TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kapitalisme Terguncang Hadapi Corona



Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa kondisi perekonomian dunia saat ini tengah menghadapi situasi yang luar biasa sulit dalam menghadapi Covid-19. Maka bersiaplah untuk kondisi dan hidup yang lebih menantang di masa mendatang.

Presiden Jokowi menegaskan bahwa 215 negara saat ini tengah menghadapi darurat kesehatan dan harus menyelamatkan warganya dari ancaman Covid-19. Semua negara saat ini terus berjuang.

Presiden Jokowi menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 telah membuat aktivitas perekonomian terganggu. Permintaan, pasokan hingga produksi di sejumlah kegiatan untuk mengakselerasi perekonomian tersendat. Sekali lagi, situasi seperti ini perlu respon pemerintah yang cepat dan tepat. (https://www.cnbcindonesia.com/news/20200615112511-4-165343/winter-is-coming-jokowi-tekanan-ekonomi-sangat-dahsyat)

Virus corona Covid-19 mampu memporakporandakan hampir negara-negara sejagat. Perekonomian mengalami kemunduran. Indonesia pun kewalahan menghadapi Covid-19. Bahkan kebijakan-kebijakan untuk menghadapi wabah Covid-19 ini seakan saling bertabrakan antara satu kebijakan dengan kebijakan yang lain.

Pernyataan Presiden Jokowi di atas patut untuk dicermati. Jika memang negara sejagat kena dampak wabah ini, berarti ada yang salah dengan pengaturan perikehidupan manusia di negara-negara sedunia saat ini. Karena pengaturan perikehidupan atau sistem yang dianut oleh dunia adalah (sebagian besar) Kapitalisme.

Sebenarnya bukan hanya saat wabah saja telah nampak ketidakmampuan negara-negara di dunia menghadapi masalah-masalah ekonomi, sosial, politik dll, namun saat normal pun sebenarnya problem sering muncul dan seakan tidak tuntas. Karena Kapitalisme memang mengatasi masalah dengan masalah, gali lubang tutup lubang, tambal sulam.

Kita amati Indonesia, dalam perekonomiannya yang mengambil kebijakan fiskal dan moneter. Kebijakan fiskal adalah kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh pihak pemerintah guna mengelola dan mengarahkan kondisi perekonomian ke arah yang lebih baik atau yang diinginkan dengan cara mengubah atau memperbarui penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran dan pajak.

Di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bahwa pajak menempati porsi yang besar sebagai instrumen pendapatan. Memang semua dipajaki. Bahkan orang mati pun juga kena pajak. Dan pajak ini ternyata semakin memberatkan tanggungan masyarakat. Pajak juga penyumbang melambungnya/naiknya harga-harga. Maka semakin terpuruklah kondisi masyarakat.

Jika ingin masyarakat sejahtera, hilangkan saja pajak dari instrumen pendapatan negara. Optimalkan kekayaan alam negara ini yang sebenarnya melimpah ruah, dengan sistem pengelolaan yang benar. Yaitu dikelola negara dan hasil pengelolaan dikembalikan kepada rakyat berupa pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan, pengadaan fasilitas umum (fasum) dan lain-lain. 

Tidak menyerahkan pengelolaan kekayaan alam/sumber daya alam kepada swasta (individu atau pun kelompok), yang tentunya swasta (individu atau kelompok) ini akan memperhitungkan untung dan rugi sehingga harga yang harus dibayar oleh masyarakat juga semakin mahal sehingga daya beli masyarakat akan turun.

Selain kebijakan fiskal, Indonesia juga mengambil kebijakan moneter, dimana untuk menstabilkan perekonomian maka pemerintah mengontrol tingkat suku bunga dan jumlah uang yang beredar. Jika menginginkan agar iklim investasi kondusif atau agar rakyat aktif dalam pinjam meminjam dll, pemerintah menurunkan tingkat suku bunga. Artinya, tingkat suku bunga bisa dinaikturunkan tergantung kebutuhan. Memang perekonomian kita disokong oleh sistem ribawi.

Jika memang menginginkan masyarakat aktif dalam perekonomian, hilangkan saja sistem ribawi. Sehingga tidak perlu menaikturunkan suku bunga. Selain itu, suku bunga juga haram. Tidak bakalan berkah, ekonomi yang dibangun di atas keharaman. Pemerintah bisa menyediakan industri yang akan menyerap tenaga kerja, memberikan pinjaman tanpa bunga dll agar geliat ekonomi terus ada di tengah-tengah masyarakat. Dengan begitu, masyarakat akan memperoleh pendapatan dan ekonomi pun tetap berputar.

Belum lagi masalah mata uang (sistem moneter) yang masih menstandarkan pada mata uang asing (dalam hal ini adalah dolar Amerika sebagai kampiun Kapitalisme), yang membuat rupiah terkoreksi tergantung situasi dan kondisi dunia. Nilai tukar rupiah atas dolar yang berubah-ubah mempengaruhi iklim ekonomi Indonesia. Artinya mata uang Indonesia dalam hegemoni negara Amerika.

Itu salah satu hal kenapa dunia umumnya dan Indonesia khususnya mengalami krisis atau masalah dalam ekonomi secara berkala. Saat normal maupun wabah, ternyata Kapitalisme tak mampu menyelesaikan masalah dengan tuntas. Pengangguraan, kemiskinan serta masalah bawaan lainnya seperti korupsi, kriminalitas, pemutusan hubungan kerja dll masih mewarnai dunia.

Saatnya dunia keluar dari mindset bahwa tidak ada solusi selain mempertahankan Kapitalisme. Dunia harus tahu bahwa ada solusi atas seluruh masalah yang muncul akibat penerapan Kapitalisme. Yaitu Islam.

Dalam Islam, perekonomian tidak dibangun dengan memalak rakyat dengan berbagai macam pungutan/pajak. Pajak hanya akan diambil jika kas negara kosong dan itupun tidak diminta pada semua warga negara namun hanya orang-orang kaya/mampu saja. Pos penerimaan berisi (salah satunya) harta milik umum. Harta milik umum/harta kepemilikan umum berasal dari kekayaan barang tambang yang tidak terbatas, sumber daya alam yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki hanya oleh individu secara perorangan dan fasilitas umum yang jika tidak ada dalam suatu negeri atau suatu komunitas maka akan menimbulkan sengketa dalam mencarinya.
“Kaum Muslim bersekutu (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, padang dan api” (HR. Abu Dawud).

Sedangkan untuk mata uang (sistem moneter) maka dalam Islam dikenal dinar dan dirham yang tidak bisa dihegemoni oleh negara mana pun.

Saatnya out of the box “Kapitalisme” karena ternyata ada yang bisa memberikan solusi tuntas dan menenangkan atas persoalan yang dihadapi dunia yaitu dengan penerapan sistem Islam. Respon cepat dan tepat dengan Islam. Wallahu a’lam[]


Oleh: Siti Maftukhah, SE. 
Lingkar Studi Perempuan dan Generasi

Posting Komentar

0 Komentar