TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kisah Manis Akhir Hayat Sang Legendaris Ki Gendeng Pamungkas

(Mengambil Ibrah dari Hijrahnya Ki Gendeng Pamungkas)

Setiap insan merindukan Husnul khatimah (akhir yang baik) dalam kehidupannya. Namun, tak jarang manusia kurang mempersiapkan bekal meraih mimpi tersebut. Dan kematian adalah pelajaran terbaik untuk mengingat mimpi indah tersebut. Semoga segala kisah kematian manusia menjadi pelajaran dan pengingat bagi kita. Termasuk wafatnya Ki Gendeng Pamungkas.

Ki Gendeng Pamungkas meninggal dunia di Rumah Sakit Mulia Pajajaran, Kota Bogor, Sabtu (6/6/2020) sekitar pukul 15.00 WIB.

Direktur RS Mulia Pajajaran Eva Erawati mengatakan yang bersangkutan meninggal karena komplikasi diabetes. "Dirawat sejak Rabu (3/6/2020)," katanya kepada Kompas.com, Sabtu (6/6/2020).
Hal fenomenal dari kehidupan beliau yang sering kita tangkap dari media adalah kisah suramnya  sebagai paranormal di dunia perdukunan. Namun, ada hal yang tidak banyak tersorot media terkait hijrah beliau. Hingga akhir hidupnya.

Sebagaimana postingan KH Hafidz Abdurrahman dalam FB beliau, berikut kisah singkat manis perjalanan hijrah Ki Gengeng Pamungkas,  berikut kutipan singkatnya, 

Sejak kemarin, di beranda saya berseliweran berita wafatnya seorang tokoh, yang sebelumnya dikenal sebagai tokoh supranatural.

Nama yang sangat beken di jagat perdukunan dan supranatural. Saya memang sudah lama mendengar tentang pertaubatan beliau dan keluarganya. Bahkan, putranya ikut ngaji dan menjadi barisan dari pejuang syariah dan Khilafah.

Melalui wasilah putranya, beliau akhirnya bertaubat dan hidup sebagai Muslim yang taat.

Iya, siapa yang tidak kenal dengan KI GENDENG PAMUNGKAS. Masa lalunya, pernah digunakan mendalami ilmu hitam pada 59 guru di 16 propinsi di Indonesia.

Bahkan, kegilaannya pada ilmu hitam konon sempat membawanya sampai ke Afrika untuk belajar Voodoo. Sejak 1978 ia menjadi orang terkenal dan disegani banyak orang.
Siapa yang mengira, beliau akhirnya bertaubat di akhir hayatnya. Meninggalkan praktik syirik, dan kembali menjadi seorang Muslim sejati, dengan mengikrarkan kembali syahadat.

Bahkan putranya, G Nusantara Merdeka kini konsisten di jalan dakwah. Perubahan yang terjadi pada diri Ki Gendeng Pamungkas pun banyak dipengaruhi oleh putranya tersebut.
 
Kemarin, Sabtu 06 Juni 2020 M/15 Syawwal 1441 H, lima belas hari setelah menunaikan ibadah puasa sebulan penuh, beliau dipanggil Allah. Semoga beliau mendapatkan apa yang disabdakan Nabi:

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

"Siapa saja yang berpuasa di Ramadhan dengan didasari keimanan, dan semata karena Allah, maka dia diampuni semua dosanya yang telah lalu."

Moga ini menjadi kabar gembira, yang menutup lembaran hidupnya. Karena pada akhirnya yang dinilai oleh Allah adalah catatan terakhir amalnya:

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607).

Tak hanya itu, beliau juga meninggalkan anak shalih yang akan terus mengalirkan pahala setelah wafatnya, dengan doa-doa dan amal dakwahnya. Putra yang tiap langkah dakwahnya akan menjadi pahala yang terus mengalir kepadanya. Apalagi pahala dakwah kepada syariah dan Khilafah yang begitu luar biasa

Mari kita doakan:

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ.

Dari kisah tadi kita bisa mengambil beberapa pelajaran diantaranya:

1. Jangan pernah berputus dari Rahmad dan ampunan Allah. Betapa Rahmad dan ampunan Allah luas. Selama manusia ada keinginan untuk bertobat. Maka jalan ampunan itu terbuka dengan izin Allah 

2. Bersegera menuju menuju ampunan Allah dan mengerjakan seruannya. Betapa kisah kehidupan manusia beragam. Tentu untuk bertobat tidak harus menunggu lanjut usia. Karena akhir usia adalah misteri. Tiap saat bisa menjumpai.

 Benar jika Allah memerintahkan kita dalam Qs. Ali Imron :  133, "Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu, dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi bagi orang-orang yang bertakwa

3. Hidayah dijemput bukan ditunggu. Jika ada yang berpersepsi menunggu datangnya hidayah untuk berubah, tentu butuh diluruskan. Karena hakikatnya, hidayah (petunjuk Allah) bertebaran dimana-mana, baik yang termaktub secara dalil Naqli pun aqli. Terlebih di era sekarang syiar dakwah tersebar luas. Sehingga jalan hidayah terbuka lebar. Tinggal manusianya, punya tekad kuat untuk menjemput hidayah tersebut atau tidak. 
Karena Allah sendiri menegaskan dalam Qs. Ar-Ra'du:11,
"Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka"

4. Istiqomah Berdakwah. Sebagai pengemban dakwah butuh menjaga keistiqomahan dalam amar makruf nahi mungkar. Tak elok, jika berputus asa dari kemungkinan perubahan atas objek dakwah, meski punya latar belakang kelam. Karena tugas pengemban dakwah hanya menyampaikan dengan sebaiknya sesuai yang dicontohkan Rasulullah. Sedang hasil adalah keputusan Allah.

Demikian, semoga wafatnya Ki Gendeng Pamungkas membawa kebaikan bagi almarhum. Pun membawa kebaikan bagi kita semua yang masih hidup untuk kian bersemangat dalam belajar Islam, mengamalkan dan menyebarkan. Hingga Hidayah dan syiar Islam menyelimuti bumi. Terlebih kekuatan umat yang sadar akan jati dirinya semoga muslim akan memudahkan pertolongan Allah dengan tibanya janji-Nya, kembalinya Khilafah Rasyidah yang akan menyebarkan Islam ke segala penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. 

Allahu a'lam bi shawab.

Oleh: Yuyun Rumiwati

Posting Komentar

0 Komentar