+
YUK JOIN di TINTA INTENS 4

Istiqomah Menyeru Kebenaran


Memperjuangkan kebenaran dan keadilan memang tidak mudah apalagi dalam ketaatan kepada Allah swt dan memperjuangkan menegakkan syariahNya ditengah sistem demokrasi-sekuler sekarang. Sistem yang membuat manusia mudah tidak tahan dengan ejekan, tekanan, bulliyan hingga ancaman. 

Kekuasaan, jabatan, ujian dan sanjungan menjadi bahan rebutan meski dengan berbagai jebakan. Maka wajar jika kita melihat para elit politik negeri ini pun plin-plan. Hari ini saling menjatuhkan besoknya sudah memuji muji yang bersangkutan. Hari ini berseberangan esoknya sudah saling bergandengan tangan. Hari ini bermusuhan besok sudah bersahabat. Pejabat-pejabat model "Isuk tempe sore kedelai" (pagi tempe sore kedelai) alias ucapannya tidak bisa dipegang selamanya akan bermunculan hingga berakhirnya dunia. 

Ketika sistem demokrasi sekuler diambil sebagai sistem kehidupan. Jangan pernah mengharapkan keadilan dan kebenaran akan ditegakkan. Sebab yang ada hanyalah kepentingan bukan kemaslahatan.

Sudah menjadi kebiasaan umum tatkala kampanye baik Pemilukada dan atau Pileg. Calon pemimpin berlomba lomba menampilkan sifat dan karakter baik yang biasa kita sebut dengan pencitraan. Apakah itu tampilan natural maupun di- boosting oleh para buzzer nya. Dengan kata lain sifat dan karakternya dipoles sedemikian rupa sehingga terciptakan mempunyai sifat dan karakter yang baik yaitu: peduli, melayani dan prorakyat. 

Adapun karakter dan sifat buruknya tertutup rapat-rapat. Kalaulah ada pihak yang menyampaikan fakta buruk akan karakter dan sifatnya, langsung dibantai dan dibunuh karakternya di sosial media dan media mainstream yang dipunyai. Mereka akan menggoreng balik sehingga manusia-manusia yang berfikir krtitis ini seolah olah sebagai pihak yang jahat dan penyebar hoax. Padahal merekalah diduga pelaku hoax sebenarnya.

Karena masifnya gempuran pihak yang secara jujur menyampaikan fakta yang terjadi, akhirnya mereka menjadi pihak yang tertuduh dan pesakitan. Rakyat menjadi bingung antara yang baik dan yang buruk menjadi samar. Karena banyak hoax yang berseliweran sehingga yang baik kelihatan buruk yang buruk kelihatan baik. Disinilah perang opini sangat diperlukan dalam uapaya menangkal hoax yang telah dibuat oleh manusia-manusia zalim.

Di sisi lain. Saat ini hampir semua pemimpin membentuk tim khusus yang tugasnya untuk memoles penampilan ketika tampil di publik. Tak jarang pemimpin ini didandani hanya memakai kaos dan sandal jepit saat blusukan kepasar-pasar, keliling kota menggunakan sepeda angin hingga rela masuk gorong-gorong demi menunjukkan bahwa mereka baik dan pro rakyat. Tak lupa para juru foto yang bertugas segera mengambil gambar, membuat narasi propaganda baik untuk disebar luas.

Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Fadli Zon mengatakan strategi pemerintah membayar buzzer untuk menangkal citra buruk akibat virus corona tidak tepat. Ia menyebut pemerintah salah mendiagnosis, sehingga menjadi salah resep dalam menangkalnya.

Sebelumnya pemerintah berencana mengucurkan dana untuk media dan influencer sebesar Rp 72 miliar dalam rangka promosi wisata. Hal ini Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto ungkapan setelah mengikuti rapat terbatas antisipasi penyebaran virus corona terhadap perekonomian Indonesia bersama Presiden Joko Widodo atau Jokowi.(tempo.co.id, 26/2/2020)

Tim ini selain menyemburkan propaganda juga menjadi tim yang akan menyerang dan menghabisi pihak-pihak yang memberikan penilaian atau kritik membangun. Mengkritik diartikan tidak setuju dan berseberangan dengan rezim. Kecintaan para pejabat negeri ini kepada dunia sudah tak diragukan lagi. Omong kosong cinta rakyat, cinta negara faktanya yang disejahterakan hanyalah diri dan golongannya saja.

Para elit politik termasuk para tokoh Islam seolah tidak pernah belajar meneladani generasi Salafus Shalih yang tak pernah silau oleh gemerlap dunia harta dan kekuasaan.

Jangankan bermimpi untuk menjadi penguasa atau bernafsu mengejar kekuasaan bahkan ditawari jabatan pun sering tak mereka hiraukan. semua itu mereka lakukan bukan karena kekuasaan itu haram. tetapi semata-mata karena mereka khawatir akan hari pertanggungjawaban. 

Karena tak pernah berambisi atas kekuasaan, tidak aneh jika generasi salafus shalih adalah generasi yang tak pernah plin-plan. Mereka selalu istiqomah apalagi dalam menyatakan kebenaran. Sebabnya mereka memang tak pernah terbebani oleh kekhawatiran akan resiko hilang kesempatan meraih jabatan atau kekuasaan.

Keistiqomahan dalam kebenaran harus senantiasa dijaga dan wajib hukumnya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Quran surat hud ayat 112 


فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ 

Artinya: Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Maka, agar bisa tetap istiqomah setidaknya ada beberapa hal yang harus dilakukan:

Pertama, beriman secara benar dan lurus. Sebab keistiqomahan akan berbanding lurus dengannya. Dan membuang paham dan keyakinan yang menyimpang dari Islam seperti materialisme atau atheisme dan sekulerisme. Hanya mengambil pemikiran tentang syariah, sistem pemerintahan Islam atau khilafah, jihad dan lain lain, harus tetap diamalkan dan diperjuangkan. 

Kedua, menjaga keikhlasan semata-mata karena Allah swt dan selalu berusaha terikat dengan syariah.
Lurus dalam bersikap dan tindakan. Misalnya, segala perbuatan pengemban dakwah tidak boleh dipengaruhi oleh penerimaan ataupun penolakan manusia. Semua perkara harus selalu dihubungkan dengan surga dan neraka, dengan ridho dan murka Allah swt. Berjuang dengan ide atau fikroh dan metode atau thoriqohnya tanpa ada pemisahan seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Ketiga, mengkaji, menghayati dan mengamalkan seluruh isi alquran. Sebab seseorang tidak mungkin berlaku lurus tanpa memahami dan mengamalkan isi alquran.

Keempat, teman dan lingkungan yang shalih. Disinilah pentingnya berjamaah sebab setan lebih mudah memperdaya orang yang sendirian dan jauh dari orang yang berjamaah.

Kelima, mengkaji dan menghayati kisah-kisah orang terdahulu sehingga bisa dijadikan teladan dalam beristiqomah.

keenam, memperbanyak doa kepada Allah swt agar diberi ke istiqomahan sebagaimana doa yang paling sering Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam panjatkan adalah

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu


Dan bagi para pengemban dakwah tentu wajib selalu Istiqomah di jalan perjuangan dakwah. lebih mencintai akhirat ketimbang dunia. Karena ia yakin bahwa akhirat atau surga lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Terkait dunia, Malik bin Dinar ra. bertutur bahwa orang-orang yang pernah bertanya kepada Ali Bin Abi Thalib ra., "Gambarkanlah kepada kami hakikat dunia ini?" Ali ra balik bertanya, "Gambaran yang panjang, lebar atau yang singkat?" Mereka menjawab, "Yang singkat saja." Ali ra. kemudian menjelaskan, " Dunia itu yang halalnya bakal di hisab dan yang haram nya bakal mengundang azab neraka." (Dinukil oleh Ibnu Abi ad-Dunya' dalam kitab Az-Zuhd, I/8).

Jelas tak ada kebaikan sedikitpun pada diri seorang muslim yang sepanjang hidupnya tersibukkan oleh urusan dunia seraya melupakan akhirat. Apalagi  dunia ini di mata Allah Sesungguhnya tidak ada harganya sedikitpun dibandingkan dengan surga-Nya. Dalam hal ini, Sahal bin Said ra. bertutur bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: "Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, andai dunia ini di mata Allah sebanding harganya dengan harga seekor sayap nyamuk(lalat) saja, niscaya tidak seorang kafir pun akan diberi minum barang seteguk pun dari air dunia ini."  (Dinukil oleh Ibnu Abi ad-Dunya' dalam kitab Az Zuhd, 1/2)

Itulah hakikat dunia. Dan para  pengembang dakwah tidak boleh terlena. Hidup hari ini untuk berjuang. Karena perjuangan hari ini adalah demi kehidupan kekal abadi di sana. Semoga bisa Istiqomah aamiin.[]

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar