TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

#LathiChallenge, Remaja Krisis Identitas



Berkat beauty vlogger Jharna Bhagwani (17 th), lagu 'Lathi' dari Weird Genius kembali ramai di jagat media sosial. Bermodal bakatnya merias wajah, Jharna membuat #LathiChallenge yang sukses bikin netizen kagum. Di video tersebut, ia seolah bernyanyi lagu Lathi yang bergenre EDM (electronic dance music) dengan penggalan lirik berbahasa Jawa, sambil memulas wajahnya.

Pertama, ia memesona bak pengantin Sunda lengkap dengan sigernya. Tiba-tiba, penampilannya berubah dengan gaya makeup yang bernuansa mistis sehingga meninggalkan kesan horor.

Sampai Rabu (20/5/2020) malam, video #LathiChallenge dari Jharna berhasil meraup 3 juta views dan menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal serupa.(detik.com, 20/5/2020)

Fenomena #LathiChallenge
seperti ini tentu selayaknya membuat kita merasa miris. Bukan sekedar karena di sana ada soal penyalahgunaan teknologi, tapi karena fenomena ini menunjukkan bahwa krisis identitas sedang merusak generasi negeri Muslim terbesar ini.

Terlebih, bukan hanya seorang Jharna yang telah berhasil meraup 3 juta views dan menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal serupa. Di dunia maya, banyak berseliweran video-video aksi para ABG yang bisa membuat kita geleng-geleng kepala. Mulai dari video-video prank sampah, video remaja bercadar sedang berjoget, video ABG yang mempermainkan ibadah salat, hingga video remaja yang bertik tok ria di dalam masjid yang semuanya cukup viral.

Jauh sebelumnya, Indonesia juga sempat digegerkan dengan munculnya selebgram kontroversial bernama Awkarin. Remaja yang dulunya digambarkan berhijab, tiba-tiba berubah menjadi ikon kebebasan remaja milenial. Kesehariannya diekspose sedemikian rupa dalam bentuk vlog. Termasuk kehidupan pribadi dan pergaulan dengan teman prianya yang nampak serba bebas merdeka. Sosok Karin saat itu, juga sempat menjadi idola sebagian remaja dan lagi-lagi dimanfaatkan oleh kepentingan bisnis melalui praktik endorsement yang kental dalam vlog yang dieksposnya.

Lantas, ada apa dengan generasi kita? Mau kemana mereka?

Rusaknya generasi hari ini  merupakan cermin rusaknya masyarakat kita hari ini. Ekspresi kebebasan yang diagungkan oleh mereka adalah juga merupakan ekspresi kebebasan yang kini tengah diagungkan masyarakat kita.

Negeri ini menganut sistem Sekuler Kapitalistik dalam menangani pendidikan warga negaranya. Sekuler kapitalisme adalah sistem sosial yang didasarkan pada pengakuan hak-hak individu. Paradigma mendasar sekularisme tentang pemisahan agama dari kehidupan telah berhasil menjebak generasi masa kini dalam jebakan liberalisme.

Paham sekulerulerisme ini menyingkirkan peran agama dari kehidupan. Dari rahim sekulerisme ini, lahirlah paham-paham rusak dan merusak lainnya, termasuk paham kebebasan berperilaku dan berkeyakinan yang melahirkan krisis moral dan krisis identitas.

Celakanya, paham sekularisme ini dipelihara bahkan tumbuh subur dalam habitat sistem demokrasi yang diterapkan dan dianggap sebagai sistem terbaik sekaligus berperadaban. Padahal sistem inilah yang meniscayakan negara lepas tangan dari urusan-urusan privat, termasuk urusan moral masyarakat.

Ide kebebasan inilah yang lantas dijadikan senjata bagi remaja bertindak bebas bahkan kebablasan. Tak hanya di dunia nyata tapi juga merambah ke dunia maya. Bahkan pergaulan bebas tidak hanya dengan lawan jenis saja namun juga dengan sesama jenis.

Di pihak lain, rakyat akhirnya berjalan sesuai kecenderungannya, bukan berdasarkan norma yang diakui bersama. Yang baik berusaha sendiri agar terus menjadi baik. Yang rusak, dengan bebas melakukan kerusakan bahkan memapar orang-orang baik dan merusak ikhtiar mereka untuk menjadi orang-orang yang baik.

Dampak dari ini semua adalah munculnya generasi yang bisa jadi pintar secara nalar, tapi minus dari peradaban mulia. Mereka pandai, tapi kriminal. Mereka cerdas, tapi bergelimang maksiat. Fungsi kontrol masyarakat pun, kian melemah. Amar ma’ruf nahi munkar justru dianggap ancaman bagi masyarakat.

Betapa nampak kerusakan akibat paham sekuler dan sistem hidup rusak bernama demokrasi. Ini dipastikan akan terus bertambah parah hingga umat ini kehilangan kekuatan dan kesempatan untuk menjadi umat terbaik di masa depan. Umat ini akan terus menjadi bangsa pembebek, bahkan menjadi obyek penjajahan sebagaimana sekarang.

Umat semestinya waspada bahwa agenda sekularisasi pendidikan hakikatnya adalah untuk memuluskan penjajahan. Umat pun harus waspada bahwa dengan gencarnya arus sekularisasi ini generasi masa depan akan semakin kehilangan pegangan, karena mereka makin dijauhkan dari Islam yang justru menjadi kunci kebangkitan.

Dengan demikian, sudah saatnya kita campakkan sekularisme, dan kembali berpegang teguh pada tali agama Allah yang telah terbukti menyelamatkan. Bahkan tali inilah yang membuat umat ini kuat, dan tampil sebagai umat terbaik belasan abad lamanya. Saat itu, generasi muda Islam menjadi ikon kebaikan dalam segala urusan. Bahkan menjadi penopang tegaknya masyarakat Islam dengan institusi politiknya yang bernama Khilafah Islamiyah. Saatnya selamatkan generasi dengan syariat dan Khilafah.

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar