TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Liberalisasi Kelistrikan Biang Kerok Mahalnya Listrik



Direktur Utama PT PLN, Zulkifli Zaini, memenuhi panggilan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto untuk rapat terkait pembiayaan PLN dalam rangka peningkatan pendapatan dan recycle asset. Menurut Zulkifli Selama pemerintah menunggak subsidi dan kompensasi, PLN bakal membukukan rugi usaha Rp 22,6 triliun, atau tidak banyak berbeda dari rugi usaha periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 23,08 triliun. Oleh karena itu didalam rapat juga dibahas rencana pembiayaan alternatif lain untuk investasi PLN.(cnbcindonesia.com, 3/3/2020).

Adanya prinsip untung dan rugi dalam pelayanan publik ini sudah menyalahi amanah rakyat karena berdasarkan Undang Undang bahwa Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) harus sebesar-besarnya digunakan untuk kesejahteraan selalu masyarakat Indonesia sesuai dengan Pasal 33 Ayat (3), Undang-Undang Dasar 1945 yang telah dengan tegas menyatakan bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat.

Mengalokasikan hasil SDA untuk kepentingan masyarakat merupakan keberpihakan Pemerintah kepada kepentingan masyarakat, misalnya untuk membantu memberikan bantuan sambungan listrik baru dan menyediakan tarif tenaga listrik yang terjangkau bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun apalah daya Undang undang terkesan hanya tulisan saja tanpa disertai praktek kerja secara nyata. Kenaikan tarif TDL tidak bisa dipisahkan dari liberalisasi kelistrikan.

Sejak disahkannya undang undang ketenagalistrikan nomor 20 tahun 2002 dimana salah satunya mengatur soal unbundling vertikal yang memisahkan proses bisnis PLN menjadi beberapa usaha yaitu pembangkit tenaga listrik, distribusi listrik, dan penjualan tenaga listrik. 

Disamping itu unbudling vertikal juga membuka peluang swasta untuk ikut terlibat dalam pengelolaan listrik dinegeri ini. Maka wajar jika dalam rapat tersebut dibahas rencana pembiayaan alternatif lain dengan membuka investasi.Artinya PLN sebagai BUMN hanya bertindak sebagai regulator saja.

Pertanyaannya apa yang akan terjadi jika pihak swasta mengelola listrik yang merupakan hajat hidup orang banyak ini?. Dimana listrik merupakan kebutuhan mendesak yang berapapun nilainya rakyat pasti akan berusaha membelinya. Jika kurang mampu maka rakyat akan berusaha berhemat listrik semaksimal mungkin.

Berbeda dengan sistem islam. Islam memandang bahwa listrik termasuk kedalam kepemilikan umum dan haram hukumnya dikelolakan ke pihak swasta ataupun privtisasi. 

اَلْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ في ثلَاَثٍ فِي الْكَلَإِ وَالْماَءِ وَالنَّارِ

Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Sumber energi pembangkit listrik sebagian besar berasal dari barang tambang seperti gas dan batubara dimana keduanya juga termasuk dalam kepemilikan umum yang tidak boleh dikomersilkan juga oleh negara. Negara bertanggung jawab dalam pengelolaannya saja. Haram mengambil keuntungan sepeserpun darinya. Negara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan listrik setiap rakyatnya bukan pedagang dengan prinsip untung rugi.

Hanya islam yang mempunyai sistem pembagian kepemilikan yaitu: kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara.

Pembagian kepemilikan ini sangat penting agar tidak terjadi hegemoni ekonomi yaitu hegemoni dari pihak yang kuat menindas pihak yang lemah. Hegemoni ini dapat terjadi diantaranya adalah disebabkan oleh terjadinya pencaplokan sektor kepemilikan umum misalnya oleh pihak yang tidak semestinya yaitu pihak swasta, baik swasta dalam negeri maupun luar negeri. Contohnya seperti pencaplokan sektor tambang, gas, minyak, kehutanan, sumber daya air, jalan umum dan sebagainya oleh pihak swasta. Sehingga ekonomi mereka akan menjadi kuat menggurita dan selanjutnya akan menghegemoni dan menambah kekayaan mereka dan golongannya.

Adapun rakyat siap siap merogoh kocek dalam dalam untuk membayar listrik dengan harga selangit. Karena pelayanan yang berkualitas seiring dengan harga yang pantas. Masih mau hidup dibawah sistem kapitalis liberal?.

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar