Kapitalisme Membelenggu Garuda Pancasila?


Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyatakan tantangan utama Pancasila saat ini adalah memastikan filsafat ideologi bangsa itu bisa dilaksanakan dalam kehidupan bernegara. Menurutnya, pelaksanaan Pancasila juga menyangkut prinsip politik dan ekonomi.

Hasto mengatakan bahwa kekuatan kapital lebih menguasai dunia politik dan ekonomi hingga dianggap tak sejalan dengan filsafat Pancasila.

Filsafat Pancasila sebaiknya secara bersama dimurnikan dengan gotong royong politik guna menghindari demokrasi yang diwarnai kepentingan kapital alias pemilik modal. Hasto mengatakan, semua pihak saat ini harus bekerja memastikan demokrasi melalui hikmat permusyawaratan.(republika.co.id, 18/6/2020)

Apa yang disampaikan Hasto bukanlah sesuatu yang baru karena jauh-jauh hari sebelumnya sudah pernah di ungkapkan oleh presiden Soekarno, bahkan perubahan pancasila telah terjadi sebelum masa kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Dalam buku Teologi Konstitusi karya Adam Muhshi, setelah rapat BPUPKI, Hatta menyatakan bahwa ada tiga perubahan terkait masalah Islam atas Piagam Jakarta dan hasil kerja BPUPKI yang disepakati PPKI.

Hal pertama yang diubah adalah sila pertama dalam dasar negara (Piagam Jakarta) yang awalnya "ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya" berubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa".  

Perubahan kedua mencakup rumusan ketentuan pasal 6 ayat 1, yang sebelumnya "presiden Indonesia beragama Islam", berubah menjadi "presiden ialah orang Indonesia asli". 

Sementara itu, yang ketiga, menyambung sila pertama, rumusan pasal 29 ayat 1 berubah menjadi "negara berdasar atas Ketuhanan yang Maha Esa". (republika.co.id, 22/6/2020)

Hal tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya Pancasila bisa diubah.

Disampaikan Rocky Gerung saat menjadi narasumber channel YouTube Realita TV pada Rabu (4/12/2019). Rocky Gerung mengatakan bahwa pancasila tidak dapat disebut sebagai ideologi. Beliau mendefenisikan Pancasila sebagai pandangan kesepakatan bersama tentang sesuatu yang abstrak. Ideologi itu mengatur cara orang hidup. Maka konsekuensinya, kalau negara berideologi maka ideologi itulah yang dipergunakan untuk mengatur cara hidup manusia. 

Ideologi menurut Pandangan Islam

Istilah ideologi bisa disepadankan dengan istilah mabda’ dalam bahasa Arab. Mabda’ (ideologi) pada dasarnya adalah keyakinan rasional (aqidah aqliyyah) yang melahirkan aturan-aturan kehidupan. Artinya, mabda’ (ideologi) pada hakikatnya adalah pemikiran mendasar yang bersifat menyeluruh dan mendalam mengenai hakikat kehidupan, yang kemudian melahirkan sistem kehidupan.

Dengan definisi di atas, sebetulnya di dunia ini hanya ada tiga 3 (tiga) yang layak dikategorikan sebagai ideologi (mabda’): (1) Sosialisme-Komunisme; (2) Kapitalisme; (1) Islam. Realitasnya, hanya tiga ideologi inilah yang mampu memberikan jawaban atau solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi manusia. Terlepas dari benar-tidaknya jawaban atau solusi tersebut. Faktanya pula, hanya tiga ideologi ini yang melahirkan sistem kehidupan: sistem ekonomi, sistem politik, sistem sosial, sistem hukum dan sebagainya.

Ideologi bersifat khas dan unik dengan sudut pandang tertentu. Begitu pula negara yang mengemban sebuah ideologi tidak akan pernah netral dari keberpihakan ideologi dan politik. Begitupun setiap negara pengemban ideologi kapitalisme-sekularisme pasti berusaha mengamankan kepentingan nasionalnya dalam menjajakan ideologi.

Bagi negara jajahan, ketidakjelasan ideologi akan memberi ruang lebar infiltrasi pemikiran-pemikiran asing yang lahir dari ideologi negara penjajah. Setiap negara penjajah pasti berusaha mengultur pemikirannya sebelum menginvasi negara target secara politik, ekonomi, bahkan militer. Menanam kaum intelektual, para ahli sebagai agen-agen, serta penguasa boneka sebagai anteknya.

Keterjajahan yang terjadi sampai hari ini membuktikan bahwa betapa kebutuhan Indonesia akan ideologi Islam adalah harga mati bila Indonesia tidak ingin negaranya mati.

Kapitalismelah yang saat ini merajai dunia, maka mereka mempunyai banyak sarana sekaligus metode untuk melestarikan kekuasaannya. Dengan kata lain, ideologi buatan manusia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Sejarah pernah mencatat, bahwa AS membiarkan Gamal Abdul Nasser –Presiden Mesir yang berkuasa tahun 1958–1970- lekat dengan Sosialisme, sementara sebenarnya dia adalah kaki tangan Amerika. AS juga membiarkan pendirian Partai Komunis yang akhirnya mendirikan Republik Rakyat Cina, demi ambisi politiknya menjegal hegemoni USSR yang komunis. Mungkin hal ini cukup aneh bagi masyarakat umum, namun demikianlah strategi politik tingkat tinggi yang dijalankan negara nomor satu seperti AS.

Realitas Komunisme memang mengerikan karena diterapkan secara otoriter. Kekejamannya di Khmer Merah, Xinjiang ataupun Myanmar menjadi alasan untuk tidak menerimanya. Apalagi ideologi atheis-nya.

Rakyat Indonesia juga masih mengenang kejahatan PKI, sehingga ingatannya mudah untuk ‘disetir’ demi memusuhi komunisme.

Tapi masyarakat dunia, termasuk kaum muslimin juga dibutakan oleh kekejaman kapitalisme. Siapa yang menyebabkan kelaparan menghantui benua Afrika? Siapa penyebab Palestina terus dijajah? Siapa penyebab kesenjangan kehidupan sehingga mengizinkan 1% orang kaya menguasai kekayaan bumi milik milyaran manusia lain? Siapa yang berada di balik pembantaian pribumi Afrika, Amerika, Aborigin dan lain-lain?

Umat Islam memang telah tertipu. Mereka enggan berteman dengan komunisme, tapi justru memeluk erat kapitalisme. Mereka tidak mau melepaskan demokrasi, sistem ekonomi ribawi, gaya hidup liberal ataupun prinsip sekuler dalam segala bidang. Juga hipokrisi akan memegang landasan negara, nyatanya malah melakukan tindakan merusak negara dan bangsa.

Rezim muslim di manapun hampir sama dikuasai oleh kapitalisme, sekalipun ada negara yang melabeli diri sebagai sosialis tetapi Itu tidak menjadi masalah bagi AS. Karena yang terpenting ketundukan mereka untuk menjalankan titahnya, melanggengkan hegemoni dan menghalangi penegakan khilafah yang akan mengancam hegemoni mereka.

Inilah nasib Indonesia, negara tanpa ideologi. Menjadi bulan-bulanan negara penjajah, tereksploitasi dan terbodohkan. Indonesia hanya mampu ‘pasrah’. Sekali lagi di mana peran ideologi negara menyelamatkan bangsa?

Indonesia Butuh Ideologi Islam

Islam memandang bahwa manusia, alam semesta dan kehidupan berasal dari—atau diciptakan oleh—Tuhan, yakni Allah SWT. Dialah Pencipta sekaligus Pengatur alam semesta beserta seluruh isinya. Allah SWT berfirman:

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Dialah Allah, Tuhan kalian. Tidak ada Tuhan selain Dia yang menciptakan segala sesuatu. Karena itu sembahlah Dia. Dialah Pemelihara segala sesuatu (TQS al-An’am: 102).

Allah SWT pun berfirman:

إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

Sungguh Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian. Karena itu sembahlah Dia oleh kalian. Inilah jalan yang lurus (TQS Ali Imran: 51).

Islam memandang bahwa sebagai Pencipta dan Pengatur, Allah SWT adalah Mahatahu atas segala sesuatu yang Dia diciptakan dan Dia atur. Islam pun memandang bahwa sebagai ciptaan (makhluk), manusia (meskipun yang paling mulia di antara makhluk-Nya) memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan. Di sisi lain Allah SWT telah memberikan seperangkat aturan bagi manusia untuk mengatur kehidupannya, yakni al-Quran dan as-Sunnah. 

Karena itu masuk akal jika manusia mengatur seluruh aspek kehidupannya baik urusan akhirat maupun urusan dunia; baik urusan ibadah maupun muamalah—dengan berpedoman pada al-Quran dan as-Sunnah yang bersumber dari Penciptanya, yakni Allah Yang Mahatahu. 

Bahkan manusia wajib tunduk pada al-Quran dan as-Sunnah sebagai sumber hukum bagi kehidupan mereka (QS an-Nisa’: 65)

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا 

Artinya: Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Karena berasal dari Sang Mahatahu yaitu Allah SWT. bisa dipastikan hanya ideologi Islam yang dapat menjamin kesejahteraan bagi setiap manusia yang bernaung di bawahnya. Titah ideologi Islam mewajibkan setiap penguasa untuk menjadi raa’in, penanggung jawab seluruh kemaslahatan rakyat. Penguasa menjalankan pengaturan urusan rakyat hanya dengan penerapan syariat secara kafah.

Oleh karena itu jalan satu-satunya untuk lepas dari pembodohan ideologi dan politik. Indonesia sudah saatnya berani mengambil pilihan cemerlang mengadopsi Islam sebagai ideologi negara. Selanjutnya mengadopsi setiap sistem dan peraturan yang terkandung di dalam ideologi Islam.[]

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar