Covid-19 di Surabaya makin Bertambah, Salah Siapa?


Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemprov Jawa Timur (Jatim) mengungkap sejumlah alasan kenapa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bisa diterapkan lagi di Kota Surabaya.

Alasan utamanya adalah karena kasus positif Virus Corona atau Covid-19  di Kota Surabaya kembali tinggi alias makin ganas setelah PSBB berakhir. Kesadaran masyarakat Kota Surabaya untuk mematuhi protokol kesehatan Covid-19 juga dinilai makin kendor setelah tidak ada PSBB.(surya.co.id, 17/6/2020)

Sejak ditetapkan new normal yaitu kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, masjid, sosial, pendidikan dan kegiatan publik lainnya. Otomatis masyarakat Surabaya mulai
memenuhi pasar, mall dan tempat-tempat keramaian.

Di satu sisi memang benar masyarakat Surabaya kurang disiplin tidaksabaran dan cenderung menggampangkan segala sesuatu tanpa dasar ilmu ataupun agama. Tapi mereka juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan.

Dibalik rakyat yang tak mau diatur ada penguasa yang tak kompeten yang tak mampu merumuskan aturan jitu pun tidak konsisten alias plin-plan untuk menjalankan aturan yang dibuatnya.

Padahal untuk menuju new normal life butuh banyak pertimbangan. Pertama, syaratnya harus sudah terjadi perlambatan kasus. Kedua, sudah dilakukan optimalisasi PSBB. Ketiga, masyarakatnya sudah lebih mawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing. Keempat, pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur. Faktanya tak satupun syarat tersebut dapat dipenuhi oleh pemerintah. Secara syariat, manusia wajib memenuhi kaidah kausalitas atau kaidah sababiyah sebelum melaksanakan sebuah pekerjaan.

Bagi orang kebanyakan, berpikir sebelum berbuat adalah keniscayaan apalagi bagi pemimpin sebuah negara. Tokoh-tokoh manajemen saja terbiasa menjalankan POAC (Planning, Organizing, Actuating dan Controlling) pedoman standar dalam bekerja. 

Jadi jika pemerintah mengabaikannya sungguh sebagai rakyat kita wajib bertanya apa sesungguhnya yang menjadi acuan pemerintah dalam menetapkan kebijakan dari statement yang dikeluarkan oleh elit penguasa. Kita paham bahwa mereka lelah menghadapi rakyat dan lebih mengedepankan bisnis.

Maka nyawa rakyat tak lebih berharga daripada kepentingan ekonomi. Padahal para ahli memperkirakan pandemi baru akan mereda September 2020 dengan syarat semua pihak mematuhi physical distancing. Namun apa daya, saat negara tidak pernah hadir untuk memenuhi kebutuhan utama rakyat dan memang sudah menyerah kalah. Buktinya dana bansos dipangkas dari Rp 600.000 menjadi Rp 300.000 atau banyaknya keluhan masyarakat Indonesia akan tagihan listriknya yang tiba-tiba melonjak akibat work from home, belajar dirumah dan sebagainya. Maka akhirnya pemerintah mulai membuka tempat-tempat usaha. Padahal tanpa pembukaan PSBB zona hitam masih menjadi masalah di Surabaya apalagi jika dibuka.

Karena itu saat negara tidak hadir menjaga kita, keluarga dan masyarakat sudah selayaknya kita menjaga diri dan mereka semua dengan selalu berpikir tentang kaidah sababiyah agar kita tidak termasuk orang-orang yang fatalis sekaligus membahayakan orang lain.

Bagi orang beriman yang meyakini bahwa penyakit adalah makhluk Allah, tentara Allah, maka sikap yang harus ditunjukkan adalah menguatkan keimanan pada Allah. Menyandarkan diri hanya pada Allah SWT (tawakal), lalu bertobat sambil mengingat kemaksiatan apa yang telah dilakukan sehingga Allah menurunkan bencana tersebut pada suatu kaum.

Inilah bentuk tawakal yang sesungguhnya 

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. At Taubah: 11)

Namun Allah juga memerintahkan manusia untuk berikhtiar, maka memaksimalkan ikhtiar masih bisa kita lakukan dengan cara lebih banyak diam didalam rumah. Jikalau terpaksa keluar itupun hanya untuk menjalankan kewajiban ataupun dalam upaya belanja memenuhi kebutuhan hidup.

Senantiasa menjaga physical distancing, menggunakan masker, mencuci tangan, dan menghindari berbagai kerumunan saat keluar rumah.

Nabi menyatakan, “Jika kamu melihat bumi tempat wabah, maka jangan memasukinya. Jika kamu berada di sana, maka jangan keluar darinya". Segera bertaubatlah dan terapkan aturan Allah di negeri ini. Semoga Allah SWT segera mengangkat virus Covid-19  ini dari bumiNya aamiin.[]

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar