TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Keadilan yang Tak Berpihak Pada Umat Islam


Isu Rasisme yang mendorong masyarakat Amerika Serikat untuk turun ke jalan menuntut kematian seorang keturunan Afrika yang meninggal akibat kuncian yang dilakukan oleh polisi Amerika Serikat (AS). Kematian George Floyd ini memicu unjuk rasa besar-besaran di AS. Selama ini warga kulit hitam menjadi ras nomor dua di AS.

Dari kasus Floyd ini membuka tabir kejahatan tentara Israel. Kasus kuncian yang dilakukan oleh tentara Amerika Serikat kepada Floyd, hingga menghilangkan nyawanya. Kasus hal yang serupa sering dilakukan oleh tentara Israel kepada rakyat Palestina. Suara umat Islam menyuarakan keadialan tak didengar oleh pemimpin negeri Islam seantero dunia.

Dikutip dari minanews.net, untuk satu komunitas. Kekerasan tidak proporsional yang dihadapi oleh orang kulit hitam di tangan pasukan polisi AS memiliki resonansi khusus karena mencerminkan pengalaman mereka sendiri dengan pihak berwenang.

Namun bagi warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan militer di Yerusalem Timur dan Tepi Barat yang diduduki, ekses terburuk dari jenis yang terlihat di AS baru-baru ini, adalah kejadian yang hampir setiap hari terjadi.

Setelah pembunuhan Floyd, orang Palestina dengan cepat menarik paralel antara gambar akhir dari pria yang menderita di bawah lutut polisi AS dengan kuncian serupa yang digunakan oleh pasukan pendudukan Israel terhadap para lelaki dewasa dan anak-anak Palestina.

“Gila, bagaimana hal yang sama terjadi di Palestina tetapi dunia memilih untuk mengabaikannya,” tulis atlet Palestina Mohammad Alqadi di Twitter-nya di atas empat gambar terpisah yang menunjukkan tentara Israel menjepit leher atau kepala warga Palestina ke tanah dengan lutut.

Pembunuhan orang-orang Palestina oleh pasukan Israel juga merupakan kejadian biasa. Pada tahun 2019, 135 orang Palestina terbunuh oleh pasukan Israel dengan 108 di Gaza dan 27 lainnya di Tepi Barat, menurut PBB.

Kesamaan tidak berakhir di sana karena beberapa aktivis telah menarik paralel antara cara polisi AS menangani protes terhadap kebrutalan polisi setelah kematian Floyd dan cara Israel menangani protes di Gaza.

Di Twitter, kelompok kerja BDS dan Solidaritas Palestina di dalam Sosialis Demokrat Amerika menulis: “Kekerasan polisi yang terjadi malam ini di Minneapolis langsung dari buku pedoman IDF (Pasukan Pertahanan Israel). Berapa kali kita melihat pemberontakan di Gaza bertemu dengan badai gas air mata? Berapa kali orang Palestina di Tepi Barat disiram dengan air sigung selama protes? Polisi AS berlatih di Israel.” (Potlot.id 01/06/2020)

Hari ini ribuan bahkan jutaan nyawa kaum muslimin melayang sia-sia. Gelombang protes yang dilakukan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Hal ini bertujuan menuntut keadilan, namun faktarnya tak di dengar oleh lembaga-lembaga dunia. Mereka diam seribu bahasa. Begitu juga dengan para pemimpin negeri muslim, mereka tutup telinga atas kondisi rakyatnya. Mereka lebih tunduk kepada penguasa kafir. Mereka rela menjadi "budak" dari pada membela kehormatan rakyatnya. 

Umat Islam saat ini tidak punya pelindung sehingga nyawa dan kehormatannya tidak terjaga. Nyawa kaum muslimin tidak ada harganya. Kaum muslimin butuh pemimpin yang akan membela kehormatan dan melindungi nyawa mereka. Pemimpin itu tidak lain adalah seorang khalifah.

Khalifah tidak akan membiarkan seorang rakyat kehormatan dan nyawanya terenggut oleh orang kafir. Hal ini sebagaimana terjadi pada saat Al Mu'tashim Billah menjadi khalifah. Pada saat itu ada seorang wanita yang kehormatan dilecehkan oleh seorang yahudi. Wanita tersebut berteriak memanggil Al Mu'tashim. Al Mu'tashim datang memenuhi seruan wanita tersebut dan membawa ribuan tentara. 

Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun 223 Hijriyyah (837 Masehi), dalam judul Penaklukan kota Ammuriah.

Pada tahun 837, Al-Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah dari Bani Hasyim. Wanita tersebut sedang berbelanja di pasar yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya.

Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu’tashim Billah dengan lafadz yang legendaris: “waa Mu’tashimaah!” yang juga berarti “di mana kau Mutashim…tolonglah aku!”

Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki), karena besarnya pasukan.

Catatan sejarah menyatakan bahwa ribuan tentara Muslim bergerak di bulan April, 833 Masehi dari Baghdad menuju Ammuriah. Kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk di tangan Khalifah al-Mu’tasim pada tanggal 13 Agustus 833 Masehi.

Sebanyak 30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 lainnya ditawan. Pembelaan kepada muslimah ini sekaligus dimaksudkan oleh khalifah sebagai pembebasan Ammuriah dari jajahan Romawi.

Setelah menduduki kota tersebut, khalifah memanggil sang pelapor untuk ditunjukkan di mana rumah wanita tersebut. Saat berjumpa dengannya ia mengucapkan “Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku?”. Itu ‘baru seorang muslimah’ dan ‘baru dilecehkan.’

Inilah gambaran terjaganya kehormatan dan nyawa manusia dalam lindungan khilafah. Khalifah sebagai junnah (pelindung) akan melindungi kehormatan dan nyawa rakyatnya. Kisah ini bukanlan kisah khayali pengantar tidur atau kisah fiktif yang tidak nyata. Namun kisah ini benar adanya. Saatnya saat ini kita berjuang untuk menegakkan kembali khilafah. Allahu Akbar.[]

Oleh: Siti Masliha, S.Pd (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar