Kelemahan Ekonomi Kapitalisme Sekuler


Pada proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal dua, Kementerian Keuangan merilis angka negatif 3,8 persen. Badan pusat statistik minus 4,6 persen, Kementerian PPN dan Bappenas lebih dalam ke minus 5 persen, mendekati megatif 6 persen.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, perbedaan ini menjadi bukti, sangat tidak pastinya pertumbuhan ekonomi. Kekhawatiran resesi semakin menyengat di tahun ini. Tetapi, penjaga fiskal dan moneter yakin, ekonomi tahun depan akan berbalik.

Di 2021, kementerian keuangan punya asumsi, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bergerak antara 4,5 persen sampai 5,5 persen, dengan kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat 14.500 sampai 15.500.(kompas.tv.com, 23/6/2020)

Sistem ekonomi kapitalisme memang memiliki karakter untuk mengalami krisis secara periodik berulang mengikuti gelombang konjungtur. Jika sistem ekonomi ini mengalami krisis maka sistem ini akan memiliki kemampuan untuk memulihkan diri. Sebabnya, polanya selalu begitu ada saatnya pertumbuhan ekonomi kapitalisme itu membumbung naik. Fase selanjutnya akan mengalami penurunan bahkan bisa terjadi krisis. Namun, berikutnya ekonominya bisa pulih kembali dan naik lagi pertumbuhannya. Begitu lagi seterusnya.

Indonesia secara struktur ekonomi memang termasuk negara yang lemah. Paling tidak dapat dilihat dari struktur industrinya yang masih sangat tergantung pada bahan baku impor. Jika ekonomi dunia mengalami krisis maka Indonesia tentu akan berdampak langsung oleh krisis tersebut. Akibat yang akan terjadi tidak akan jauh berbeda dengan krisis moneter tahun 1997-1998 yang lalu. 

Dan yang terkena dampak krisis adalah kelompok masyarakat yang tidak memiliki basis sumber daya alam yang kuat. Mereka adalah yang hanya bertumpu pada kekayaan finansial yang berupa simpanan uang kertas. Jika nilai rupiah jatuh maka mereka akan langsung merasakan dampaknya. 

Salah dari Akarnya

Krisis yang melanda belahan dunia terutama yang menimpa negara utama pengusung ekonomi kapitalis yakni Amerika menjadi bukti bahwa ada yang salah dalam sistemnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa krisis ekonomi yang terjadi bukan sekedar karena persoalan teknis ekonomi atau karena wabah Corona. Tetapi lebih karena kondisi ekonomi kapitalisme yang rapuh diantaranya:

Pertama, sistem ekonomi kapitalis setelah menyingkirkan emas sebagai cadangan mata uang kemudian menjadikan dolar AS sebagai pendamping mata uang di negara-negara dunia. Akibatnya goncangan ekonomi sekecil apapun di AS akan menjadi pukulan yang telak bagi perekonomian negara-negara lain. Sebab sebagian besar cadangan devisa negara-negara di dunia di cover dengan dolar AS yang nilai intrinsiknya tidak sebanding dengan kertas dan tulisan yang tertera. Karena itu selama emas tidak menjadi cadangan mata uang maka krisis ekonomi seperti ini akan terus terulang.

Kedua, hutang-hutang ribawi alias bunga berbunga telah menciptakan masalah perekonomian yang besar bahkan kadar hutang pokoknya tentu menggelembung sesuai dengan persentase bunga yang berlaku hingga menyulitkan negara atau individu mengembalikan pinjaman. Krisis pengembalian pinjaman itu membuat roda perekonomian berjalan lambat.

Ketiga, cacatnya sistem yang digunakan di nursa dan pasar modal yakni transaksi jual beli saham obligasi dan komoditi yang tidak disertai dengan adanya syarat serah terima komoditi yang bersangkutan. Bahkan bisa diperjualbelikan berkali-kali tanpa harus mengalihkan komoditi tersebut dari tangan pemiliknya yang asli. Ini adalah sistem yang jelas menimbulkan masalah.

Pertumbuhan ekonomi kapitalisme adalah pertumbuhan ekonomi yang palsu seperti fatamorgana. Sebabnya, pertumbuhan ekonomi yang terjadi hanya berputar-putar dari kertas uang, kertas utang dan kertas saham. Tidak banyak memberikan kontribusi yang besar pada ekonomi riil kecuali hanya sedikit dibanding perputaran di sektor non riil.

Sebab lain yang membuat hancurnya sistem ekonomi kapitalis adalah kesalahan memahami fakta kepemilikan di mata para pemikir timur dan barat kepemilikan umum adalah kepemilikan yang dikuasai negara sedangkan kepemilikan pribadi merupakan kekayaan yang dikuasai kelompok tertentu. Sesuai dengan teori kapitalisme liberal yang bertumpu pada pasar bebas, privatisasi ditambah dengan globalisasi. Negara tidak bisa mengintervensi kepemilikan. Akibat kesalahan memahami fakta kepemilikan terjadilah goncangan dan masalah ekonomi.

Solusi Islam Mengatasi Resesi Ekonomi

Pertama, mengubah perilaku buruk pelaku ekonomi yaitu dengan diperkenalkan dan ditanamkan pada diri seseorang akidah Islam dan dengan itu ia sadar bahwa dirinya adalah seorang muslim bukan sekularis komunis atau yang lainnya.Hal ini dilakukan guna menghindari perilaku buruk pelaku ekonomi. Percuma saja jika sistemnya bagus tetapi manusianya bobrok.

Kedua, tata kelola pemerintahan sesuai syariat dimana politik ekonomi Islam bertujuan untuk memberikan jaminan pemenuhan pokok setiap warga negara baik dia muslim ataupun non muslim sekaligus mendorong mereka agar dapat memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier sesuai dengan kadar individu yang bersangkutan yang hidup dalam masyarakat tertentu. Dengan demikian titik berat sasaran pemecahan permasalahan dalam ekonomi Islam terletak pada permasalahan individu manusia bukan pada tingkat kolektif (negara dan masyarakat).

Ketiga, kestabilan sosial dan politik. Berdasarkan tata kelola pemerintahan dalam Islam khilafah akan melaksanakan dan memantau perkembangan pembangunan dan perekonomian dengan menggunakan indikator-indikator yang menyentuh tingkat kesejahteraan masyarakat yang sebenarnya bukan hanya indikator pertumbuhan ekonomi.

Keempat, menstabilkan sistem moneter dengan 2 cara yaitu mengubah dominasi dolar dengan sistem moneter berbasis Dinar dan Dirham. Kemudian mengganti perputaran kekayaan di sektor non riil atau sektor moneter yang menjadikan uang sebagai komoditas menjadi ke arah sektor riil.

Kelima, menstabilkan sistem fiskal. Dalam sistem ekonomi Islam setidaknya ada tiga macam bentuk kepemilikan. 

Pertama, yaitu kepemilikan umum yang meliputi semua sumber daya alam baik yang keras, cair maupun gas seperti minyak, barang tambang, jalan tol, sumber air dan lain sebagainya wajib dikelola oleh negara dan haram diserahkan ke swasta atau privatisasi. 

Kedua, kepemilikan negara seperti ghanimah, fa'i, khumus, kharaj, jizyah 1/5 harta rikaz, harta orang murtad, harta orang yang tidak memiliki ahli waris dan tanah milik negara. Harta milik negara digunakan untuk berbagai kebutuhan yang menjadi kewajiban negara untuk mengatur dan memenuhi urusan rakyat seperti menggaji pegawai, akomodasi jihad, pembangunan sarana dan prasarana publik dan lain sebagainya. 

Ketiga, kepemilikan pribadi, kepemilikan ini bisa dikelola individu sesuai dengan Hukum syariah.

Sejarah Mencatat Sistem Ekonomi Islam Menciptakan Kemajuan Ekonomi

Pada masa pemerintahan Abdurrahman III diperoleh pendapatan sebesar 12.045.000,- dinar emas. Diduga kuat bahwa jumlah tersebut melebihi pendapatan pemerintahan negeri-negeri Masehi latin jika digabungkan. Sumber pendapatan yang besar tersebut bukan berasal dari pajak yang tinggi melainkan salah satu pengaruh dari pemerintah yang baik serta kemajuan pertanian, industri dan pesatnya aktivitas perdagangan. (Will Durant - The Story of Civilization)

Maka menjadi kewajiban kita bersama untuk ikut berjuang dalam upaya penegakan negara Khilafah Rasyidah yang akan mengemban dan menerapkan syariat Islam termasuk sistem ekonomi Islam yang akan menghidupkan kita dalam kehidupan yang indah, aman, menentramkan dan sejahtera dalam limpahan keberkahan Allah Swt.

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar