TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Jangan Kambing Hitam kan Corona


Mulai besok (Jum’at 5 Juni 2020) sholat Jum’at sudah mulai bisa di lakukan. Dan kegiatan beribadah di rumah ibadah lain juga sudah mulai bisa di lakukan dengan tetap mengikuti prinsip dan protokol kesehatan”. Ujar Anies Baswedan dalam Konferensi pers perpanjangan PSBB Transisi, Kamis (Republika.co.id 4/6).

Kebijakan tersebut seolah menjadi angin segar bagi umat Islam di Ibu Kota yang sudah hampir dua bulan lebih tidak bisa melaksanakan sholat Jum’at karena adanya wabah. Memang sejak adanya wabah corona, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menutup masjid-masjid baik untuk sholat jum’at, sholat Idul fitri maupun sholat berjama’ah. Dengan alasan untuk mengurangi penularan wabah.

Sayang kebijakan yang di keluarkan tersebut terkesan lambat, kenapa tidak sejak dulu masjid di buka dengan diiringi protokol kesehatan yang menjamin keamanan? Padahal secara kuantitatif jumlah pasien corona juga belum menunjukkan angka penurunan. Tapi kenapa masjid sudah di buka? Apakah ini murni karena kepedulian terhadap agama atau karena desakan opini publik yang menuding kebijakan pemerintah yang diskriminatif dan anti Islam?  

Wajar jika opini publik yang menggelinding seperti itu. Karena seiring dengan kebijakan penutupan masjid tidak di barengi dengan penutupan secara total mal-mal, pasar, bandara, stasiun, terminal,dll yang tempat-tempat keramaian tersebut jauh lebih berpotensi menjadi pusat penyebaran virus daripada masjid yang jumlah jama’ahnya lebih sedikit.

Selain penutupan masjid, kita juga sedih mendengar kabar bahwa tahun ini jama’ah haji tidak bisa di berangkatkan ke tanah suci karena corona. Lagi lagi corona yang selalu menjadi kambing hitam. Padahal hakikatnya pemerintalah yang menjadi dalang utama penyebaran corona makin meluas hampir keseluruh pelosok negeri . 

Harusnya ketika  sejak awal pemerintah mengambil kebijakan  isolasi dengan luar negeri dan juga isolasi antar daerah dan segera melakukan tes massal sehingga bisa di pisahkan antara yang sakit dengan yang sehat. Pasti yan,g sakit bisa segera di tangani dan tidak menularkan ke yang sehat. Jika ini di lakukan pasti penyebarannya tidak meluas seperti saat ini.

Lagi-lagi ini karena pemerintah masih menjadikan standar untung rugi secara ekonomi dalam mengambil kebijakan dan cenderung masih mengikuti kemauan para pebisnis yang merasa di rugikan  jika harus menerapkan isolasi luar negeri dan daerah, daripada memperhatikan keselamatan nyawa rakyatnya. 

Padahal seandainya pemerintah serius dalam mengendalikan dan mengatasi wabah, tidak hanya nyawa rakyat yang terselamatkan akan tetapi ekonomipun juga terselamatkan. Selain itu syiar-syiar Islam dan pelaksanan rukun Islam semisal Shalat dan haji akan bisa di tunaikan dengan sempurna tanpa halangan apapun.[]


Oleh Irma Setyawati, S.Pd 




Posting Komentar

0 Komentar