TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ketenangan Masyarakat hanya dengan Islam


Tak terasa sudah empat bulan lebih masa pandemi di Indonesia ini berlangsung. Tak terlihat titik terang akan berhentinya pandemi ini. Kekhawatiran akan terjangkitnya virus yang berasal dari kota Wuhan tersebut kian menguat saat PSBB akan diperlonggar Juli mendatang namun angka penambahan kasus positif corona masih terus bertambah. (beritasatu.com 12/05/2020) 

Was-was, Kriminalitas Bertambah

Ada banyak kekhawatiran-kekhawatiran lain yang membuat masyarakat semakin panik. Dimulai dari kondisi ekonomi yang anjlok hingga menimbulkan banyaknya kasus kriminalitas yang terjadi di masyarakat. Ditambah, faktor dibebaskannya para narapidana oleh pemerintah yang tidak sedikit daripadanya berbuat ‘ulah’ kembali.(nasional.kompas.com 20/04/2020)

Di daerah Ciporeat, Kecamatan Ujungberung, dua kasus kriminal telah terjadi. Dari mulai pemalakan oleh preman kampung yang berakhir pembacokan kepada salah satu pedagang yang enggan memberikan uangnya hingga kasus terbaru pembegalan sepeda motor. (jabar.tribunnews 12/05/2020) 

Kriminalitas yang terjadi di masyarakat akan diselesaikan saat ada pelaporan, sehingga kejahatannya telah terjadi dan kabar pun menyebar di masyarakat sehingga stress, khawatir dan was-was akan kriminalitas sangat rentan ada di masyarakat.

Kondisi Masyarakat

Satu sisi masyarakat harus tetap menafkahi diri dan keluarganya karena merasa di kondisi seperti ini tidak ada yang bisa membantu ekonomi mereka selain mereka harus memperjuangkannya sendiri. Pada awalnya, masyarakat masih kuat kekhawatirannya dengan pandemi ini.

Rasa kekhawatiran tersebut juga dapat berdampak terhadap kondisi mental masyarakat. Kekhawatiran yang berlebihan dapat membuat stress dan akan menurunkan imunitas tubuh. Sehingga rentan sekali untuk dijangkiti virus ini saat imun tubuh menurun. Hal yang wajar, jika masyarakat mengalami stress dan khawatir berlebihan. Masyarakat saat ini cenderung sudah bosan dengan himbauan di rumah saja saat pandemi. Dengan adanya new normal, masyarakat tidak khawatir lagi keluar rumah dan beraktivitas seperti biasa, bedanya saat ini harus pakai masker.  Padahal, angka kenaikan kasus positif hingga pertengahan Juni 2020 itu hampir melampaui jumlah kasus sepanjang Mei 2020. Terhitung sejak 1 sampai 31 Mei, jumlah kasus positif mencapai 16.355 orang. (www.cnnindonesia.com 22/06/2020)

Regulasi Hakiki

Begitulah kiranya dampak dari sebuah aturan yang dibuat berdasarkan hawa nafsu semata. New normal ini diterapkan untuk menggerakkan lagi roda perekonomian, namun sejatinya mengorbankan kesehatan masyarakat dengan dibuktikan pemaparan fakta tentang meningkatnya kasus positif corona di masyarakat. Kebijakan atau aturan yang hanya dengan berasaskan manfaat sehingga kemudharatan yang menurut mereka sedikit diabaikan, sedangkan manfaat yang menguntungkan mereka diambil dan lahirlah sebuah aturan yang menimbulkan kekacauan, sehingga tidak jelas kapan dampak virus ini mereda ataupun tidak mengetahui secara detail apakah hajat hidup masyarakat per individu sudah terpenuhi ataukah belum.

Maka, aturan saat ini berbeda dengan aturan pada kejayaan Islam, yang darinya terdapat aturan dan petunjuk langsung dari sang Pencipta. Dimana aturan dan petunjuk itu tidak diragukan ke-shahih-annya. Karena aturan ini bukan berasal dari hawa nafsu manusia yang dapat menyebabkan kesengsaraan.

“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” ( QS. Ar Ra’d : 37 )

Aturan atau syariat Islam juga sangat melindungi nyawa manusia. Tidak ada asas manfaat dalam syariat islam sehingga dalam pemerintahan islam, penguasa tidak boleh menimbang-nimbang mana yang menguntungkan bagi mereka ataupun yang merugikan mereka. 

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain , atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya . Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Ma’idah : 32)

Aturan yang berasal dari Allah apabila diterapkan tidak basah dalam lisan kita saja insyaa Allah mampu menjamin keamanan bagi setiap rakyat. Disaat kondisi wabah, negara berkewajiban menjamin rasa aman dan memenuhi setiap kebutuhan pokok rakyatnya perindividu bukan perkapita. Sehingga negara dalam syariat islam tidak akan mungkin memiliki pemikiran untuk membebaskan pelaku kejahatan yang darinya menimbulkan rasa cemas pada rakyat dengan dalih tidak bisa menanggulangi sebaran wabah di sel tahanan. Negara tidak mungkin pula menerapkan program yang sejatinya hanya berdasarkan tujuan ekonomi segelintir orang bukan rakyat kecil apalagi memikirkan kesehatan masyarakat. 

Dengan penerapan aturan Islam jika ada wabah atau keadaan darurat lainnya, tidak perlu memakan waktu lama untuk rakyat mendapatkan bantuan untuk menunjang kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sehingga tidak akan ada kecemasan bagi masyarakat saat negara memberlakukan lockdown dan negarapun tidak akan menunda-nunda lockdown hanya karena materi semata karena penerapan aturan Islam ini atas dorongan takwa kepada Allah SWT. Wallohu’alam bi ash shawab.[]

Oleh : Fina Fatimah

Posting Komentar

0 Komentar