Corona Semakin Berulah, Siapa yang Salah?


Corona semakin berulah. Penyebaran Corona sampai hari ini masih cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi negara kita masih dalam keadaan tidak baik. Hampir seluruh daerah di Indonesia terdapat kasus penyebaran virus Corona. Salah satu contoh daerah yang terjangkiti corona adalah Cileungsi, Bogor Jawa Barat.

Ada 7 pedagang Pasar Cileungsi, Kabupaten Bogor yang positif terpapar virus Corona (COVID-19). Pasar Cileungsi akan ditutup.

"Malam ini, Ibu Bupati (Bogor Ade Yasin) Menurut Jubir Gugus Tugas COVID-19 Kabupaten Bogor Syarifah Sofiah, ketika dihubungi, Sabtu (30/5/2020) Pasar Cileungsi akan disterilisasi dan disemprot disinfektan. Penelusuran pun akan dilakukan untuk mengetahui warga yang tertular virus Corona. "Kemudian tim surveillance Dinkes (Dinas Kesehatan) diminta untuk melanjutkan mentracking yang kontak erat dengan positif COVID," ungkapnya.

Kemarin, ada 4 pedagang dari Pasar Cileungsi yang positif terinfeksi COVID-19. Lalu pada hari ini, kata Syarifah, ada penambahan 3 pasien positif baru dari kluster Pasar Cileungsi. Bila dijumlah, sudah ada 7 pedagang dari Pasar Cileungsi yang positif terinfeksi COVID-19. (Detiknews.com sabtu, 30/05/2020)

Setidaknya ada dua penyebab yang membuat corona semakin berulah. Pertama, kebijakan pemerintah yang tidak tegas. Kebijakan pemerintah yang tidak tegas membuat rakyat semakin bingung. Ketidaktegasan pemerintah dalam mengambil kebijakan terkait penanganan Pandemi corona hal ini bisa dilihat. Pemerintah tidak memberlakukan lockdown dengan alasan ekonomi dan alasan perbedaan budaya setiap bangsa. Meski ada desakan dari pemerintah daerah untuk melakukan lockdown, namun pemerintah tetap tutup mata dan telinga. 

Setelah tidak diberlakukannya lockdown akhirnya pemerintah mengeluarkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Namun pemerintah memberikan kelonggaran terhadap PSBB. Kelonggaran tersebut dapat dilihat antara lain dengan dibukanya bandara, stasiun, pasar dan lain sebagainya. Hal ini membuat lonjakan penderita Corona semakin bertambah. 

Kedua, kesadaran masyarakat terhadap bahaya virus corona sangatlah rendah. Kesadaran masyarakat yang rendah bisa dilihat dari apa yang dilakukan masyarakat yang tidak sesuai dengan prosedur penanganan untuk memutus mata rantai virus corona. Hal itu diantaranya banyak masyarakat yang dengan entengnya keluar rumah tanpa ada kebutuhan yang penting dan mendesak. Keluar rumah tanpa masker. Berdesak-desakan di pasar atau mall. Hal ini mengakibatkan virus corona semakin berulah dan penyebarannya semakin naik dan meluas. 

Perlu adanya upaya yang serius dari semua pihak baik pemerintah maupun dari masyarakat agar dapat memutus penyebaran virus corona. Sehingga corona tidak semakin berulah di masyarakat. 

Kebijakan pemerintah yang tidak tegas ini sangat berbanding terbalik dengan kebijakan yang diambil oleh pemimpin Islam. Wabah penyakit pernah terjadi di masa Umar Bin Khatab. Beliau tidak akan membiarkan satu nyawa rakyatnya pun menjadi korban keganasan wabah. Dengan sikap yang tegas Umar mengeluarakan kebijakan agar wabah ini segera berakhir. Langkah-langkah tegas Umar dalam memutus mata rantai penyebaran wabah penyakit adalah sebagai berikut:

Dalam kitab Ash-Shahihain diceritakan, suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab Ra mengunjungi negeri Syam. Dia kemudian  bertemu dengan Abu Ubaidah dan sahabat-sahabat lainnya. Umar mendapat laporan bahwa negeri tersebut sedang terkena wabah penyakit, seperti wabah kolera. 

Beliau bermusyawarah dengan mendengar masukan dari para sahabat-sahabatnya dan kaum Muslim saat itu. Abdurrahman lalu berkata, "Saya tahu tentang masalah ini. Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Jika kalian berada di suatu tempat (yang terserang wabah), maka janganlah kalian keluar darinya. Apabila kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, maka janganlah kalian mendatanginya."

Dalam kondisi di tengah merebaknya wabah penyakit ini, Umar bin Khattab telah mengambil keputusan  yang berbobot. Tujuannya tak lain adalah menyelamatkan lebih banyak kaum Muslimin dan manusia secara umum agar tidak dibinasakan oleh wabah penyakit.

Umar telah mempraktikkan sendiri apa yang pernah beliau ucapkan. Yaitu, nasihatnya ketika manusia menghadapi masalah. Pertama, menyelesaikan masalah dengan idenya yang justru semakin merusak. Kedua, menyelesaikan masalah dengan berkonsultasi dan memusyawarahkan kepada yang lebih ahli. Ketiga, bingung dan tidak menyelesaikan masalah, tetapi tidak mau mencari solusi dan tidak mau mendengar saran dan solusi orang lain."

Umar mengambil langkah kedua, dia bermusyawarah meminta pendapat para sahabat dari kalangan Anshar maupun Muhajirin. Intinya, dia melibatkan orang-orang yang dianggap memiliki keahlian karena yang dipanggil adalah para pemukanya.  Apalagi, setelah Umar mendapat penjelasan dari salah seorang sahabat Nabi yang populer yaitu Abdurrahman bin Auf yang menyampaikan bagaimana petunjuk Nabi Muhammad ketika menghadapi wabah penyakit dan bagaimana menyelesaikan dan memutus mata rantai wabah penyakit itu.

Umar sama sekali tidak mengambil langkah pertama selaku orang yang mengambil keputusan yang merusak. Umar juga tidak mengambil langkah yang ketiga yaitu seorang yang bingung ketika menghadapi masalah.

Selain itu, Umar juga memberikan nasihat kepada kita. Bagaimana seorang pemimpin harus mengambil sikap yang tegas untuk menyelesaikan sebuah masalah. Untuk menyelesaikan masalah, seorang pemimpin juga sama sekali tidak diperbolehkan untuk menyepelekan suatu masalah. Karena, jika masalah itu disepelekan dan tidak diselesaikan, maka dampaknya akan terus menerus.

 "Masalah tidak bisa diselesaikan, kecuali dengan ketegasan tanpa paksaan, dan dibarengi dengan cara lembut tapi tidak disepelekan,” begitu kata Umar.

Di sinilah bobot keputusan Umar yang sangat bagus untuk diteladani. Dan, ada satu lagi nasihat Umar dalam mempertahankan eksistensi sebuah negeri. Di mana, dia memilih orang-orang yang terbaik untuk membangun suatu daerah yang dipimpinnya agar tidak rusak.

Selain itu dalam islam masyarakat mempunyai kesadaran yang tinggi dalam menjalankan kebijakan dari pemerintah. Ketaqwaan menjadi pondasi di masyarakat dalam berinteraksi. Lebih dari itu masyarakat Islam memiliki kepekaan indera yang amat tajam terhadap berbagai gejolak di masyarakat. Apalagi jika ada kemungkaran yang mengancam keutuhan masyarakat. Amar ma'ruf nahi munkar menjadi bagian yang paling esensial sekaligus yang membedakan masyarakat Islam dengan masyarakat lainnya.

Oleh: Siti Masliha, S.Pd (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar