TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ilusi Keadilan di Sistem Demokrasi


Kasus Novel Baswedan hingga hari ini masih menjadi perbincangan publik . Pasalnya, jaksa penuntut umum menjatuhkan tuntutan satu tahun penjara bagi dua terdakwa yang merupakan anggota Polri.

Dilansir dari Kompas.com, 17 Juni 2020 . Tuntutan ringan yang dijatuhkan pada Kamis (11/6/2020) pekan lalu itu langsung ramai dibincangkan publik karena dianggap tak memenuhi rasa keadilan bagi Novel.

Sementara itu, jaksa penuntut umum mempunyai alasan tersendiri kenapa hanya menuntut dua terdakwa dengan hukuman 1 tahun penjara. JPU menilai kedua terdakwa yang merupakan anggota Polri itu tidak memenuhi unsur-unsur dakwaan primer soal penganiayaan berat dari Pasal 355 Ayat (1) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Alasannya, cairan yang disiram Rahmat tidak disengaja mengenai mata Novel. Menurut JPU, cairan itu awalnya diarahkan ke badan Novel. "Terdakwa hanya akan memberikan pelajaran kepada saksi Novel Baswedan dengan melakukan penyiraman air keras ke Novel Baswedan, tetapi di luar dugaan ternyata mengenai mata Novel Baswedan yang menyebabkan mata kanan tidak berfungsi dan mata kiri hanya berfungsi 50 persen saja artinya cacat permanen, sehingga unsur dakwaan primer tidak terpenuhi," kata jaksa.

Masih dilansir oleh media yang sama, Pihak Istana baru buka suara menanggapi hal ini pada Selasa (16/6/2020) kemarin. Lewat Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Donny Gahral Adiansyah, Istana menegaskan bahwa Presiden Joko Widodo tidak bisa mengintervensi sidang yang tengah berjalan, termasuk yang berkaitan dengan langkah jaksa penuntut umum menuntut kedua pelaku dengan hukuman satu tahun penjara. 

Donny menyadari banyak masyarakat yang merasa tuntutan bagi dua pelaku tak memenuhi rasa keadilan. Namun, ia menegaskan, presiden selaku pimpinan tertinggi di eksekutif tak bisa mencampuri urusan yudikatif. Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk mengikuti saja proses persidangan yang masih berjalan. Jika memang nantinya vonis hakim juga dirasa tidak memenuhi rasa keadilan, pihak Novel bisa mengajukan banding. "Sekali lagi kita serahkan pada prosedur yang ada. Apabila dirasa tidak puas, atau terlalu ringan, ya ajukan banding. Jadi saya kira gunakan jalur hukum untuk menyelesaikan masalah itu," kata Donny.

Kasus ini menyempurnakan bukti bobroknya sistem hukum yg dipakai oleh negeri ini hari ini. Inilah jika hukum manusia yang digunakan untuk memutuskan perkara, dimana keputusan yang dihasilkan hanya sesuai hawa nafsu dan menguntungkan pihak tertentu. Keadilan hanyalah ilusi yang tak akan mampu terwujud karena sistem yang dipakai masih demokrasi.

Berbeda dengan sistem hukum dalam sistem islam. Didalam islam kejahatan seperti yang dialami oleh Novel Baswedan disebut Jinayat, yaitu pelanggaran terhadap badan yang didalamnya mewajibkan qishash (balasan setimpal) atau diyat (denda). Sebagaimana sabda Rasulullah saw.  Dari Abu Bakar bin Muhammad bin “Amril bin Hazm dan’ bapaknya dari kakeknya, Bahwa Rasulullah saw. telah menulis surat kepada penduduk Yaman. 

Di dalam surat tersebut di tulis, “Barangsiapa terbukti membunuh seorang wanita mukmin, maka ia dikenai qawad (qishash), kecuali dimaafkan oleh wali pihak yang terbunuh. Diyat dalam jiwa 100 ekor unta, Pada hidung yang terpotong dikenakan diyat, pada lidah ada diyat, pada dua bibir ada diyat, pada dua buah pelir dikenakan diyat, pada penis dikenai diyat, pada tulang punggung dikenakan diyat, pada pada dua biji mata ada diyat pada satu kaki ‘/2 diyat, pada ma’mumah ( luka yang sampai selaput batok kepala) 1/3 diyat, pada jaifah (luka yang dalam) 1/3 diyat, pada munaqqilah (luka sampai ke tulang dan mematahkannya) 15 ekor unta, pada setiap jari kaki dan tangan 10 ekor unta, pada gigi 5 ekor unta, pada muwadldlihah (luka yang sampai ke tulang hingga kelihatan) 5 ekor unta, dan seorang Iaki-laki harus dibunuh karena membunuh seorang perempuan, dan bagi pemilik emas, 1000 dinar. (HR an-Nasa’iy).

Dalam hadis lain yang diriwayatkan Imam Malik dalm Muwattha’nya, Rasulullah ﷺ juga bersabda :
وفي العين الواحدة خمسون من الإبل
“Pada satu biji mata, diyatnya 50 ekor unta."

Hadist diatas membuktikan bahwa adilnya hukum dan sangsi dalam islam tidak main-main. Hukum dan sangsi yang tegas akan mencegah perbuatan kriminalitas . Sehingga orang akan berfikir seribu kali untuk melakukan kejahatan .

Sistem hukum dalam Islam diatur sangat sempurna hingga terwujud keadilan sebagaimana terbukti dalam sejarah, ketika Khilafah pertama kali tegak . Dalam islam semua akan mendapat perlakuan yang adil baik muslim maupun non muslim, penguasa ataupun rakyat jelata.

Nabi Saw berkata, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, maka pasti aku potong tangannya. Sabda ini menjadi sebuah teladan bahwa hukum harus tegak seadil-adilnya berdasarkan Al-qur'an dan as sunnah tanpa memandang keturunan dan jabatan.  Allahu a’lam.[]

Oleh : Nurul Afifah

Posting Komentar

0 Komentar