TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Corona Belum Usai, Sekolah Anak Terbengkalai


Masih belum ada perubahan,  yang ada kasus yang terinfekai Covid-19 semakin membludak.  Sangat wajar karena kebijakan pemerintah tak membuat penyebaran virus mereda dan kebijakan new normal membuka sub judul baru jumlah penyebaran di Indonesia baik terinfeksi dan meninggal dunia. 

Hampir 1000 anak terinfeksi covid, baik karena tertular ortunya atau lingkungannya. Maka rencana Tahun ajaran baru dengan sekolah new normal akan menghadapi kerawanan masalah tersendiri.

“Tanggal 13 Juli adalah tahun pelajaran baru, tetapi bukan berarti kegiatan belajar mengajar tatap muka. Metode belajar akan tergantung perkembangan kondisi daerah masing-masing,” jelas Hamid seperti dikutip dari laman Kemendikbud (28/5).

Sejalan dengan pernyataan tersebut, ternyata di Surabaya ada 127 anak berusia 0-14 tahun yang dinyatakan positif COVID-19.

Fakta ini diungkapkan Koordinator Protokol Komunikasi, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya, M Fikser. (Kumparan. 1/6/2020)

Bila anak-anak masuk ke sekolah saat pandemi bisakah anak-anak tertib memakai maskernya sepanjang waktu di sekolah, dan bisakah orang tua menjamin anak-anak akan disiplin mengganti masker tiap empat jam pemakaian atau setiap kotor dan basah.

Dan apakah anak PAUD dan SD paham bahaya covid-19 yang ada mereka risih jika di suruh pakai masker saat bermain dan belajar di kelas.  Jangankan anak-anak,  orang dewasa saja masih banyak yang bandel dan enggan menggunakan masker saat keluar rumah. 

Dari sini jelas bahwa dari semua kebijakan yang di buat oleh siatem saat ini tidak pernah benar-benar untuk kebaikan masyarakat,  yang ada semakin menimbulkan masalah baru. 

Solusi Solutif

Solusi new normal life ini jelas tidak solutif mengingat risiko yang akan ditimbulkan. Mengorbankan banyak nyawa untuk menyelamatkan sebagian. Solusi ini juga tidak manusiawi dan sangat jahat, seolah nyawa tidaklah berharga. Padahal dalam Islam satu nyawa saja sangat berharga.

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang Mukmin tanpa haq.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Dilihat dari berbagai sisi, hanya Islam yang mampu menggantikan sistem kapitalisme. Hanya khilafah yang berkompeten untuk mengatur kehidupan manusia tanpa bergantung pada negara lainnya. Maka, sudah sepantasnya kita mencabut kapitalisme dan menggantinya dengan sistem Islam yang rahmatan lil alamin. Wallahu a'lam bishawab.[]

Oleh : Fitri Khoirunisa, A. Md (Muslimah Ideologis Khatulistiwa) 

Posting Komentar

0 Komentar