TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Lonceng Kematian dan Topeng Palsu Kebebasan ala Barat


Sebagaimana di lansir diberbagai media sebanyak 30 negara bagian Amerika Serikat diguncang protes setelah seorang warga kulit hitam keturunan Afrika-Amerika bernama George Floyd meninggal karena kehabisan nafas dengan leher tercekik di kaki seorang polisi. Para demonstran mengatakan itu adalah kekerasan berbasis diskriminasi rasial. Selain di Amerika, kematian Floyd memicu demonstrasi di negara lain. New York Times menyebut protes-protes ini sebagai 'kemarahan global'. 

Di Berlin, Jerman, papan atau kertas bertuliskan: “Diam adalah kekerasan”; “Tahan akuntabilitas polisi”; dan “Siapa yang kamu panggil saat polisi membunuh?” dibawa oleh para pendemo. Sedangkan di pusat kota London, Inggris, para pendemo meneriakkan: “No Justice!” atau “tidak ada kedamaian!”. Protes juga terjadi di Italia, Kanada hingga Irlandia. Mereka membawa spanduk berisi ucapan terakhir Floyd, I Can’t Breathe, dan Black Lives Matter. 

Kejadian ini juga dijadikan kesempatan ‘seteru baru’ Amerika, yaitu Cina untuk mengkritik pemerintahan Donald Trump. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina Zhao menyatakan hak asasi warga kulit hitam harus dijamin AS dan menyindir asas kebebasan yang dijunjung tinggi tersebut dengan cuitan berbau satire atas keterlibatan Amerika di Hongkong.


Namun negara pimpinan Trump saat ini yang mempropagandakan HAM dan kebebasan merespon protes kematian Floyd di AS berujung pada kerusuhan dan penjarahan toko-toko. Trump mulai memberlakukan jam malam, mengerahkan pasukan militer, para demonstran dibubarkan dengan tembakan gas air mata dan peluru karet. Maka patut dipertanyakan, dimana kebebasan dan HAM yang sering dibunyikan oleh mereka? Dan juga mengapa negara AS masih belum dapat menyelesaikan masalah rasisme selama berabad-abad?

Menurut Dr. Muhammad Fathi Usman (1984) ide kebebasan ala Barat berkaitan dengan HAM dan ide yang diagungkan tersebut bersandar kepada undang-undang hukum alami buatan manusia, atau rujukan tertinggi bagi hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang digali dari alam. Mereka juga berpendapat ada hubungan erat antara pemikiran hak-hak alamiah dnegan hak-hak individu yaitu perlindungan atas kebebasan individu.

Diisnilah letak permasalahannya, bagaimana barat menerapkan ide ini? Serta apa target dan tujuan yang ingin diraih?. Tampak jelas bahwa ide kebebasan ala barat tidak lain hanya gambaran ilusi yang ada hanya dalam otak. Dan tidak ada ruang lagi bagi agama untuk menafsirkan realita atau terlibat dalam undang-undang. Terlebih lagi bagaimana pemisahan antara agama dan negara (baca:sekulerisme) sejak abad ke-17 diterapkan.

Dari sisi teori ide kebebasan telah menyandarkan kepada akal dan alam. Dan akhirnya menguatkan pemikiran kaum Darwinisme atas kaedah seleksi alam. Pada kaedah seleksi alam pasti akan ada pertentangan hak-hak dan kebebasan antara satu individu dengan individu yang lain. Sehingga umat manusia akan saling bermusuhan karena tidak ada persamaan alami yang memberikan setiap manusia hak yang sama. Karena manusia dipengaruhi oleh kondisi sosial dan lingkungannya yang berbeda.

Maka dari itu penyusunan undang-undang yang ada tidak lain hanya pengakuan paksa atas hak kebebasan dan persamaan sebagai pemanis di bibir saja. Pasal-pasal karet akan selalu ada atas pengakuan sebagian hak dan mengesampingkan sebagian hak lainnya. Fenomena perpecahan rasial menentang ras kulit berwarna yang dipraktekkan negara-negara demokratis telah menunjukkan hal tersebut. Hak-hak sebagian orang tertupi sehingga berdampak kepada sikap dan gaya hidup masyarakat barat itu sendiri.

Meskipun PBB mendeklarasikan Hak-hak asasi manusia tahun 1948 M, dan perjanjian internasional mengenai hak-hak sipil dan politik pada tahun 1966 M. Kedua deklarasi ini tidak menjelaskan secara jelas cara untuk menjamin hak asasi manusia. Karena tidak adanya sarana utnuk melindungi hak-hak dan kebebasan yang telah diakui tersebut.

Walhasil kebebasan yang disuarakan tunduk pada penilaian-penilaian subyektif yang dikaitkan dengan kemaslahatan negara atau kemaslahatan penguasa. Diantaranya kebijakan Trump dalam mengatasi pendemo berdasarkan subyektifitas dirinya sendiri. Belum lagi undang-undang yang ada disusun dan dirancang berdasarkan ketetapan penguasa, maka akan banyak penghilangan hak asasi manusia dan pelanggaran terhadap kehormatan individu.

Hal ini berbeda jauh bagaimana islam memanusiakan manusia. Allah SWT menciptakan manusia dan memberikan mereka keutamaan. Selain itu islam memberikan tolak ukur kemuliaan yang disandarkan kepada hubungan yang bersifat akidah. Dan posisi mulia itu ada pada ketakwaan manusia dan penerimaannya terhadap petunjuk dan risalah Rasul.

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudia kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya” (TQS at-Tin [95] : 4-6).

Dari sini tampak bahwa islam memandang manusia itu mulia, karena kemuliaan yang diberikan dan dianugerahkan kepada Allah SWT dan dikaitkan kepada penyembahan kepada Allah SWT. Sehingga kemuliaan akan terlepas dari manusia jika mereka kufur dan jauh dari risalah islam. Sedangkan barat mengakui hak-hak alamiah yang bersifat tetap. Ia tetap memiliki walaupun keburukan yang dilakukannya.

Maka hak kebebasan di barat akan menghasilkan aturan yang berdasarkan akal manusia untuk mengatur hak manusia yang akan memenuhi kepentingan hak manusia lain, dan mengesampingkan hak manusia lainnya. Sedangkan dalam islam, akan menghasilkan aturan yang bersumber dari ilahi, yang mengetahui apa yang terbaik dan hak bagi manusia itu sendiri. Sehingga tidak akan ada kepentingan yang akan terzolimi dan semuanya sesuai dengan fitrah manusia dan gambarannya bersifat tetap tidak berubah. 

Wallahu’alam.

Oleh Wandra Irvandi

Posting Komentar

0 Komentar