TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kenapa Mesti Bingung Sekolah Buka Lagi?


Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI yang juga pemerhati pendidikan dan anak Fahira Idris menegaskan apapun skenario pembukaan sekolah tidak akan efektif dan tetap berisiko selama wabah ini belum bisa dikendalikan. Sekolah dan aktivitas belajar mengajar yang dirancang sebagai medium membangun komunikasi tidak akan berjalan efektif  jika tetap dipaksa dilakukan ditengah pandemi yang belum terkendali saat ini. (Republika, 29/5/2020)

Pandemi covid-19 masih   menunjukkan tren naik menuju puncaknya. Namun pemerintah terus saja gencar  melakukan manuver yang menyesakkan dada rakyat. Seperti, mengeluarkan kebijakan pembukaan sekolah,  yang ujung-ujungnya menuai protes.

Sebab kebijakan tersebut untuk saat ini belumlah tepat. Pemerintah mesti  lebih dahulu memikirkan persoalan ini secara matang dan menyatukan suara dengan pihak-pihak yang terkait.

Kekhawatiran Fahira Idris di atas, pastinya juga  mewakili perasaan orang tua yang merasa belum siap untuk melepaskan anaknya untuk ke sekolah. Selain faktor keamanan dan kondusifitas, faktor psikologis, kesiapan orang tua dan siswa mestinya perlu  menjadi perhatian pemerintah sebelum sekolah di buka. 

Mungkinkah Sekolah Kembali di Buka?

Selayaknya sebelum pembukaan sekolah dimulai pemerintah  perlu mempertimbangkan hal-hal berikut ini, yaitu:

Pertama, kondisi kasus perkembangan   covid-19 hari ini belum melewati puncaknya. Mestinya pemerintah kembali meninjau ulang kebijakan yang telah diterapkan selama ini. Jangan sampai kebijakan pembukaan sekolah membuka  peluang klaster baru penyebaran covid-19, yaitu klaster sekolah.

Kedua,  faktor ekonomi orang tua siswa yang  yang terdampak covid-19 belum lagi stabil. Ini tentu sangat berpengaruh terhadap psikologis orang tua juga siswa. Apalagi untuk memasuki tahun ajaran baru biasanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Ketiga, sebelum  pembukaan sekolah baru, pemerintah hendaknya sudah menyiapkan vaksin untuk pencegahan covid-19.  Yang terpenting  pemerintah terlebih  dahulu  berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan para ahli epidemilogi. Apakah sudah sepakat membuka sekolah kembali?

Keempat, pemerintah hendaknya memastikan kesiapan sekolah dan siswa agar bisa menyesuaikan diri dengan aktifitas belajar mengajar ditengah pendemi dengan mengikuti protokol kesehatan yang cukup ketat. 

Di sini hal yang perlu sekali ditekankan adalah kemampuan sekolah untuk menjaga jarak aman antar siswa. Menyediakan sarana cuci tangan. Memastikan para siswa menggunakan masker sepanjang waktu di sekolah dan membuat sekat antar meja per siswa. 

Kemudian, menutup kantin dan memastikan para siswa membawa bekal sendiri, untuk mengurangi kerumunan. Menyesuaikan kurikulum dan jadwal belajar agar siswa tidak terlalu lama di sekolah dan tidak terlalu lelah yang dapat mengurangi imun tubuhnya.

Agar proses penanganan pandemi covid-19 lebih cepat dilakukan. Dibutuhkan  keterbukaan pemerintah untuk menampung masukan dan kritikan dari berbagai pihak, tentunya itu menjadi hal yang sangat positif dilakukan. 

Solusi Islam Menghadapi Pandemi

Salah satu bukti sejarah menunjukkan wabah smallpox (cacar) yang melanda khilafah Utsmaniyah pada abad 19. Para penguasa dan ilmuwan Utsmaniyah terus berjibaku mengatasinya. Berbagai riset telah dilakukan mengenai wabah dan cara menanganinya.  

Peristiwa tersebut membangkitkan kesadaran kalangan penguasa tentang pentingnya vaksinasi smallpox  dan khalifah pada waktu itu menjamin ketersediaan fasilitas kesehatan, dokter dan tenaga  profesional kesehatan lainnya. 

Dalam sistem Islam prosedur penanganan wabah tidak membutuhkan prosedur yang rumit. Baitul Mal siap mengalokasikan 30% dana wakaf untuk membuat layanan dan penelitian kesehatan tanpa memikirkan untung rugi dari biaya yang sudah dikeluarkan.

Khalifah, sang penguasa Islam siap menjalankan prosedur penanganan wabah sesuai sesuai syariat serta menjalankan tugasnya hingga jaminan kebutuhan pokok tiap rakyatnya baik berupa pangan, pakaian, dan papan. 

Jika dibandingkan dengan situasi saat ini, maka negara tidak perlu membebani sekolah maupun orang tua dengan persoalan materi.  Karena semua yang menyangkut biaya penanganan covid-19, seluruhnya wajib ditanggung oleh negara.

Pemerintah tinggal mengatur teknis pelaksanaan belajar yang baik dan nyaman untuk siswa, baik  belajar  dengan daring atau tatap muka. Bagaimana pun kondisinya, proses belajar mengajar mesti tetap jalan. Semua fasilitas belajar sudah tersedia dengan lengkap. Tidak akan ada lagi keluhan kehabisan kuota internet atau jaringan yang lelet.

Dengan sistem Islam, pendidikan ditengah wabah tidak akan terabaikan. Pemerintah pun tidak akan kehilangan akal, mencari solusi yang handal. 

Hal  tersebut tentu benar-benar bisa direalisasikan. Jika  pemimpin memiliki kesadaran penuh bahwa ia memiliki tugas sebagai raaiin (pengatur dan pemelihara) dan junnah (pelindung) sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

“Seorang imam adalah raain (pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya), dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyatnya. (HR Bukhari dan Muslim).

Selayaknya para pemimpin tidak  berfikir panjang dan tawar  menawar lagi, untuk menerima  Islam sebagai solusi yang jelas teruji. Juga bukan setengah hati, sebab solusi Islam ciptaan Maha Sempurna. Maka, tidaklah salah jika sistem Islam mesti diterapkan secara kaffah dalam sebuah institusi negara.

Oleh: Sri Nova Sagita 
(Institut Kajian Politik dan Perempuan)

Posting Komentar

0 Komentar