TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kapitalisasi Kesehatan tidak Peduli Hidup atau Mati


Pandemi Covid19 terus menuai cerita dan derita. Bagaimana tidak, seorang ibu hamil bernama Ervina Yana di Makassar,  kehilangan bayinya di dalam kandungan saat akan dilahirkan. Penyebabnya adalah karena tindakan operasi kelahiran yang telat akibat dia harus menjalani proses pemeriksaan Covid-19 (BBCNews, 18/6). Ervina tidak segera melakukan pemeriksaan Covid-19 bukan karena alasan lain, melainkan karena tidak mampu untuk membayar biayanya, padahal dirinya sudah mendatangi Rumah Sakit rujukan Pemerintah dimana seharusnya pemeriksaan bisa dilakukan secara gratis. Setelah sempat ditolak oleh tiga Rumah sakit, akhirnya anak dalam kandungannya sudah tidak bergerak lagi dan dinyatakan meninggal. 

Apa yang dialami Ervina hanya 1 dari sekian banyak kasus tentang masyarakat yang tidak mampu untuk membayar biaya rapid test atau pun swab test. Biaya rapid test sendiri mulai dari Rp200.000 hingga Rp500.000, sementara untuk swab test (alat PCR) antara Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta, belum termasuk biaya-biaya lain. Asosiasi Rumah Sakit Swasta menjelaskan bahwa adanya biaya tes virus corona karena pihak RS harus membeli alat uji dan reagen sendiri, dan membayar tenaga kesehatan yang terlibat dalam uji tersebut. Selain itu, Masa berlaku rapid test hanya tiga hari dan swab test tujuh hari. Setelah itu, hasil tes sudah tidak berlaku dan harus tes ulang tentunya masyarakat harus merogoh kocek lagi.

Padahal di masa pandemi seperti ini, rapid test ataupun swab test telah menjadi kebutuhan pokok setiap anggota masyarakat. Menurut pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, menyebutkan, mahalnya biaya pemeriksaan  saat ini karena terjadi 'komersialisasi' tes virus corona yang dilakukan rumah sakit swasta akibat dari lemahnya peran pemerintah dalam mengatur dan mengawasi uji tes ini (BBCNews, 18/6). 

Sedangkan menurut Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menjelaskan tingginya harga tes Covid-19 dikarenakan pemerintah belum menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET). Dia mengatakan, masyarakat sebagai konsumen perlu kepastian harga. Selain mengatur HET pemerintah juga perlu mengatur tata niaganya (Kompas.com, 21/6).

Standar Kapitalisme

Meski sudah banyak para pakar yang mencoba memberi solusi bagi Pemerintah dalam mengatasi masalah ini, namun faktanya tidak ada satupun yang terealisasi. Malah justru, kian kemari kian menjadi. Pemerintah seolah-olah lepas tangan dari semua dampak yang terjadi karena Covid-19. Lalu tinggallah rakyat yang kian hari kian sekarat. Terhimpit kebutuhan sehari-hari sekaligus perasaan tidak aman karena takut terkena wabah. 

Begitulah jika yang diterapkan di sebuah negri adalah sistem kapitalisme. Dimana dalam sistem ini, negara hanya bertugas sebagai sarana (regulator) bukan penanggung jawab. Yang terjadi adalah negara sebagai sarana bagi para pemilik modal (kapital) untuk meraup untung sebanyak mungkin melalui komersialisasi ini. Sehingga, mustahil jika negara akan bertanggung jawab memberikan fasilitas kesehatan gratis untuk masyarakat selama yang diterapkan adalah kapitalisme. 

Standar Islam

Ketika polemik Covid-19 tidak kunjung reda, bentuk kedzoliman meraja lela, masyarakat makin tidak berdaya, inilah waktu yang tepat untuk mengembalikan standar hidup pada sang Pencipta. Sistem Islam sejak lama telah memberikan contoh bagaimana sistem penanggulangan wabah yang sudah terbukti sangat efektif, baik dalam melindungi stabilitas ekonomi sampai pada melindungi nyawa rakyatnya. Dalam sistem Islam nyawa seorang muslim sangatlah berharga, seperti sabda Rasulullah Saw, "Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak." (HR.Nasai,Turmudzi).

Ya, dalam sistem Islam, nyawa manusia terlebih nyawa seorang Muslim lebih berharga daripada dunia. Sehingga amat sangat tidak mungkin, negara yang menerapkan sistem Islam lebih rela kehilangan nyawa rakyatnya demi harta dunia semata. Untuk itu, sudah saatnya kita kembali kepada sistem Islam, sistem yang berasal dari wahyu Allah, yaitu Khilafah. Karena hanya Khilafah-lah sistem yang bisa memanusiakan manusia, bahkan lebih dari itu. Wallahu a'lam.[]

Oleh: Fildareta F. Auliyah, S.Pd

Posting Komentar

0 Komentar