TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Episode Terakhir Drama Kasus Novel Baswedan



Drama perjalanan kasus Novel Baswedan akhirnya telah sampai pada episode yang menentukan. Dua terdakwa penyiram air keras terhadap penyidik Novel Baswedan, Rahmat Kadir Mahulette dan Rony Bugis dituntut hukuman satu tahun penjara di persidangan. JPU menilai keduanya terbukti melakukan penganiayaan terencana yang mengakibatkan luka-luka berat. Atas perbuatannya itu, Rahmat dan Rony dinilai telah melanggar Pasal 353 Ayat (2) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP tentang penganiayaan berat yang direncanakan terlebih dahulu.


Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengkritik keras proses penegakan hukum di Indonesia bila berkaca pada tuntutan ringan bagi dua terdakwa kasus penyiraman air keras terhadap dirinya. Novel mengatakan, tuntutan ringan itu menunjukkan buruknya penegakan hukum di Indonesia karena norma keadilan diabaikan selama jalannya persidangan.


Tak hanya Novel, banyak pihak yang menilai tuntutan JPU tersebut terlalu ringan, dan membandingkan kasus tersebut dengan kasus penyiraman air keras di sejumlah daerah lain yang hukumannya lebih berat. Ada pula yang menilai hal ini menunjukkan separuh hati pemerintah, khususnya kepolisian dan kejaksaan dan akan berpotensi menjadi keadilan hukum yang sesat atau miscarriage of justice. Terlebih, menurutnya kasus Novel ini merupakan satu simbol dari masalah struktural korupsi di Indonesia. (Kompas.com, 12/06/2020)


Sungguh miris dan tragis. Kenyataan pahit harus diterima oleh Novel Baswedan yang karena kasusnya harus menderita luka abadi baik fisik maupun psikis efek politisasi kasus oleh oknum aparat hukum. Endingnya pun seolah sudah disetting agar drama ini segera berakhir. Kejadian ini menambah deret panjang kasus misterius yang terjadi di negeri yang katanya negara hukum ini. Ketika rakyat menjerit menuntut keadilan dari sang penguasa, ternyata sang penguasa pun tak berdaya efek tekanan dari para pengusaha. Itulah potret buram penerapan hukum dalam naungan kapitalisme, dimana untuk setiap ketokan palu akan ada kepentingan yang bermain di situ. Akhirnya rakyat pun bingung kemana mengadu.


Pemerintah sadar atau tidak sadar seperti menggali liang lahatnya sendiri. Gelombang mosi ketidakpercayaan rakyat semakin hari semakin tak terbendungkan karena penegak hukum itu sendiri penyebabnya. Betapa banyak kasus baik pidana maupun tipikor yang melibatkan petinggi-petinggi negeri termasuk aparat penegak hukum divonis hukuman ringan bahkan diloloskan begitu saja, sedangkan yang melibatkan masyarakat kecil begitu dipersulitnya. Tak heran jika banyak pihak menilai tebang pilih berlaku terhadap hukum di Indonesia, tergantung kepada siapa yang memiliki kepentingan.


Berbeda halnya dengan hukum Islam yang benar-benar adil dan pernah diterapkan berabad lamanya dalam bingkai Khilafah Islam. Ahli sejarah Barat pun tak memungkiri betapa tingginya peradaban Islam di kala itu. Hal ini karena hukum Islam mengembalikan segala perkara kepada apa yang diatur oleh Allah (sebagai Pencipta manusia) dan Rasul-Nya. 
“Tidaklah pantas bagi seorang lelaki yang beriman, demikian pula perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Rasulullah saw bersabda:
"Inilah kebiasaan buruk yang telah menghancurkan umat-umat terdahulu. Mereka binasa (diazab oleh Allah) karena mereka tidak berani menghukum orang-orang terpandang dari kalangan mereka. Sebaliknya, mereka menghukum berat orang-orang kecil. Kalau Fatimah, putriku, mencuri, pastilah aku potong tangannya." (HR Bukhari dan Muslim dari Aisyah).
Di tengah kejenuhan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah dalam hal ini penegak hukum, tak salah jika tawaran solusi hukum Islam menjadi alternatif pilihan. Dan Allah swt Sebaik-baik Penolong. Wallaahu a'lam.

Dari: Lely Herawati  
Praktisi Pendidikan

Posting Komentar

0 Komentar