

Secara ideal, mestinya aqidah Islam itulah yang dapat menyatukan umat. Namun, ketika kita lepas dari aqidah maka kita akan merosot hingga terpuruk jatuh dalam peradaban buruk dan umat Islam dalam perpecahan. Perpecahan ini muncul karena ketidakikhlasan dan kebodohan. 

Tentunya dalam hal ini, kita paham betul bahwa Imam Malik (guru Imam Syafii) dan Imam Syafii saling mencintai, apakah mereka tidak ada perbedaan? Ada, bahkan banyak perbedaan hingga mencapai lebih dari 7000 perkara. Tapi, apakah mereka saling bermusuhan? Tidak, bukan! Mengapa? Karena mereka memiliki keikhlasan dan memiliki ilmu, tidak bodoh, tidak dungu, bukan avidya dan tidak ANTI INTELEKTUALISME. Mereka tetap bersatu padu. Coba kalau mereka tidak ikhlas dan bodoh pasti mereka bercerai berai dan bahkan bermusuhan.

Pada artikel ini saya menegaskan kembali pentingnya persatuan umat Islam. Meski sunatullahnya kita terbelah terkumpul menjadi 73 golongan, tetapi tidaklah boleh golongan-golongan itu lalu membuat kita bercerai-berai bagai buih di lautan. Golongan-golongan yang beda sebenarnya memiliki ikatan yang sama yaitu: AQIDAH ISLAMIYAH. Ketidakikhlasan dan kebodohan ternyata berakibat serius dalam menghadapi perbedaan. Haruskah perbedaan mesti dipersekusi? Persekusi dan permusuhan terjadi karen ketidakikhlasan dan kebodohan...! Itu prinsip!

Terkait dengan kepentingan yang menyebabkan ketidakikhlasan ini dapat diambil hikmahnya dari kisah Rasululloh Muhammad mengirim surat ke Romawi. Dicari seorang yang tahu bahasa Romawi. Ketemulah Abu Sofyan dan kemudian ia bercerita kepada raja Heraklius tentang siapa Muhammad itu. Muhammad hanya menyuruh menyembah Alloh, bersilaturahmi dan lain sebagainya. Namun, mengapa Abu Sofyan yang tahu ilmunya tetapi memusuhi Muhammad? Jawabnya: Karena tidak ada keikhlasan, ia punya kepentingan duniawi sendiri (vested interst).

Islam itu bukan fiksi apalagi fiktif, melainkan real ADA, tetapi sayang sekali Islam tidak dipahami dengan baikz bahkan oleh pemeluknya sendiri. Setelah dipahami dengan baik belum tentu diterapkan dalam seluruh bidang kehidupannya. Inilah yang makin memperburuk kejatuhan peradaban Islam yang memiliki VISI JAUH KE DEPAN. FUTURISTIK! Anda mau tetap diam tanpa melakukan apa pun dalam rangka melakukan transformasi hidup agar sesuai dengan fitrah manusia? 

Simpulan

Sehebat apapun juga ideologi manusia tidak pernah sempurna. Islam bukan sekedar sebuah religi tetapi juga sebuah ideologi. Apabila hanya sekedar ideologi buatan manusia, maka ideologi itu dapat saja rapuh oleh karena: (1) Ordinary citizens political attitudes lack the kind of logical consistency and internal coherence); (2) Most people are unmoved by ideological appeals; (3) There are really no substantive differences in terms of philosophical or ideological content; (4) There are no fundamental psychological differences between proponents of left-wing and right-wing ideologies.

Agar sustainibilitas peradaban manusia yang mulia tetap dapat berlangsung, ambruknya ideologi sekuler baik kapitalisme maupun komunisme atau yang mirip dengannya itu harus diganti dengan mengajukan proposal yang mampu menopang peradaban manusia tersebut dengan seseuatu pedoman hidup yang dibuat sendiri oleh Yang Maha Pembuat (Khalik), yakni berwujud Religi samawati, yakni Islam dengan seluruh ajarannya yang lengkap dan tidak ada keraguan di dalamnya. 

Religi Islam berbeda dengan ideologi ataupun religi bumi. Islam sebagai agama dan ideologi memiliki keunggulan sebagai berikut: PERTAMA: Mengubah pandangan: dari pemikiran yang dangkal ke pemikiran yang mendalam. Hal ini tercermin dalam aqidah Islam yaitu: pemikiran yang menyeluruh tentang alam dari sebelum dan sesudah kehidupan. KEDUA: Islam mengubah standar manusia dalam perbuatan, yang semula hanya untuk kenikmatan diri sendiri menjadi berstandar halal atau haram. KETIGA: Mengubah pemahaman tentang bahagia. KEEMPAT: Mengubah interaksi manusia dari yang semula hanya mengejar manfaat dan diikat hanya sukuisme, nasionalisme dan atau negeri menjadi ikatan aqidah. Orang Islam itu merasa bersaudara dengan tidak peduli dari bangsa mana ia berasal.

Dengan demikian, beberapa konklusi atas tema senjakala idelogi dapat diajukan sebagai berikut:

1. Manusia hidup membutuhkan ideologi, tetapi tidak semua ideologi mampu menuntun manusia mencapai visi hidup yakni hidup setelah mati (kampung akherat). Hanya Islam sebaga ideologi yang mampu mewujudkan visi tersebut. 

2. Ideologi yang tidak mengandung kebenaran objektif cenderung akan ditinggalkan oleh pendukungnya dengan menggantinya. Religi adalah jawabnya. Lebih tepatnya Religi Islam. 

3. Ideologi yang tidak berbasis pada aqidah adalah ideologi sesat dan akan menyesatkan pendukungnya dalam mencapai kebahagiaan sejati. Tidak mungkin kebahagiaan sejati akan tercapai tanpa ideologi yang berbasis pada aqidah dan mampu pula untuk dirunut secara rasional. Ideologi yang benar akan menjauhkan diri dari indoktrinasi. Indoktrinasi hanya akan melahirkan kepatuhan yang semu (pseudo obidience). Kepatuhan yang semu inilah awal dari sebuah ideologi memasuki SENJAKALA-nya. 

4. Demikian pula Pancasila, ideologi ciptaan manusia ini bisa menjadi rapuh jika 4 gejala faktor keambrukan ideologi yang sangat rawan itu melingkupi objek maupun subjek ideologi ini. Jadi, kesaktian Pancasila akan lenyap ketika 4 faktor penumbang ideologi merangsek, menggerogoti akarnya yang rapuh. Dan boleh jadi kita sekarang masih merasa memiliki Pancasila, namun sebenarnya kita hanya sekedar memiliki jasadnya, karena ruh Pancasila tidak lagi kita miliki. Kita lebih menggeluti dan mati-matian menerapkan ideologi liberal kapitalstik dan bercampur dengan sosial komunisme yang sangat sekuler dibandingkan menggeluti dan menerapkan ideologi Pancasila itu. Tabik..!!!


Oleh Prof. Dr. Suteki S. H. M. Hum.
(Pernah Mengajar MK Pancasila 24 Tahun)

Posting Komentar

0 Komentar