TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

L68T Subur, Wabah Terus Melambung



Dilansir dari detikNews (3/6/2020), polisi berhasil membongkar sindikat pijat plus-plus khusus gay di Medan dengan 11 orang yang diamankan. Bahkan Polisi menduga pijat plus-plus ini memiliki jaringan tersendiri yang sifatnya tertutup. Polisi menduga aktivitas di pijat plus-plus khusus gay ini sudah berlangsung 2 tahun.

Masih hangat dalam ingatan kasus pelecehan gay yang dilakukan Reinhard beberapa bulan lalu. Begitu juga dengan kasus-kasus yang berkaitan dengan kelompok ini semakin banyak bermunculan. Banyak pihak mengecam namun tetap saja kaum melawan fitrah ini dibela. Mengapa?

Liberalisme menjamin kebebasan bertingkah laku setiap individu di balik Hak Asasi Manusia(HAM). Oleh karena itu, HAM selalu menjadi dalih bagi para LGBT untuk memperoleh justifikasi atas perilakunya. HAM digunakan sebagai benteng untuk melindungi aktivitas menyimpang ini.

Dalam pandangan HAM, setiap orang bebas bertingkah laku apa saja selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. Heteroseksual maupun homoseksual silahkan saja. Ingin menikah dengan lawan jenis maupun sesama jenis juga tak masalah. Bahkan memamerkan aktivitas homoseksual di ruang publik juga sah-sah saja. Ironis memang. Namun, begitulah faktanya. Mereka berlindung dibalik HAM untuk melegalkan perilaku menyimpangnya.

Ya, sistem Liberal Kapitalisme menyuburkan prilaku menyimpang ini. Karena setiap upaya menyelesaikan masalah LGBT akan dituding melanggar HAM. Ironisnya, ketika ada pelaku LGBT terkena HIV/AIDS justru para pendukungnya hilang tak peduli.

Islam dengan tegas mengharamkan perbuatan liwath alias homoseksual. Allah Swt. berfirman yang artinya: “Dan (Kami juga telah mengutus) Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya, Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini).” (QS Al-A’raf : 80)

Perilaku liwath diposisikan sebagai keharaman dan pelakunya berdosa sehingga kelak akan diazab Allah SWT dengan siksaan pedih di neraka. Bahkan Rasulullah Saw mengingatkan dalam Sabdanya,

”Tidaklah nampak perbuatan keji (zina) di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya.” [HR. Ibnu Majah, lihat ash-Shahihah no. 106]

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa wabah yang tengah menyerang suatu wilayah diakibatkan ulah manusia yang melanggar aturan Sang Pencipta. Perbuatan terlarang secara terang-terangan dilakukan. Dan saat ini benar adanya, tak ada rasa malu dalam menampakkan keburukan (zina) dan penyimpangan di tengah masyarakat. Dan bisa jadi, wabah covid-19 yang tengah mengurung dunia saat ini disebabkan zina dan penyimpangan seksual yang semakin merajalela. Astaghfirullah.

Adanya wabah Corona ini haruslah menjadi renungan untuk menjadi manusia yang lebih bertakwa. Semakin dekat kepada Sang Pencipta. Karena hanya Dia-lah yang mampu mengangkat wabah ini
.
Karena itu, hanya Islam yang mampu menyelesaikan masalah LGBT dengan tuntas. Hukuman bagi pelaku liwath adalah hukuman mati. Hal ini sekaligus sebagai pencegah orang lain meniru perilakunya.

Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.” (HR Tirmidzi dan yang lainnya, disahihkan Syekh Al-Albani)

Namun, Allah Swt. Yang Maha Pengampun memberikan kesempatan di dunia bagi pelaku liwath untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh (taubat nasuha). Wujud taubatnya adalah dengan dihukum di dunia. Hukuman ini adalah pilihan terakhir dari serangkaian edukasi dan pencegahan yang dilakukan oleh negara. Ya, Negara yang menerapkan Islam secara kaffah yang dapat menjalankan hukum-hukum Islam dengan tegas dan tuntas. Itulah Khilafah Islamiyah. Yang akan mengukuhkan akidah rakyat agar terbentuk masyarakat yang bertakwa. Bukan masyarakat yang mengumbar hawa nafsu semata. Wallahu a'lam.


Oleh: Isti Shofiah

Posting Komentar

0 Komentar