TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Hipokrit Demokrasi, HAM Hanya Basa-basi


Kasus kemanusiaan didunia masih menjadi polemik internasional. Banyak kasus yang menunjukkan betapa besar krisis kemanusiaan ditengah masyarakat dunia, mulai dari genosida, pembantaian, penggusuran, konflik suku, ras bahkan warna kulit. Tampak jelas betapa masyarakat di golongkan menjadi beberapa kasta sehingga siapa yang memiliki kedudukan mereka lah yang terjamin human right nya, sedang rakyat jelata dan kaum muslimin sering sekali menjadi korban intimidasi HAM. Krisis kemanusiaan ini semakin diperparah dengan adanya sekat negara bangsa (Nation state) yang tidak mengizinkan adanya campur tangan negara lain atasurusan suatu negara.

Beberapa tahun lalu kapal muslim Rohingya yang mendarat di Aceh karena genosida yang dilakukan oleh etnis Myanmar hingga kini belum terselesaikan. Di lansir dari Serambinews.Com,  Sebanyak 94 imigran Rohingya, sampai dengan Kamis (25/6/2020) siang atau memasuki hari kedua masih berada di laut Aceh Utara. Awalnya posisi boat berada sekitar satu mil dari tepi pantai Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara. 

Namun karena dibawa ombak, kapal pun sempat semakin mendekat ke tepi pantai, atau jaraknya hanya tinggal puluhan meter lagi dari tepi pantai. Sehingga dua boat yang dibantu speedboat, kapal Rohingya pun ditarik menjauh kembali dari tepi pantai. Saat proses penarikan berlangsung atau sekitar pukul 12.45 WIB, mulai terlihat warga setempat melakukan aksi protes kepada petugas. Mereka menolak kapal tersebut ditarik menjauh kembali dari tepi pantai. Alasan warga atas dasar kemanusiaan. Kapal kondisi rusak dan bocor, sehingga ditakutkan tenggelam. Lalu di dalam kapal banyak anak-anak.

Saat aksi protes berlangsung, warga pun terlihat semakin emosi. Bahkan warga dengan menggunakan speedboot yang ada tulisan Basernas, berupaya menjemput kapal Rohingya kembali ke tepi pantai. Sekitar 20 menit kemudian, kapal imigran Rohingya pun kembali ditarik mendekat kembali ke tepi pantai. Tidak lama kemudian, boat yang sudah dipenuhi imigran Rohingyaya dibawa ke tepi laut Pantai Lancok Aceh Utara. Dari 94 Rohingya tersebut, 15 laki-laki, 49 perempuan, 30 orang anak-anak.

HAM dan nasionalisme sering sekali menjadi aturan yang berbenturan antara satu dengan yang lain. Saat kedua nya berbenturan, lagi-lagi sifat kemanusiaan dikorbankan demi sekat negara bangsa yang dijunjung tinggi oleh sistem saat ini. Muslim Rohingya menjadi salah satu kasus nyata dimana PBB saja sebagai lembaga Dunia tak mampu menyelesaikan konflik kemanusiaan yang dihadapi oleh Muslim Rohingya. 

Tumpang tindih nya aturan dalam sistem Demokrasi hingga tak mampu menjadi solusi bisa kita jabarkan menjadi beberapa poit:

Pertama,  HAM yang dijamin oleh sistem Demokrasi pada masyarakat dunia nyatanya hanya ilusi yang tidak bisa diwujudkan secara merata bagi seluruh manusia. HAM hanya berlaku bagi mereka pemilik kekuatan dan kekuasaan di dunia. Sedang rakyat jelata yang tidak punya kedudukan dan harta tak akan pernah mendapat pembelaan nyata dari Sistem Dunia dan para pemangku nya. 

Kedua, HAM juga terkesan hanya untuk para penguasa dan pengikutnya.Kasus HAM juga bukan sekedar kemanusiaan namun lebih cenderung kasus Akidah. Hal ini dibuktikan, jika pelanggaran HAM terjadi atas para pemimpin Dunia dan pengikutnya maka akan dilakukan berbagai cara untuk membela. Namun, saat pelanggaran HAM menimpa kaum  muslimin, Dunia terkesan abai bahkan mengatakan bahwa itu hanya konflik internal negara mereka sehingga kita tidak perlu ikut campur untuk menyelesaikan nya. 

Ketiga, nasionalisme yang lahir dari sistem Demokrasi nyatanya menjadi pemecahbelah dunia dan abai terhadap HAM yang dijamin oleh sistem ini. Sebab ikatan nasionalisme lebih tinggi kedudukan nya dibanding kemanusiaan, sehingga wajar saat terjadi genosida dunia bungkam seribu bahasa, bahkan PBB sebagai lembaga dunia tak mampu menyelesaikan konflik kemanusiaan yang dihadapi oleh Muslim Rohingya. 

Keempat, nasionalisme yang menjadi ciri khas dari bentuk negara Demokrasi hari ini membuat masyarakat dunia kehilangan sifat kemanusiaan dan lebih menonjolkan sifat materialisme dalam aktifitas nya. Hal ini tampak dari respon penguasa yang menolak tiba nya kapal Muslim Rohingya di perairan Aceh, padahal mereka adalah Musim. Ini menunjukkan betapa gagal nya sistem Demokrasi dalam mengatur kehidupan berbangsa. 

Berbeda jauh dengan Sistem Islam, dimana ikatan yang digunakan dalam kehidupan adalah ikatan Aqidah Islam yang kokoh, sehingga ikatan ini mampu melampaui sekat dan batas wilayah di seluruh dunia. Ikatan inilah yang di gambarkan oleh Rasulullah bahwa Muslim adalah umat yang satu. Dimanapun mereka, warna apapun kulit nya selama mereka ber Aqidah Islam maka mereka adalah saudara yang harus dicintai dan dilindungi dengan sepenuh hati. 

Sekatan yang terjadi hari ini dikarenakan tidak adanya negara Islam yang berasaskan Aqidah Islam dimana seluruh aturan kehidupan lahir dari Syariah Nya. Sehingga kaum muslimin tidak lagi memiliki pelindung dan penjaga. Kasus Rohingya menjadi bukti nyata bahwa kita hidup didalam sistem kufur walaupun masyarakat nya mayoritas Islam. Muslim tak mampu menolong saudaranya sendiri dikarenakan aturan kufur yang membelunggu mereka. 

Dalam sistem pemerintahan Islam, berpandangan bahwa 1 nyawa manusia sangat berharga bahkan runtuhnya dunia dan  seisinya lebih baik dari pada hilang nya nyawa. Bukan hanya nyawa muslim namun juga non muslim bahkan nyawa binatang pun dijaga didalam sistem Islam. Haram hukumnya membunuh manusia atau bahkan binatang yang haram dibunuh secara bathil. Sehingga Islam akan mampu menjaga nyawa, harta, kehormatan, keamanan, dan kedamaian. 

Hal ini membuktikan bahwa sistem Demokrasi bukanlah solusi bagi kemanusiaan dan perdamaian. Aturan tumpang tindih yang dilahirkan oleh sistem Demokrasi hanya akan memperburuk masalah dan melahirkan masalah baru. Hanya sistem Islam yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan jiwa yang mampu memberikan solusi tuntas dalam seluruh permasalahan. 

Hal ini juga yang mendasari bahwa kebutuhan mendesak masyarakat dunia terhadap kepemimpinan Islam yang disebut dengan Khilafah adalah sebuah keniscayaan dan tidak dapat ditunda. Hanya Sistem Islam yang mampu memberikan solusi tuntas sebagaimana  pernah terjadi 13 abad yang lalu dimana masyarakat Islam  hidup berdampingan dengan non muslim dalam keadaan yang aman dan sejahtera. 

Seluruh manusia diperlakukan sama tanpa membedakan muslim dan non muslim sehingga tidak akan terjadi nya penindasan, genosida, pembunuhan, pembantaian antara mereka. Keteraturan dan keadilan sistem Islam inilah yang melahirkan kedamaian ditengah masyarakat meskipun cakupan wilayah nya sangatlah luas. Wallahu'alam bissawab.[]

Oleh: Rajni Fadillah, S. Pd 
Lingkar Studi perempuan dan peradaban Aceh

Posting Komentar

0 Komentar