TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Dilema Pedagang Pasar di Kala Pandemi

                                                                     
Beberapa waktu lalu petugas COVID-19 dari Gugus Tugas Kabupaten Bogor, Jawa Barat diusir oleh ratusan pedagang dan pengunjung pasar Pasar Cileungsi saat hendak melakukan tes masal. Namun suasana yang sempat memanas tersebut berhasil diredam oleh anggota TNI, sebagai petugas gabungan,  dengan memberikan pengertian. Menanggapi hal tersebut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Mike Kaltarin mengatakan bahwa pengusiran itu karena kurangnya edukasi.

"Ya masyarakat masih belum memahami, kita lakukan edukasi kembali kalau itu (pemeriksaan) salah satu untuk memutus mata rantai," kata Mike, (Kumparannews, 11/6).

Pasar merupakan salah satu tempat yang berpeluang menjadi tempat penularan COVID-19. Bertemunya pedagang dan pembeli tanpa protokol yang jelas akan sangat membahayakan keduanya. Menurut Ketua Bidang Keanggotaan DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Dimas Hermadiansyah saat ini terdapat 13.450 pasar tradisional yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dan IKAPPI mencatat sebanyak 529 pedagang positif COVID-19. Kemudian, di antara ratusan pedagang yang positif  tersebut sebanyak 29 lainnya meninggal dunia. Ia akan terus memantau perkembangan kasusnya.

"Kami DPP IKAPPI akan terus memantau perkembangan data kasus di pasar tradisional sambil terus melakukan penyadaran kepada rekan-rekan pedagang agar memperhatikan protokol kesehatan di pasar, dan tentunya kami tidak bisa melakukan ini sendiri. Sehingga perlu bantuan pemerintah dan stake holder yang lain agar tidak ada lagi kasus penyebaran Covid-19 di pasar," pungkasnya. (Okenews. 13/6)

Betapa miris  melihat kondisi pedagang saat ini. Kurangnya edukasi dijadikan alasan ketidakpatuhan mereka. Bukankah rakyat berhak mendapat edukasi agar terhindar dari segala bahaya? Pedagang menjadi dilema, haruskah  tetap berdagang di pasar  atau memilih tinggal di rumah mereka. Sehingga kesehatan dan ekonomi menjadi hal yang salah satunya harus mereka korbankan.

Seharusnya pemerintah tak cukup hanya menyediakan sarana tes dan himbauan agar patuh saja, tapi juga butuh pendekatan agar para pedagang sadar protokol kesehatan.Dan yang tak kalah penting adalah pemberian jaminan pemenuhan kebutuhan sehingga mereka  tidak memaksakan untuk berjualan yang  berisiko besar terhadap sebaran COVID-19.  Serta harus ada sanksi tegas yang dijalankan oleh aparat setelah edukasi memadai. 

Namun semua paham bahwa watak sistem kapitalisme memang meniscayakan negara hanya sebagai regulator saja, tidak langsung mengurusi dan menjamin semua urusan rakyatnya. Ada untung dan rugi yang menjadi landasan di setiap kebijakannya. Berbeda dengan Islam yang seperangkat hukumnya mengharuskan negara berperan total  dalam mengurusi urusan rakyatnya. Landasan yang digunakan adalah panduan syara’ yang sudah ditentukan Allah Subhanahu SWT. Rakyat laksana gembala dan penguasa adalah  penggembala yang kelak akan diminta pertanggung jawaban atas gembalaannya. Wallahu ‘alam bishawab.[]

Oleh: Neneng Khosiah

Posting Komentar

0 Komentar