Dimanakah Keadilan bagi Seluruh Rakyat Indonesia?



Lagi-lagi Indonesia dirundung oleh sebuah ketidakadilan. Seperti terbaru yang datang dari kasus penganiayaan terhadap Novel Baswedan. Kabarnya, setelah 2 tahun pelaku penyiraman diburu, ternyata jaksa hanya menuntut penyerangnya dengan hukuman begitu yang begitu ringan yakni hukuman pidana 1 tahun penjara.

"Bahwa dalam fakta persidangan, terdakwa tidak pernah menginginkan melakukan penganiayaan berat. Terdakwa hanya akan memberikan pelajaran kepada saksi Novel Baswedan dengan melakukan penyiraman cairan air keras ke Novel Baswedan ke badan. Namun mengenai kepala korban. Akibat perbuatan terdakwa, saksi Novel Baswedan mengakibatkan tidak berfungsi mata kiri sebelah hingga cacat permanen," ujar jaksa saat membacakan tuntutan.
(Detik.com)

Jika dengan alasan tidak sengaja bisa meringankan hukuman di negeri ini, maka perzinahan, perampokan juga tindakan kriminal lainnya yang sejauh ini terjadi bisa saja dengan alasan ketidaksengajaan. Jelas, ini adalah bentuk penyelewengan dalam sebuah hukum. Dan bukan keadilan namanya.

Sungguh, kasus ini bukan kasus remeh, karena ini menyangkut nyawa juga pikiran seseorang. Sebab kejadian yang ditimpa oleh korban menyebabkan cacat permanen pada sebelah matanya. Ditambah lagi dengan wajah Novel yang rusak karena air keras.

Bukankah negara ini menjunjung tinggi keadilan bagi seluruh rakyar Indonesia? Lalu dimanakah letak keadilan itu?

Bayangkan saja, jika dicatat tanggal kejadiannya, ternyata kejadiannya sudah lama tapi pelaku baru mengakuinya dengan alasan #tidaksengaja. Seharusnya jika memang tidak sengaja melakukan perbuatan itu sudah dari dulu mereka meminta maaf dan tidak perlu bersembunyi hingga bertahun-tahun lamanya. Inilah permainan hukum di rezim demokrasi, saat pelakunya orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi atau pro terhadap penguasa, maka hukumnya bisa saja melempen atau melemah  begitu saja.

Sangat memprihatinkan.
Kasus ini menjadi bukti bahwa keadilan di negara Indonesia sudah sangat menipis bahkan tak ada.  Terbukti dengan kebobrokan sistemnya yg menghalalkan segala cara termasuk alasan "tidak sengaja" dalam meringankan sebuah hukuman bagi orang2 tertentu saja. Jika hal ini terus diberlakukan maka khawatir rakyat yang berekonomi lemah, tak akan mampu berharap lebih atas keadilan atau keamanan pada diri dan keluarganya.

Seperti halnya kasus yang terjadi kepada masyarakat miskin yang kerab menjadi korban dari penegak hukum yang tidak adil, contoh lain kasus hukum yang paling menjadi sorotan publik adalah kasus nenek Asyani yang berusia 67 tahun, ia tidak pernah menyangka bakal berurusan dengan hukum dan pengapnya terali besi tahanan. 

Kasus nenek Asyani didakwa hanya karena mencuri tujuh batang pohon jati di lingkungan rumahnya, yakni di Desa Jatibanteng, Situbondo, Jawa Timur. Ia pun divonis 1 tahun penjara dengan masa percobaan 1 tahun 3 bulan dan denda Rp500 juta subsider 1 hari hukuman percobaan, atas pengakuannya ia tidak terima. "Saya sudah bersumpah mati tidak ada gunanya, pasti ini ada suap, Saya tidak mencuri, Sumpah pocong, Pak," ujarnya. Padahal pengakuan beliau
pohon jati itu diambil dari lahannya sendiri oleh almarhum suaminya 5 tahun silam.

Sebenarnya ada apa dengan hukum di Indonesia ini? Mengapa hukum yang menganut demokrasi ini sangat tajam ke bawah namun tumpul ke atas? Haruskah kita berharap kepada hukum demokrasi yang tidak adil ini?

Jika demokrasi sudah tak mampu mewujudkan keadilan, maka sudah saatnya kita beralih kepada sistem yang mampu menegakkan keadilan, yakni sistem Islam. Rasulullah sudah mencontohkan bagaimana caranya berlaku adil. Hukuman berlaku atas siapapun. Sebagaimana sabdanya yang berbunyi:

"Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan kaum-kaum sebelum kalian adalah jika ada orang yg mulia (berkedudukan) diantara mereka mencuri, maka mereka biarkan. Namun jika yg mencuri adalah orang lemah, maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yg akan memotong tangannya" (HR.Bukhari-Muslim)

Rasul menegaskan hukum keadilan yang nyata, hingga jika putri Rasul yang bersalah maka juga harus dihukum dengan hukuman yang sama (Adil), semisal jika putri Rasulullah yang mencuri maka Rasul pun juga akan tetap memotong tangan putrinya itu.
Inilah bukti bahwa dlam Islam, hukuman akan ditegakkan seadil-adilnya dan tidak pandang bulu. Wallahu a'lam bish-shawaab.

Oleh: Ulfatun Hasanah, S.E

Posting Komentar

0 Komentar