TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kritik Menawan, Kok Dihadapi Dengan Cara Murahan


Kritik nyentrik Bintang Emon terkait keadilan hukum di Indonesia  viral di jagat maya. Dengan gaya komedi, namun logis dan berisi cukup menyita perhatian banyak netizen. 

Meski dengan menawan khas si bintang Emon, ternyata ada juga yang meradang atas kritik si tersebit. Terbukti adanya upaya buzzer menteror akun Twitter si Bintang. Cara murahan dengan membuat meme dan memfitnah bintang Emon pemakai narkoba jenis sabu.

Serangan atau teror tersebut diduga berkaitan dengan video mengenai sindirannya terhadap tuntutan dua terdakwa pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis hanya dituntut pidana 1 tahun penjara. ( tribun jateng.com, 15/6/2020) 

Respon pembelaan dari sahabat dekat maupun masyarakat umum pun berdatangan. Hingga #BintangEmonBestBoy pun trending topik. Mereka memberikan kesaksian bahwa Bintang Emon tidak sebagaimana tuduhan akun noname si pemfitnah. 

Kasus fitnah dan pencemaran  nama baik atas orang-orang kritis terhadap kebijakan rezim kerap terjadi di negeri ini. Mulai kasus cating Habib Rizieq, Ali Baharsyah yang difitnah mengkoleksi Vidio porno. Dan banyak lainnya.  

Namun, sungguh disayangkan upaya pencemaran nama baik ini tak pernah diusut hingga tuntas. Berbeda ketika pihak rezim yang merasa dikritik pedas maka atas nama ujaran kebencian proses hukum pun cepat dilakukan. 

*Wajah Asli Demokrasi*

Serangkaian fakta pilu yang dialami orang-orang kritis terhadap kebijakan penguasa, kian menguatkan bahwa demokrasi Ilusi. Sistem demokrasi yang diagungkan menjamin kebebasan berpendapat hanya mitos tanpa bukti. 

Demokrasi laksana topeng manis menutupi wajah jahat kapitalisme dan sosialisme. Jargonnya persamaan di depan hukum. Nyatanya hukum tumpul ke atas. Simbolnya menjunjung tinggi hak asasi. Buktinya, hak kritik lewat komedi saja berujung serangan tak terpuji.

Islam Menghargai  Muhasabah Terhadap Penguasa

Islam sangat menghargai arti nasehat, termasuk muhasabah terhadap penguasa. Baik secara individu maupun terbuka. Bahkan dalam hadist Qudsi dinyatakan "ibadah yang aku sukai dari hamba-Ku adalah nasehat.

Begitupun nasehat atau muhasabah bagi para penguasa memiliki derajat tinggi dalam Islam. Sampai memberikan penghargaan "sayyidina syuhada" pemimpin para syuhada bagi mereka yang mengingatkan penguasa lalu terbunuh. Sebagaimana dalam hadist Rasulullah,

سَيِّدُ الشُهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدُ الْمُطَلِّبِ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ»

"Penghulu para syuhada’ adalah Hamzah bin ‘Abd al-Muthallib dan orang yang mendatangi penguasa zhalim lalu memerintahkannya (kepada kebaikan) dan mencegahnya (dari keburukan), kemudian ia (penguasa zhalim itu) membunuhnya.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak, al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath)

Adapun pada masa kekhilafan kritik atau muhasabah terhadap penguasa juga pernah dilakukan. Sebagaimana kisah yang Mashur di masa Khalifah Umar bin Khattab ketika mengingatkan Umar pada masalah Mahar.

Khalifah Umar pun tidak marah ketika salah seorang rakyatnya mengeluhkan Umar ketika anaknya kelaparan. Ibu tersebut bilang, "pasti Umar dalam kondisi enak-enakan", sedangkan rakyatnya ada yang kelaparan. Justru kata-kata rakyat tadi membuat Umar bergetar. Bergetar bukan lantaran marah. Tapi takut akan pertanggungjawaban terhadap rabb-Nya. 

Pemimpin yang mengemban amanah menjalankan aturan Rabb-Nya yang tidak ada tendensius ketakutan bahwa kritik rakyatnya. Dalam sistem khilafah pula rakyat lebih mudah dan jelas untuk mengingatkan para penguasanya. Karena standar kebijakan jelas yaitu Al-quran dan as-Sunnah. 

Rakyat bisa mengkritik secara langsung, atau pun lewat perwakilannya di majelis ummah. Sudah saatnya umat hidup tentram tanpa rasa takut menyampaikan aspirasinya. Tentu kondisi tersebut hanya terwujud dengan sistem khilafah yang menerapkan aturan sang pencipta. Allahu a'lam bi shawab.[]

Oleh: Yuyun Rumiwati

Posting Komentar

0 Komentar