TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kaum Pelangi Makin Eksis?


Seruan boikot produk Unilever menyeruak di antara netizen Indonesia karena Unilever dianggap mendukung LGBT. Unilever Indonesia lalu buka suara.

"Unilever beroperasi di lebih dari 180 negara dengan budaya yang berbeda. Secara global dan di Indonesia, Unilever percaya pada keberagaman dan lingkungan yang inklusif," kata Governance and Corporate Affairs Director Unilever Indonesia Sancoyo Antarikso dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6/2020).

Sancoyo menegaskan Unilever telah berada di Indonesia selama 86 tahun. Perusahaannya menghormati budaya dan norma di Indonesia. (detiknews, 25/6//2020)

Bukan rahasia umum lagi, eksistensi dan kampanye  LGBT  cukup mendapat dukungan dari perusahaan- perusahaan swasta asing, seperti Starbucks, Coca-Cola, Facebook, Nike, Adidas, Google, Pepsi, Apple, Toyota, Honda, Oreo, Microsoft, dan banyak lagi yang lainnya.

Eksistensi mereka  di negeri ini pun tidak bisa di pandang sebelah mata. Sebab dengan dukungan yang begitu besar, maka mereka pun dengan leluasa mengkampanyekan virus LGBT  tidak lagi secara sembunyi-sembunyi dan keberadaan mereka pun sangat gampang diakses publik melalui berbagai media. 

Salah satu media yang paling eksis saat ini yaitu  aruspelangi. com. komunitas Arus pelangi ini pun juga  menerbitkan sebuah majalah yang aktif mempromosikan LGBT, Out Zine. 

===
Kalau ini terus dibiarkan, akan sangat membahayakan bagi bangsa Indonesia. Dikutip dari Kaffah (26/1/2018) gerakan LGBT tidak bisa dianggap biasa, kerusakan yang ditimbulkan pun nyata, sebab LGBT tidak hanya menambrak norma agama dan tatanan sosial, tetapi juga berpotensi besar  menyebarkan wabah HIV/AIDS dan kanker anal dinegeri ini.

Dana yang dibutuhkan untuk pegobatan pasien HIV/AIDS pun sangat besar. Pada tahun 2016, pemerintah Indonesia mengalokasikan dana sebesar Rp. 782 miliar bagi 70 ribu pasien dengan stock 18 bulan.

Selain itu, penyakit ini pun mengjangkiti salah satu daerah di Indonesia seperti  Sumatera Barat, berdasarkan perkiraan Perhimpunan Konselor VCT HIV Indonesia (PKVHI) hubungan seks kategori menyimpang ini dilakoni antara 3.000 hingga 5.000 pelaku: perpindahan virus HIV/AID lewat hubungan sesama jenis, terutama kasus lelaki suka lelaki (homoseksual) adalah yang paling mengkhawatirkan.  Ini angka yang mencengangkan,ujar Sekretaris PKVHI Sumbar, Katherina Welong. 


Permasalahan LGBT bukan masalah kecil, sebab ini merupakan permasalahan sosial yang berdampak kompleks tidak hanya tentang  disorientasi seksual, tetapi juga menyangkut pada institusi keluarga, masyarakat dan negara.

Berkembangnya LGBT  juga tidak terlepas dari  konsekuensi  berbahaya dari tegaknya sistem Demokrasi, yang tegak di atas pilar-pilar kebebasan. Kebebasan disini termasuk melakukan segala hal yang menyelisihi agama dan menjustifikasi berbagai kemungkaran atas nama kebebasan.

Selain itu kaum liberal negeri ini pun punya andil besar dalam mempropagandakan pemikiran-pemikiran rusak dan merusak, berkiblat ke negara Demokrasi Sekuler seperti Amerika yang melegalkan LGBT.

===

Dari sini jelas bahwa permasalahan pelik LGBT merupakan permasalahan sistemik, buah dari kehidupan liberalistik dibawah asuhan sistem sekuler demokrasi yang bertentangan dengan Islam. Dalam praktiknya penyimpangan ini makin meluas karena  didukung oleh:

Pertama, sistem pendidikan formal yang tidak mampu memahamkan siswa terhadap akidah dan syariat islam. Ini terkait dengan  kurikulum  materi pedidikan agama  disekolah maupun perguruan tinggi hanya dua jam seminggu. 

Dengan bekal ilmu agama yang sedikit, tidak akan mampu melawan pemikiran  sekuler yang kian menepiskan ajaran Islam. Sehingga pengamalan ajaran Islam ditengah-tengah masyarakat semakin minim.

Kedua, kontrol sosial sebagian masyarakat yang lemah dan apatis,  terjangkit virus mematikan sekularisme, liberalisme dan pluralisme dan paham HAM  yang menjadi dalih legitimasi atas LGBT.

Ketiga, sistem hukum pidana warisan kolonial Belanda yang mandul; tidak ada pasal hukum tersendiri yang bisa menjerat pelaku LGBT suka sama suka.

Ini semua imbas dari  hilangnya rasa kekhawatiran dalam melakukan kemaksiatan, hilangnya rasa takut dan tiada efek jera ditengah-tengah masyarakat, sehingga LGBT semakin meraja lela. 

Oleh sebab itu, dukungan apapun terhadap  LGBT tidak bisa dibiarkan sebab bertentangan ajaran agama juga norma-norma yang ada dalam masyarakat.  Selain itu  eksistensi kaum Luth ini, sudah menyelisihi tabiat fitrah manusia. Wallahu alam.[]

Oleh Sri Nova Sagita
Institut Kajian Politik dan Perempuan

Posting Komentar

0 Komentar