TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Islam Mencabut Tindakan Diskriminatif dari Akarnya



Sudah satu pekan unjuk rasa menentang rasialisme struktural berlangsung di Amerika Serikat. Unjuk rasa ini dipicu oleh kematian laki-laki kulit hitam bernama George Floyd.  George Floyd adalah seorang pria kulit hitam berusia 46 tahun. Ia tewas karena tindakan oknum polisi Minneapolis yang menahannya. AFP menulis bahwa Floyd ditangkap karena diduga melakukan transaksi memakai uang palsu senilai US$ 20 (Rp 292 ribu) pada 25 Mei 2020 siang.

Toko kelontong Cup Foods melaporkan kecurigaannya kepada polisi akan gerak-gerik Floyd yang kemungkinan tengah mabuk. Penangkapan Floyd hingga tewasnya Floyd direkam video lalu kemudian menjadi viral. Dalam video itu, Sang polisi—Derek Chauvin—menekan  leher Floyd dengan lututnya sementara Floyd dalam keadaan tertelungkup dan diborgol di pinggir jalan. Walaupun Floyd , berkali-kali merintih kesakitan dan mengaku sulit bernafas, Chauvin tidak melepaskan tekanannya di leher sampai ia akhirnya tewas. (www.cnbcindonesia.com/,3/6/2020).

Kematian Floyd memantik aksi unjuk rasa anti rasisme di AS menyebar. Setidaknya ada tiga negara bagian sudah menyatakan status darurat di pekan lalu. Sementara itu, 40 kota juga dikabarkan menerapkan jam malam (CNN internasional). 

Semangat anti rasisme yang bergulir di berbagai wilayah di negara bagian Amerika Serikat disambut ‘hangat’ oleh Pemerintahan Donald Trump dengan menggunakan kekuatan bersenjata. Untuk membungkam aksi ini, Ia mengerahkan sejumlah Polisi yang dilengkapi dengan gas air mata dan peluru karet untuk menghalau para pengunjuk rasa. 

Tidak hanya itu, Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam pengunjuk rasa dengan pengerahan militer untuk membubarkan massa. Setidaknya 17.000 Garda Nasional—unit  militer Pentagon yang termasuk dalam tentara cadangan nasional—sudah diterjunkan di sejumlah titik di negeri itu. 

Sisa-sisa Politik Apartheid tampak masih kental di tubuh pemerintahan Trump. Dalam Politik Apartheid dibentuk opini umum bahwa orang kulit putih lebih mulia daripada yang berkulit berwarna atau berkulit hitam. Terdapat pula segregasi rasial yang menyebabkan diskriminasi politik dan ekonomi yang memisahkan Hitam (atau Bantu), Berwarna (ras campuran), India dan Afrika Selatan Putih dalam politik ini. 

Walaupun secara historis pemisahan ras ini awalnya terjadi di Afrika Selatan setelah Perang Boer dan benar-benar muncul pada awal 1900-an, perilaku pembedaan berdasarkan atas warna kulit tertentu terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di Amerika Serikat. Politik apartheid secara ‘hukum’ berakhir pada tahun 1994 dengan terpilihnya Nelson Mandela. 

Namun fakta dilapangan menunjukkan bahwa tindakan diskriminatif masih kerap terjadi di dunia ini menimpa masyarakat berkulit berwarna juga berkulit hitam. Slogan Hak Asasi Manusia bagai bualan di siang bolong di negara yang mengklaim dirinya sebagai Negara Demokrasi ini. 

Adakah sistem kehidupan yang adil dan tidak diskriminatif ? Tentu saja ada. Ia adalah Sistem Kehidupan Islam. Sejak kemunculannya, Islam telah memanusiakan manusia, tanpa melihat warna kulit, bahasa dan bangsanya. 

Mari kita tengok sosok sahabat Rasulullah, Bilal bin Rabah radiyallaahu anhu. Bilal berasal dari Ethiopia, Afrika. Secara fisik, Bilal berkulit hitam, berambut keriting dan berbadan tegap serta kekar. Namun kulit legamnya tidak mengurangi keistimewaannya di tengah Rasulullaah dan Sahabat-Sahabatnya. Bilal tetap dipandang sebagai sahabat yang mulia, walaupun beliau adalah mantan budak.

Orang-orang memuliakannya. Masyarakat menikmati lantunan ayat-ayat suci Alquran yang kerap dibacakannya. Sahabat-sahabat Rasulullaah senang berinteraksi dengannya. Bilal tidak pernah dipandang sebelah mata sebagai mantan budak. Bahkan lantunan suara Bilal yang lantang namun merdu membuat Rasulullah SAW memercayakan tugas mengumandangkan adzan pertama dalam sejarah Islam kepada Bilal bin Rabah. Lantunan adzannya membuat setiap hati orang yang mendengarnya bergetar. 

Pengakuan terhadap keistimewaan sosok sahabat Rasulullah SAW Bilal bin Rabah di atas merupakan bukti betapa Islam mengangkat derajat seluruh manusia tanpa memandang warna kulitnya:berkulit cerah atau berkulit gelap. Islam menolak rasisme. 

Hal ini terjadi, karena di dalam Islam, kemuliaan di hadapan Allah hanyalah ditentukan oleh keimanan dan ketakwaan seseorang. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, 
{... إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13}
…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (TQS Al Hujurat: 13)

Karenanya, meskipun manusia terdiri dari beragam suku, bangsa, warna kulit dan bahasa yang berbeda-beda, tetaplah keutamaannya di sisi Allah dilihat hanya dengan ketakwaannya. Bukan karena keturunan atau kedudukannya.

Sehubungan dengan hal ini banyak hadis Rasulullah Saw. yang menerangkannya.

Dalam salah satu riwayat lain dituturkan, 
قَالَ مُسْلِمٌ، رَحِمَهُ اللَّهُ: حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ، حَدَّثَنَا كَثِير بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنَا جَعْفَرِ بْنِ بُرْقَانَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ".

Imam Muslim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr An-Naqid, telah menceritakan kepada kami Kasir ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Barqan, dari Yazid ibnul Asam, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia memandang kepada hati dan amal perbuatan kalian.
Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini dari Ahmad ibnu Sinan, dari Kasir ibnu Hisyam dengan sanad yang sama.

Rupa—termasuk warna kulit—bukan menjadi penentu kemuliaan seseorang. Begitupn dengan harta benda. Aqidah Islam yang tertancap kuat dalam hati, dan amal shalih yang dilakukan dengan penuh keikhlasan adalah penentu kedudukan manisa di hadapan Allah. Konsep Islam adalah konsep yang mulia. Karena ia datang dari Pencipta Manusia. 

Sementara perilaku rasis yang diantaranya ditunjukkan oleh oknum Polisi Amerika Serikat memperlihatkan boroknya kehidupan yang diatur semata dengan ketentuan manusia. Karenanya, manusia cerdas yang merindukan kehidupan yang adil dan sempurna tanpa diskriminasi akan berupaya untuk mewujudkan kehidupan Islam. 

Sistem kehidupan Islam yang sempurna ini hanya akan dapat diterapkan dalam bingkai Khilafah, sebagaimana yang pernah diterapkan oleh Rasulullah, Khulafaur Rasyidin hingga Khilafah Utsmaniyyah di Turki. Dengannya, janji Allah tentang kehidupan yang penuh rahmah bagi semesta alam akan terwujud dengan sempurna. Dengannya diskriminasi berdasarkan warna kulit akan dapat tercerabut dari akar-akarnya. Wallaahua’lam bishshawab.[]

Oleh Yane Agustina
(Pengasuh Majelis Ta’lim Sahabat Humaira, Bandung)

Posting Komentar

0 Komentar