TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Gamis sebagai Seragam Sekolah, Adakah yang Salah?


Beberapa waktu lalu, aktivis perempuan dan Hak Asasi Manusia (HAM) Gayatri Wedotami melayangkan surat terbuka kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim terkait adanya kebijakan sekolah mewajibkan siswi memakai seragam gamis.

Surat tersebut ia tujukan pada mendikbud supaya pihaknya meninjau ulang kebijakan sekolah yang mewajibkan para siswi untuk memakai busana gamis. Lebih lanjut, perempuan yang memiliki nama lain Syekhah Hefzibah itu menjelaskan perkara pemaksaan penggunaan busana gamis pada siswi sekolah. Ia menilai bahwa hal tersebut telah mencederai toleransi antar-umat beragama.(suara.com 24/6/2020)

Dalam surat tersebut Gayatri menyatakan mewakili sebagian aspirasi orangtua siswi yang keberatan atas model seragam gamis yang ditentukan oleh pihak sekolah. 

Publik mengenal sosok Gayatri sebagai feminis. Sejak tahun 2018 ia aktif mengampanyekan anti jilbabisasi dan anti niqabisasi, yaitu penolakan kepada pemaksaan kewajiban berkerudung maupun bercadar di lingkungan formal maupun informal. Pada 11 Februari 2020, ia mendirikan laman facebook Hijrah Indonesia dan merekrut sejumlah orang, sebagai salah satu upayanya untuk memulihkan kesetaraan dan keadilan dalam berkeyakinan, dalam hal gender dan kebhinekaan, termasuk kampanye anti jilbabisasi dan anti niqabisasi. (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gayatri_Wedotamip)

Fenomena hijrah dan kesadaran umat Islam untuk kembali mengkaji Islam memang sangat luar biasa. Di Indonesia sendiri kebangkitan dan kecintaan umat Islam kepada ajaran Islam semakin tinggi pasca peristiwa 212. Banyak kajian-kajian di selenggarakan di berbagai tempat. Mulai dari masjid, hotel hingga perkantoran. Umat Islam mulai menyadari pentingnya mengkaji Islam secara kaffah. Bahkan tuntutan untuk menerapkan Islam dalam bingkai Syariah dan khilafah menggaung di dunia nyata dan Maya.

Tidak terkecuali pemakaian hijab juga mulai bertambah di kalangan wanita. Banyak perempuan yang berhijrah. Mereka mengkaji Islam dan menyadari kewajiban berjilbab dan berkerudung. Hal ini semata-mata tumbuh dari suatu keyakinan bahwa berhijab adalah perintah Allah SWT. Membairkan aurot terbuka adalah dosa. Allah SWT berfirman dalam Quran surat Al Ahzab ayat 59:

Arab: يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Artinya: Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu'min: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.' Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Selain itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda mengenai batasan aurat wanita. Berdasarkan hadist Abu Daud, dari 'Aisyah radhiallahu'anha, beliau berkata,

Arab: أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Artinya: Asma' binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, 'Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini', beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya.

Semangat untuk berhijab membuat muslimah semakin percaya diri beraktualisasi. Sehingga komunitas hijab semakin banyak kita temui. Wanita berhijab mudah kita jumpai di tempat-tempat publik. Seperti perkantoran, mal, rumah sakit dan di jalan-jalan. Tidak terkecuali di sekolah-sekolah. 

Selain generasi muda, banyak juga orangtua yang berhijrah. Mereka mulai membiasakan anak-anak mereka tumbuh dengan ajaran Islam. Sehingga sejak masih kecil, anak-anak tersebut di biasakan untuk memakai gamis dan kerudung. Termasuk ketika bersekolah. Hal ini sebagai upaya orangtua mengajarkan anak-anak untuk taat pada ajaran Islam. Bukan suatu paksaan. 

Sebagian orangtua juga memilihkan sekolah yang kurikulumnya terintergrasi dengan Ajaran dan nilai-nilai Islam. Bagi mereka lingkungan sekolah juga berkontribusi besar terhadap pembentukan karakter anak nantinya. Sehingga mereka sangat memperhatikan detail materi pengajaran, termasuk juga seragam.

Sekolah yang memiliki kurikulum yang terintegrasi dengan Islam saat ini adalah suatu kebutuhan. Dan salah satu ciri-cirinya bisa di lihat dari ketentuan model seragam. Seragam yang menutup aurot bagi siswa-siswinya, termasuk semua civitas akademik di dalamnya. Terutama seragam khas muslimah.

Permendikbud 45/2014 tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah pada Bab 1 ketentuan Umum Pasal no 1 ayat ke empat menyatakan bahwa pakaian seragam khas muslimah adalah pakaian seragam yang dikenakan oleh peserta didik muslimah karena keyakinan pribadinya sesuai dengan jenis, model, dan warna yang telah ditentukan dalam kegiatan proses belajar mengajar untuk semua jenis pakaian seragam sekolah. (https://www.jogloabang.com/pendidikan/permendikbud-45-2014-pakaian-seragam-sekolah-peserta-didik-jenjang-pendidikan-dasar?amp)

Jadi, pemakaian seragam dengan model gamis bagi muslimah masih mencakup ketentuan Permendikbud 45/2014. Selama warna serta ketentuan umumnya sama dengan seragam nasional. Lalu apa yang menjadi permasalahan. 

Jika ada wali maurid yang berkeberatan tentu hal tersebut sangat tidak relefan. Mengingat sebelum menyekolahkan anak terlebih dahulu orangtua harus memahami visi dan misi sekolah. Apakah sekolah umum ataukah sekolah Islam. Saat ini banyak pilihan sekolah bagi anak. Wali murid bisa memilihkan sekolah yang sesuai dengan keinginannya.

Banyak hal yang lebih urgen di perbaiki dari dunia pendidikan kita. Mengapa harus mempersoalkan gamis sebagai seragam. Gamis sebagai seragam khas muslimah adalah implementasi keyakinan beragama. Wallahu a'lam bi ash-showab.

Oleh: Najah Ummu Salamah

Posting Komentar

0 Komentar