TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Impor Sayur, Solusi Ngawur di Negara Subur


  Pepatah mengatakan negara Indonesia, gemah ripah loh jinawi yang artinya negara yang tentram, makmur dan subur tanahnya. Bahkan grup musik Koes Plus yang terkenal mengungkapkan kesuburan tanah Indonesia menjadi syair lagu "tongkat kayu dan batu jadi tanaman".

  Memang benar negara ini subur dan kaya akan hasil pertanian dan perkebunan, bahkan tiap-tiap daerah punya tanaman pertanian atau perkebunan unggulan yang berbeda-beda. Mengingat ketinggian tanah dari permukaan laut, kelembaban udara, curah hujan, tingkat kesuburan tanah dan hal-hal lain yang menjadikan suatu tanaman hanya bisa tumbuh dan berkembang baik di tempat yang sesuai. Justru hal inilah yang menjadikan negara kita kaya akan hasil pertanian dan perkebunan.

  Namun ternyata kekayaan hasil pertanian ini tidak menghentikan kebijakan pemerintah untuk mengimpor buah dan sayur dari Cina, padahal jenis  buah dan sayur yang diimpor juga bisa dihasilkan oleh petani negeri sendiri. 

  Dikutip dari Kompas.com, Badan Pusat Statistik(BPS) mencatat impor sayur-sayuran sepanjang tahun 2019 meningkat dari tahun 2018 sebesar 770 dolar AS atau 113 triliun rupiah (asumsi kurs 14.700 per dolar). Angka ini didominasi oleh sayuran yang perlu diimpor seperti bawang putih(38,62%) dari total nilai impor disusul kentang olahan industri dan cabai kering. Jelas Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian(Kementan) Prihasto Setyanto. 

  Beliau menjelaskan pula walaupun produksi bawang putih dalam negeri mengalami peningkatan dari 49.000 ton menjadi 88.000 ton. Jumlah ini belum mencukupi kebutuhan rakyat yang kebutuhannya sebesar 580.000 ton. Sedangkan untuk kentang industri memang petani dalam negeri belum bisa menghasilkan padahal untuk kentang sayur sudah diekspor. Selain sayur ternyata negeri agraris ini juga mengimpor buah senilai Rp 22,5 T.

  Padahal sering kita mendengar para petani buah dan sayur membuang hasil panen mereka, karena harga jual tidak sesuai dengan biaya produksi. Petani dibiarkan bersaing dengan sayur dan buah impor. Penguasa tidak memperhatikan petani dalam negeri, para petani berjuang sendiri untuk kelangsungan hidup lahan pertaniannya, bahkan tidak sedikit pula yang membiarkan lahan pertanian mereka karena tidak sesuainya harga jual dengan biaya produksi.

  Impor yang terus berlangsung terjadi karena negeri ini berasaskan kapitalisme sekularisme, pembuat kebijakan negeri ini sudah terintegrasi oleh negara pemberi modal yaitu Cina, seperti kita ketahui Cina banyak menggelontorkan pinjaman dana di negeri ini. Dalam sistem kapitalis tak ada makan siang gratis maka Cina diberi kebebasan memasukkan impor apapun ke negeri ini. Bahkan tenaga kerja mereka juga diimpor ke sini. 

   Sehingga karena banyaknya hutang ini negara kita tak lagi punya lagi kedaulatan untuk menentukan kebijakan yang mensejahterakan rakyat, tak ada keberanian untuk mewujudkan ketahanan pangan mandiri. Yang ada negeri ini harus membuat kebijakan yang menguntungkan pemilik modal, termasuk dengan impor buah dan sayur serta beragam hal lain, sesuai arahan pemilik modal.

   Berbeda sekali dengan sistem Islam yang memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, termasuk para petani. Para pemimpin dan jajaran di bawahnya sadar bahwa mereka akan diminta pertanggungjawaban kelak di Yaumil akhir, seperti dijelaskan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA, "Setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan dimintai pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. 

  Dengan berpegang dari hadits di atas maka pemimpin umat Islam menerapkan beberapa langkah untuk mewujudkan ketahanan pangan mandiri, bahkan masih bisa mencukupi kebutuhan rakyat ketika wabah pandemi menyerang dengan memperhatikan kesejahteraan petani. Berikut beberapa langkah yang ditempuh oleh pemimpin kaum Muslim.

   Pertama optimalisasi produksi yaitu mengoptimalkan seluruh potensi lahan pertanian berkelanjutan. Dalam hal ini peran sains dan teknologi mulai dari mencari lahan yang optimal untuk benih tanaman, teknik irigasi, pemupukan, penanganan hama hingga pemanenan dan pengolahan pasca panen sangatlah diperlukan dan diperhatikan oleh pemimpin kaum Muslim.

   Kedua adaptasi gaya hidup ketika menghadapi wabah, dengan tidak makan secara berlebihan karena makanan berlebihan berpotensi menimbulkan banyak penyakit, salah satunya obesitas. Seorang muslim diajarkan untuk makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang.

  Ketiga, manajemen logistik, dimana masalah pangan berikut yang menyertainya seperti irigas, pupuk dan pengendalian hama dilakukan pemerintah. Memperbanyak cadangan saat panen dan mendistribusikan saat ketersediaan berkurang.

  Keempat, Prediksi iklim yakni dengan mengenal kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrim dengan mempelajari curah hujan, kelembaban udara, penguapan air permukaan, serta intensitas sinar matahari.

   Kelima, mitigasi bencana kerawanan pangan yaitu antisipasi terhadap kemungkinan kondisi rawan pangan yang disebabkan oleh perubahan drastis kondisi alam dan lingkungan, seperti pandemi Corona saat ini. Mitigasi ini berikut tuntutan saling berbagi di masyarakat dalam keadaan sulit. 

   Pada masa kejayaannya Islampun memiliki ilmuwan-ilmuwan dalam bidang pertanian. Tentu saja keberadaan mereka tak lepas dari dukungan penguasa Muslim sang Khalifah dengan mendirikan laboratorium pertanian, perpustakaan dan lahan-lahan percobaan. Serta diberikan dukungan dana untuk penelitian. Yang pasti atas karya para ilmuwan diapresiasi dan diberi penghargaan. 

   Mereka diantaranya Abu Zakaria Yahya bin Muhammad Ibnu Al-Awwam, tinggal di Sevilla menulis kitab Al-Filahah yang menjelaskan 600 jenis tanaman dan budidaya 50 jenis buah-buahan, hama dan penyakit serta penanggulangannya, teknik mengolah tanah, karakteristik dan tanaman yang cocok, juga tentang kompos.

    Dengan perhatian seperti ini maka negara yang menerapkan syariat Islam sebagai aturan dasar maka impor tidak dilakukan secara ngawur tanpa aturan. Impor hanya dilakukan ketika benar-benar dalam negeri tidak bisa mencukupi. Itupun dalam jumlah yang tidak merugikan petani dalam negeri.

Oleh: Wijiati Lestari
Owner Taqiyya Hijab Syar'i

Posting Komentar

0 Komentar