TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Hanya Khilafah yang Mampu Mencerdaskan Anak Bangsa



Febby Lissa Ayu Aryanti (17), gadis jago gambar asal Kampung Cirendeu RT 15 RW 04, Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi tak bisa melanjutkan sekolah. Pasalnya orang tua Febby tidak mampu membayar biaya sekolah karena  jeratan hutang riba ditambah kondisi nenek Febby yang sedang sakit stroke.( detiknews.com, 7/5/2020)

Selain Febby pada tahun 2019 publik juga dikejutkan dengan berita tentang Slamet Daryanto (15 th) warga RT 1 RW 4, Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang terpaksa putus sekolah. Hari-harinya dia habiskan untuk berjualan kue gandos di tepi jalan raya Nitisemito, Kudus.(detiknews.com, 8/1/2019)

Febby dan Slamet adalah contoh kecil dari jutaan anak  Indonesia yang terpaksa putus sekolah. Menurut berita tempo.co.id 23 juli 2019 dari data yang dimiliki Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), jumlah anak usia 7-12 tahun di Indonesia yang tidak bersekolah berada di angka 1.228.792 anak. Untuk karegori usia 13-15 tahun di 34 provinsi, jumlahnya 936.674 anak. Sementara usia 16-18 tahun, ada 2,420,866 anak yang tidak bersekolah. Sehingga secara keseluruhan, jumlah anak Indonesia yang tidak bersekolah mencapai 4.586.332, Miris bukan?

Begitu susahnya hidup di dalam sistem kapitalis. Jika rakyat ingin pintar harus mencari-cari sendiri. Kalau tidak punya uang, tidak usah sekolah tinggi-tinggi masuk saja pendidikan vokasi. Tidak perlu sekolah SMA, paling setelah ini tidak bisa kuliah. Sekolah saja di SMK masuk di vokasi. Kalau sudah lulus segera cari kerja.

Apalagi pemerintah hari ini cenderung semakin fokus pada proyek-proyek pengembangan SDM yang siap kerja, siap berusaha, yang link and match antara pendidikan dan industri. Seolah-olah pendidikan hanya menjadi pabrik yang mencetak buruh atau pekerja pabrik. Sehingga dibuatlah sistem yang semata-mata demi memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja yang murah meriah.

Ditambah penguasaan sumber daya alam oleh para kapital atau para pemodal besar. Mereka  yang berkedok investor juga menjadi biang kerok yang menyebabkan golongannya semakin kaya, si miskin semakin miskin dan tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas. Rakyat sudah miskin di tambah negara tidak mengurusi rakyatnya. Lengkap sudah penderitaan rakyat.

Solusi Islam Mengatasi Masalah Pendidikan

Negara dalam sistem Islam benar-benar menyadari bahwa pendidikan adalah
sebuah investasi masa depan. Negara wajib mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Bukan hanya persoalan yang berkaitan dengan kurikulum, akreditasi sekolah/PT, metode pengajaran, dan bahan-bahan ajarnya, tetapi juga mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah dan murah.

Imam adalah Perisai, Khilafah adalah Junnah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ، وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Pemimpin memiliki tanggung jawab kepada rakyatnya agar rakyat bisa makan enak, makan cukup, rakyat bisa mempunyai rumah yang layak, semua bisa sekolah, mendapat jaminan kesehatan dan seterusnya. Bahasa lainnya adalah mensejahterakan rakyatnya.

Sebagai perisai rakyat, negara wajib melindungi rakyat dari segala macam bahaya. Menyelenggarakan pendidikan yang murah dan berkualitas. 

Dalam Islam, negara memiliki fasilitas pendidikan termasuk gurunya yang berkualitas, kapasitas bagus serta fasilitas yang dicukupi. Kurikulum yang diterapkan sesuai dengan aqidah Islam.

Tentu saja untuk menyediakan semua itu memerlukan biaya yang cukup besar. Ditambah lagi negara harus menyediakan laboratorium dan riset jika ingin pendidikannya berkualitas menghasilkan ilmuwan yang berguna dan dibutuhkan oleh umat.

Bayangkan jika satu tambang saja semisal Freeport dapat dikelola Indonesia dimana menurut kompas.com tanggal 22 Desember 2018 bahwa Kekayaan tambang PTFI (PT Freeport Indonesia)terdiri dari emas, tembaga dan perak yang sedikitnya bernilai 150 miliar dollar AS atau lebih dari Rp 2.000 triliun. Hampir sama dengan  anggaran APBN Indonesia tahun 2020 sebesar Rp. 2.233,2 T. Hanya dari 1 sumber daya alam di papua itu saja sudah bisa membiayai hampir semua kebutuhan negara. Belum dari sumber daya alam lainnya yang bermacam-macam mulai dari batubara, nikel, aspal, gas petroleum, kelapa sawit, karet, rempah-rempah dan lain-lain. 

Tidak perlu capek-capek memeras rakyat dengan berbagai kewajiban pajak. Cukup pemasukan dari sumber daya alam saja sudah melimpah ruah. Karena salah pengelolaan maka rakyat tidak bisa menikmatinya.

Siapa yang menikmatinya? mereka yang notabene para penjajah yaitu investor. Investor bukan hanya sekadar menanamkan modal tapi sebenarnya mereka adalah imperialisme atau penjajahan gaya baru. Mereka akan menghisap seluruh kekayaan alam di Indonesia dengan investasinya. Rakyat tentu tidak mendapat apa-apa kecuali tagihan listrik yang terus membengkak serta iuran pajak yang terus merangkak.

Mengenai solusi Islam, yakni negara harus mengurusi rakyat. Jika dikembalikan kepada perindividu, tidak akan kuat. Dampaknya berjuta-juta anak negeri terpaksa putus sekolah.

Maka, wajib mengelola sumber daya alam dengan tepat yaitu sesuai syariat islam. Islam menetapkan bahwa sumber daya alam yang ada bukan menjadi milik negara. Sehingga negara tidak boleh memprivatisasi, apalagi memberikan konsesia kepada negara lain atau swasta. Kemudian memberikan hasil pengelolaannya kepada masyarakat umum. Apakah dalam bentuk pembiayaan kesehatan, pembiayaan pendidikan dan lain-lain yang menjadi hajat hidup masyarakat luas.

Satu Indonesia saja kekayaan alamnya berlimpah apalagi seluruh negara muslim disatukan dalam satu naungan di bawah daulah khilafah islamiyah.

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Editor SM

Posting Komentar

0 Komentar