TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Fiqih Islam Klasik Produk Perang Salib? Tidak Tepat!


Setiap Sabtu bakda Shubuh, saya rutin ngisi kajian Kitab Fathul Qarib (Syarah Matan Abi Syuja). Tak terasa hari ini (13/6) sudah masuk Bab Jinayat. 

Pada pembukaan saya sampaikan maqalah dari Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani rahimahullahu ta'ala dalam Syariatullah al-Khalidah (hlm.7), 

فلو أنّ المسلمين ( اليوم ) عملوا بأحكام الفقه والدين كما كان آباؤهم لكانوا أرقى الأمم وأسعد الناس!

"Sekiranya kaum muslimin hari ini menerapkan hukum-hukum fikih dan agama (Islam) sebagaimana para pendahulu mereka, niscaya mereka akan menjadi umat yang terdepan dan paling bahagia."

Fikih itu sudah ada sejak zaman shahabat radhiyallahu 'anhum, dan kodifikasinya dilakukan pada zaman setelahnya. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullahu ta'ala mengatakan,

فَمِمَّا حَدَثَ تَدْوِينُ الْحَدِيثِ ثُمَّ تَفْسِيرُ الْقُرْآنِ ثُمَّ تَدْوِينُ الْمَسَائِلِ الْفِقْهِيَّةِ الْمُوَلَّدَةِ عَنِ الرَّأْيِ الْمَحْضِ ثُمَّ تَدْوِينُ مَا يَتَعَلَّقُ بِأَعْمَالِ الْقُلُوبِ فَأَمَّا الْأَوَّلُ فَأَنْكَرَهُ عُمَرُ وَأَبُو مُوسَى وَطَائِفَةٌ وَرَخَّصَ فِيهِ الْأَكْثَرُونَ وَأَمَّا الثَّانِي فَأَنْكَرَهُ جَمَاعَةٌ مِنَ التَّابِعِينَ كَالشَّعْبِيِّ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَنْكَرَهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَطَائِفَةٌ يَسِيرَةٌ وَكَذَا اشْتَدَّ إِنْكَارُ أَحْمَدَ لِلَّذِي بَعْدَهُ

"Termasuk di antara perkara-perkara yang baru muncul adalah: 1) Kodifikasi (pembukuan) hadits; 2) Kodifikasi tafsir al Quran; 3) Kodifikasi masalah-masalah fiqih yang lahir dari pemikiran semata; 4) Kodifikasi perkara-perkara yang berkaitan dengan hati (tazkiyatun nafs). 

Poin no. 1 dulu ditolak oleh Umar (bin Khathab), Abu Musa dan sejumlah shahabat lainnya. Tapi sebagian besar membolehkan. Poin no. 2 dulu ditolak oleh sejumlah ulama Tabi'in seperti asy Sya'bi. Poin no. 3 dulu ditolak oleh Imam Ahmad dan sejumlah kecil ulama lainnya. Begitu juga poin-poin setelahnya sangat ditolak oleh Imam Ahmad." (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 13/253). 

Semua perkara di atas muncul setelah zaman Nabi ﷺ. Bukan hanya baik, justru perkara-perkara di atas sangat diperlukan oleh umat Islam yang hidup belakangan.

Fikih berkembangan di era tabi'in, lalu tabi' tabi'in, lalu generasi setelahnya. Bahkan dikodifikasi dalam kitab-kitab karya para imam madzhab. Sanad ilmu fikih empat Imam Madzhab adalah dari tabi'in dan dari shababat radhiyallahu 'anhum. 

Sanad fikih Islam dari Madinah bersumber dari Zaid bin Tsabit dan Ibnu Umar, lalu kepada Nafi, Salim, al-Zuhri, Malik, al-Syafi'i dan Ahmad. 

Sanad fikih Islam dari Makkah bersumber dari Ibnu Abbas, lalu kepada Amr bin Dinar, Sufyan bin Uyainah, al-Syafi'i dan Ahmad. 

Sanad fikih Islam dari Irak bersumber dari Ibnu Mas'ud, lalu kepada Alqamah, Ibrahim, Hamad, Abu Hanifah, Muhammad bin al-Hasan, Malik dan al-Syafi'i. 

Jadi sebuah kekeliruan jika dikatakan kalau fikih klasik adalah produk dari perang salib. Sekali-kali itu tidak benar. Fikih adalah ilmu tentang hukum syariat yang bersifat praktis yang digali dari dalil-dalilnya yang terperinci. Ia sudah berkembang dan dikodifikasi (ditadwin) jauh sebelum Perang Salib. 

Hal tersebut termasuk konsep terkait pemerintahan/imamah, jihad dan futuhat, konsep al-dar (darul Islam/hijrah, darul kufr/harb), ghanimah, fai', jizyah, kharaj, dll. Janganlah kebencian pada sebagian umat Islam yang masih gigih menyuarakan penerapan syariah dan imamah membuat tidak adil dan melakukan pembodohan kepada umat. In sya Allah umat akan makin penasaran dengan kekayakaan khazanah fikihnya yang luar biasa.[]

Oleh Ustadz Yuana Ryan Tresna
Mudir Ma'had Khadimus Sunnah Bandung

Sumber artikel: yuanaryantresna.id

Posting Komentar

0 Komentar