TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Gaya Politik Emak-Emak Asyik


Politik jangan  diartikan  hanya sekedar jalan menuju kekuasaan. Jika demikian, maka kekuasaan akan dijadikan sebagai tujuan akhir dari aktifitas  politik. Sehingga kekuasaan seringkali  tidak digunakan untuk mewujudkan kemaslahatan rakyat.  Tapi hanya sekedar memenuhi naluri  berkuasa.  Ujung ujungnya kekuasaan hanya dijadikan untuk memperoleh kepentingan diri sendiri dan kelompok semata.

Dengan definisi politik sebatas kekuasaan membuat  emak  emak dianggap memiliki peran politik hanya jika ia sedang menuju kekuasaan atau sedang memegang jabatan kekuasaan tertentu.   Misalnya menjadi pengurus partai politik atau menjadi anggota dewan perwakilan rakyat atau duduk di jabatan eksekutif (pemerintahan).  Di luar itu dianggap bukan peran politik.  Pandangan seperti ini harus diluruskan.

Rasulullah SAW bersabda :
"Imam (Khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya" (HR Bukhari).
Politik bukan hanya aktifitas para penguasa saja.  Semua aktifitas dalam rangka menjaga agar penguasa menunaikan tugasnya dengan benar adalah aktifitas politik.  Hal ini dapat dilakukan oleh individu  rakyat  dan partai politik. 

Begitu pun mendidik rakyat agar mereka mengerti kemaslahatannya dan menasihati penguasa  juga aktifitas politik.  Pun begitu  membina kader-kader yang sanggup diserahi urusan rakyat dalam posisi kekuasaan, semuanya adalah aktifitas politik.  

Keterlibatan dalam politik bukan hanya pilihan namun sebuah kewajiban.  Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa di pagi hari dan perhatiannya kepada selain Allah, maka Alalh SWT berlepas diri dari orang itu.  Dan barang siapa yang pada pagi hari tidak memperhatikan urusan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka “ (HR Bukhori).

Peran Strategis  ibu Dalam Sistem Politik.
Pemberdayaan politik emak emak tak boleh terlepas dari pemberdayaan  politik anggota masyarakat keseluruhan.  Visi yang dipakai harus sama menuju pembentukan sistem politik yang tangguh demi meraih keridhoan Allah SWT.  Karena itu pemberdayaan politik emak-emak adalah upaya agar para emak mengoptimalkan fungsi dan perannya dalam percaturan politik sesuai bidang yang digelutinya.  

Peran emak emak sangat strategis  dalam memunculkan sistem politik yang tangguh. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa   cara :

Pertama,  membina  anak-anaknya menjadi Sumber Daya Manusia (SDM)  yang tangguh.  Peran ini  tak dapat digantikan oleh sekolah atau partai politik sekalipun. Partai politik melakukan pembinaan hanya pada individu dewasa.     Sedangkan pembinaan ibu sudah dimulai sejak anak berada dalam kandungan.  

Dalam asuhan ibu, anak dibina untuk menjadi pemimpin yang adil, bertanggung jawab, peduli, jujur dan sifat sifat penting lainnya yang dibutuhkan menjadi pemimpin politik.  

Dalam asuhan ibu, anak mengenal kepada siapa ia harus tunduk dan patuh.   Allah adalah Zat satu satunya  yang berhak ditakuti dan mengatur manusia.  Allah pula Zat yang berhak membuat hukum, sementara penguasa hanyalah menjalankannya.  
 
Begitu pula, ibu mendidik anak-anaknya agar menjadi rakyat yang berani mengkritik  dan menasihati penguasa manakala menyimpang dari ketentuan Allah SWT.   Bukankah SDM yang seperti ini yang membawa politik pada kemaslahatan?

Memang,  kader-kader politik didikan emak-emak belum bisa dikatakan siap pakai.  Namun hasil didikan ini bisa dilanjutkan  di sekolah dan  partai politik  agar menjadi politisi yang mumpuni.
Kedua, bergabung dengan partai politik yang sahih/benar.

Di dalam partai politik, para emak  dibina dengan pemahaman tsaqofah  Islam.  Di partai politik ini pun emak-emak akan ikut serta berkonstribusi dalam dakwah amar makruf ke tengah tengah masyarakat.  Selain itu juga aktifitas politik bersama sama dilakukan dalam parpol untuk mengoreksi penguasa agar berjalan sesuai syariat Allah SWT.

Di dalam parpol,  para emak terdidik untuk menjadi ibu yang ideal.  Mereka sukarela mengikuti pembinaan rutin yang berkesinambungan.  Hal ini akan berdampak pada semakin banyak para emak yang terdidik.  Dengan izin Allah SWT, perjuangan umat islam dan para emak ini akan menghasilkan kader politik islam yang jumlahnya cukup menuju perubahan.  Perubahan ini dari kehidupan sekuler menuju kehidupan islam yang menerapkan seluruh hukum-hukum islam dalam semua aspek kehidupan.  

Aktifitas politik telah dicontohkan oleh para shahabiyah di masa kepemimpinan islam.  Khaulah Binti Malik bin Tsa’labah adalah wanita yang fasih perkataannya dan berani.  Khaulah mengkritik khalifah Umar Bin Khattab saat beliau menjadi kepala negara.  Pada masa itu, Umar melihat bahwa mahar pernikahan yang diminta pihak wanita kepada laki-laki sudah teramat tinggi.  

Beliau pun mengumpulkan kaum wanita dan menetapkan bahwa nilai tertinggi mahar sebesar 400 dinar (emas)  demi kemashlahatan masyarakat.  Khaulah pun mewakili sebagian kaum perempuan kala itu  menolak kebijakan tersebut.  Khaulah menyampaikan hujjah QS An Nisa ayat 20,  yang berbunyi :

“…sedang kamu telah memberikan kepada wanita diantara mereka, harta yang banyak (tanpa ada batasannya).  Maka janganlah kamu mengambil kembali darinya meskipun sedikit “ 

Seketika itu, mendengar hujjah wanita tersebut, Umar pun mengakui kekhilafannya.  Umar pun  segera membatalkan kebijakannya seraya berkata “benarlah wanita itu dan salahlah Umar”.
Demikianlah,  pemberdayaan politik perempuan tak harus ditempuh dengan menduduki posisi tertentu dalam kekuasaan.  Pemberdayaan politik bisa dilakukan oleh siapa pun dan kedudukan apa pun, termasuk emak-emak sembari mengoptimalkan perannya di sektor domestik.  Wallahu a’lam bish shawab.

Oleh : Desi Yunise, S.TP
(Institut Kajian Politik dan Perempuan)

Posting Komentar

0 Komentar